
"Kak, ada apa dengan Sinta?" tanya Raja cemas sembari mendudukkan Sinta ke sofa.
"Besok dia akan operasi usus buntu," jawab Sulis.
"Apa! Operasi usus buntu?" tanya Raja mengulang.
"Ini ada surat dari dokter, besok tolong kamu berikan kepada wali kelas." Sulis memberikan sepucuk surat dokter kepada Raja.
Raja pun menerima surat dokter dari Sulis, lalu membacanya.
"Seminggu kamu gak masuk?" tanya Raja.
"Iya, dia harus istirahat pasca operasi agar cepat pulih." Sulis menjelaskan kepada Raja.
"Sepulang sekolah, aku akan ke rumah sakit," kata Raja.
"Raja, aku tidak ingin merepotkan mu." Sinta menolak penawaran Raja.
"Iya, aku harus menjagamu. Itu adalah pesan dari Dito," ujar Raja memberikan alasan.
Karena Raja sangat mencemaskan kondisi Sinta, makanya dia membuat alibi.
"Sebenarnya aku juga bingung jika harus di rawat di rumah sakit. Pastinya Kak Sulis akan sangat kerepotan," jawab Sinta.
"Sin, aku akan meminta tolong Alya untuk menjagamu," kata Raja
"Raja, bagaimana dengan anak-anak panti?" tanya Sinta.
__ADS_1
"Ada Risma, sekarang dia tinggal di panti," jawab Raja.
"Risma?" tanya Sinta sembari berpikir.
"Iya, kemarin aku ingin ---" ucapan Raja terpotong.
"Sebaiknya Sinta jangan di suruh terus memikirkan urusan yang bukan urusan nya." Sulis teriak dari arah dapur.
Raja pun langsung terdiam, dan tidak lagi meneruskan ceritanya.
"Memangnya kamu mau operasi usus buntu, karena jarang makan?" tanya Raja.
"Iya, karena dia terlalu sibuk dengan masalah orang lain hingga membuat dia lupa makan," sahut Sulis sembari membawakan air putih hangat untuk Sinta
"Maafkan aku," kata Raja dengan raut penyesalan.
"Kak, jangan bikin orang tersinggung." Sinta melirik ke arah Sulis.
"Raja, maafkan kakakku!" ucap Sinta
"Iya, aku gak pernah tersinggung kok!" jawab Raja. "Besok aku akan ke rumah sakit," ucap Raja.
"Terima kasih."
"Sinta, aku menghubungi sejak pagi tapi hape kamu masih ceklist satu."
"Aku lupa membawa hape, karena perutku sudah sangat sakit tadi pagi."
__ADS_1
"Oh, ya sudah! Sebaiknya kamu lekas istirahat, sampai ketemu besok."
Raja pamit kepada Sinta dan juga Sulis.
Sinta bergegas ke kamar nya untuk beristirahat.
"Apa aku harus memberitahu Dito?" gumam Raja sembari mengemudikan sepeda motor nya.
Sinta tak lagi menghiraukan ponsel miliknya. Saat ini tubuhnya sudah sangat lemah dan tidak bisa duduk terlalu lama.
Sinta pun membiarkan ponsel nya tergeletak di atas meja tanpa di aktifkan.
"Sinta, Dito menelpon kakak. Dia menanyakan hape kamu yang gak aktif," kata Sulis yang sudah masuk ke kamar Sinta.
"Hape ku mati," jawab Sinta.
"Tadi kakak bilang sama Dito, kalau besok kamu akan di operasi usus buntu." Sulis melapor kepada Sinta.
"Kakak, aku tidak ingin membuat Dito cemas."
"Dia gak ngomong apa-apa tuh! Malahan telpon nya langsung dimatiin," jawab Sulis.
Sinta hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Pasti Dito akan datang kesini," gerutu Sinta namun tidak di dengar oleh Sulis.
"Sin, memang Dito kalau nelpon selalu gitu ya? Main putus-putus in aja!" ujar Sulis merasa kesal.
"Sepertinya," jawab Sinta. "Karena kakak bilang sama Dito kalau aku sakit, pasti besok dia sudah ada di sini."
__ADS_1
"Apa! Memangnya Dito seperhatian itu sama kamu?" tanya Sulis tak percaya.
"Liat aja besok!" Sinta langsung menutup kepalanya dengan selimut.