LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
49


__ADS_3

" Kamu sudah tahu, tentang perjodohan ini?" tanya Raja, yang menetap tajam kearah Gendis.


" Aku baru tahu, saat aku melihatmu di dalam tadi." kata Gendis yang memang tidak tahu tentang anak Cakra buana


" Aku memang tahu pak Cakra, tapi aku tidak tahu dan tidak mengenal anaknya." kata Gendis menjelaskan pada Raja.


Alasan Gendis adalah benar, Raja memang tidak ingin diketahui tentang identitasnya sebagai anak kepala yayasan. Dia tidak bisa menyalahkan Gendis sepenuhnya.


" Aku memang tahu tentang perjodohan itu, tapi aku tidak tahu kalau kau adalah anak pak Cakra." ucap Gendis kembali beralasan, menegaskan kalau dirinya tidak tahu tentang asal-usul Raja


" Iya aku mengerti, semua memang bukan salah mu." kata Raja pasrah.


" Maafkan aku soal tadi, pasti Sinta sangat bersedih ya, dengan sikapku?" ucap Gendis dengan wajah bersalah.


" Iya, Sinta sangat mengkhawatirkanmu. Aku mencegah Sinta, yang ingin masuk kembali ke rumah mu. Karena aku tahu, kau adalah gadis yang angkuh." Raja menyindir Gendis dengan menatapnya malas.


" Maafkan aku, aku sangat merasa bersalah. Bisakah kau mengantarku ke tempat Sinta?" pinta Gendis memohon.


" Ini sudah malam, Sinta tidak akan di ijinkan menerima tamu, oleh kakaknya." kata Raja.


" Kenapa kau hapal sekali, dengan kegiatan Sinta?" tanya Gendis yang curiga pada Raja.


" Sudahlah gak usah di bahas, aku ingin pulang." kata Raja yang langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Gendis.


' Eh tapi, gayanya Raja cool banget. Aku benar-benar terkejut kalau dia adalah anak pak Cakrabuana! "


Batin Gendis menatap nanar punggung Raja, yang pergi meninggalkan nya.


Gendis pun meninggalkan restoran, tempat pertemuan kedua orang tuanya dan Raja.


' Ah andai saja, aku masih gadis. Pasti aku terima perjodohan ini, soalnya penampilan Raja itu keren banget.'


Gendis terus bergumam dalam hatinya, merutuki tingkah nakalnya.


Dia adalah korban, ke egoisan kedua orang tuanya. Seandainya kedua orang tua Gendis, lebih memperhatikan nya. Pasti Gendis tidak akan terjerumus, ke dalam pergaulan bebas.


Uang yang di berikan kedua orang tuanya, malah menjerumuskan dia ke lubang maksiat.


Menyesal tiada berguna, saat ini Gendis hanya butuh teman berbagi. Keluhannya patut di dengar, karena dia terjebak oleh kenyataan jika papa tirinya itu adalah orang yang pernah memboking nya.


****

__ADS_1


Sarah telah memulai pekerjaannya, dia berada di kafe milik Dito. Memilah-milah tugas yang harus di kerjakan. Waktu bekerja nya hanya dua jam, karena Dito memberikan waktu yang fleksibel untuk nya. Karena dia masih harus melanjutkan kuliah, usai bekerja.


Kapan pun Sarah sempat, dia harus menyelesaikan laporan yang telah Dito susun di atas meja kerjanya.


Dito telah merancang ruang kerja untuk Sarah, karena dia hanya ingin Sarah fokus pada pekerjaan nya.


Waktu menunjukkan pukul dua belas, hari ini Sarah telah menyelesaikan mata kuliah akhirnya.


" Sarah, apa ada yang kamu tidak mengerti?" tanya Dito yang baru saja masuk ke dalam ruangan Sarah.


" Masih mudah untuk ku, saat ini." jawab Sarah sambil tersenyum. Dia mencoba mencari perhatian Dito, agar luluh hatinya saat melihat senyuman Sarah.


Tapi Dito telah membentengi hatinya, dia mengikat cintanya hanya untuk Sinta. Jika Sinta yang mulai menyakiti nya, barulah dia bisa membuka hati untuk gadis lain.


Dito menerapkan prinsip itu, karena dia tipe lelaki setia yang tak mudah jatuh cinta.


" Aku ke ruangan ku dulu, kalau ada kesulitan langsung kabari." kata Dito yang langsung pergi meninggalkan ruangan Sarah.


Sarah nampak kecewa, karena senyumannya tak di balas oleh Dito.


Usai mengerjakan laporan, Sarah langsung memberikannya pada Dito.


Seperti nya sedang berbicara dengan kekasihnya. Dia menghentikan langkahnya, lalu bersandar di balik pintu. Menunggu hingga Dito menyelesaikan pembicaraan nya.


Hatinya sedikit sakit, saat mendengar suara Dito, sedang menggoda seseorang di sambungan telepon nya. Seperti nya, kesempatan untuk mengambil hati Dito benar-benar tidak ada. Padahal Dito adalah sosok pemuda, yang sangat dia kagumi. Selain tampan, hatinya juga baik dan perhatian kepada siapa saja.


" Sarah, apa yang sedang kamu lakukan?" Melly menepuk pundak Sarah, yang sedang melamun di depan ruangan Dito.


" Eh Kak Melly, aku ingin memberikan laporan ini, " kata Sarah yang terlihat gelagapan.


" Kamu, kerja sama Dito?" Melly menatap tanya ke arah Sarah, karena setahu dia kalau Sarah adalah anak orang kaya. Salsa selalu membanggakan kekayaannya, lantas kenapa adiknya bekerja?


" Iya, Kak!" jawab Sarah sambil tersenyum pias, dia takut identitas nya terbongkar oleh Melly.


Salsa sang kakak selalu menyombongkan dirinya, dan memamerkan harta yang sebenarnya hanya di paksakan.


" Iya sudah, kamu masuk sana." Melly menatap curiga ke arah Sarah.


" Oh iya, Kak. Aku masuk dulu," ucap Sarah yang langsung mendorong pintu kantor Dito.


Sarah nampak canggung, berhadapan dengan Dito. Karena penampilan Dito sangat berbeda, saat berada di kantor.

__ADS_1


" Dit, " sapa Sarah sambil berjalan menghampiri Dito.


" Kamu sudah menyelesaikan laporan nya?" tanya Dito yang langsung menaruh ponselnya.


" Aku sudah menyelesaikan nya, dan aku harap kau mengeceknya lagi." Sarah menaruh map berwarna merah di atas meja Dito.


Lalu Dito mengambil map berwarna merah, kemudian mengecek lagi sebelum Sarah pulang.


Beberapa menit, Dito memperhatikan kecocokan antara modal awal dan jumlah pembelanjaan. Cukup menguras pikiran, jika harus berurusan dengan neraca keuangan.


Karena Dito hanya setahun, mengenyam pendidikan sekolah kejuruan.


Yang seharusnya dia masih sekolah kelas 12 jenjang SMA.


Selebihnya dia harus mengikuti home schooling, karena dia harus menjaga ibunya yang sedang sakit.


Setelah setahun melaksanakan home schooling, dan mendapatkan sekolah akselerasi. Yaitu sekolah yang menempuh pendidikan hanya dua tahun atau lebih cepat satu tahun dibanding waktu sekolah normal.


" Baiklah, kau boleh pulang," kata Dito yang mengijinkan Sarah pulang ke rumahnya.


" Terima kasih," jawab Sarah.


Tiba-tiba Melly masuk ke dalam ruangan Dito.


" Dit, Sarah bekerja denganmu?" Melly menatap Sarah penuh tanda tanya


Sarah menoleh ke arah Melly, dia terlihat takut jika rahasianya terbongkar. Bisa di marahi oleh Salsa, jika dia bekerja dengan Dito.


" Iya, memangnya kenapa?" tanya Dito. " Dia mau membantu ku untuk menyusun laporan neraca keuangan, yang belum pernah ku pelajari sebelumnya. Jadi apa kakak keberatan?"


" Enggak sih, semua ini kan usaha milik kamu. Buat apa kakak keberatan, lagian Sarah juga pintar, kan?" Melly melirik ke arah Sarah.


" Maaf, Kak. Aku harus pulang, pasti kak Salsa sudah menunggu." pamit Sarah yang langsung berdiri dan meninggalkan Melly dan Dito.


Sarah sudah keluar dari ruangan Dito, dan Melly mulai bergunjing di depan Dito.


" Bukankah, dia anak orang kaya?" kata Melly menyinggung Sarah.


" Kakak, jangan pernah mencampuri urusan orang. Jika pekerjaan nya, bisa membuat dia berdiri sendiri, tanpa merepotkan kedua orang tuanya. Apakah bukan suatu kebanggaan?" sindir Dito melihat ke arah Melly.


Silakan like dan berikan hadiah bunga untuk karyaku.

__ADS_1


__ADS_2