
Tiba-tiba bunyi ponsel Dito berdering. Dito pun berjalan menjauh dari Sulis.
'Halo,' jawab Dito.
'Halo, Dit!' sapa Raja melalui sambungan telepon seluler.
'Iya, ada apa Raja?" jawab Dito.
'Apa kau tadi menemui pak Herman?' tanya Raja.
'Iya, tadi aku menemui pak Herman. Memangnya ada apa?' balik Dito bertanya.
'Tidak apa-apa, baru saja aku mendapat kabar darinya.'
'Lalu?' tanya Dito.
'Apa tindakanmu selanjutnya?' tanya Raja
'Hal itu kita bicarakan nanti, saat ini aku berada di rumah sakit. Karena Sinta sedang menjalani operasi usus buntu.'
'Apakah operasinya sudah mulai?' tanya Raja dengan nada cemas
'Maaf, kenapa kau terdengar begitu cemas?' curiga Dito.
'Oh, eh! Bukan seperti dugaanmu, aku hanya terkejut saja. Karena aku berniat untuk menjenguk Sinta setelah pulang sekolah.'
Raja pun terdiam, dia tidak ingin membuat banyak alasan.
'Baiklah, aku akan ke kantor pak Herman untuk mengetahui kabar selanjutnya.'
__ADS_1
Raja pun mengakhiri pembicaraan.
Kemudian Dito pun berjalan menuju ruang operasi.
Sudah hampir tiga puluh menit Sinta berada di dalam ruang operasi.
Sementara Raja sedang dilema, dia ingin sekali melihat keadaan Sinta. Tapi Raja sangat bingung, karena sudah ada Dito di rumah sakit.
Akhirnya Raja pun langsung pulang ke rumahnya.
"Raja, kamu sudah pulang?" tanya Herlina yang tak biasanya berada di rumah pada siang hari.
"Iya," jawab Raja dengan nada malas.
"Nak Raja, bisa kita ngobrol sebentar?" panggil Anggita dari arah ruang tamu.
Raja menghentikan langkahnya, dia pun langsung menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"Iya, ada apa?" tanya Raja dengan suara datar
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Anggita
Raja melirik ke arah Herlina, sebenarnya dia sangat malas untuk bergabung dengan dua wanita sosialita itu.
Tetapi karena Raja ingin mengetahui perkembangan tentang kasusnya, maka dia pun menghampiri Anggita.
"Duduklah," ucap Anggita.
Raja pun duduk di sebelah Herlina, lalu menaruh tas di pangkuannya.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" tanya Raja.
"Tante ingin kamu cepat menikah dengan Gendis." Anggita mendesak Raja.
Raja menaikan sudut bibir atasnya. "Maaf, Tan! Apa belum tahu jika aku--" Raja menghentikan ucapannya. Jika saja Anggita mengetahui tentang berkas Ferdi yang sudah masuk ke penyidik, pasti akan mengacaukan semua rencananya.
"Belum tahu soal apa?" tanya Anggita dengan raut wajah penasaran.
"Enggak, enggak apa-apa! Maaf, sekali lagi jangan pernah mendesak aku untuk menikahi Gendis. Karena memang itu tidak mungkin," ketus Raja.
"Tapi Raja, tante akan malu jika Ferdi menyebarluaskan foto-foto Gendis sama kamu." Anggita berucap dengan wajah mengiba.
"Maaf, Tan! Aku lelah," ucap Raja yang langsung bergegas menuju ke kamarnya.
"Raja..." panggil Anggita.
Sebenarnya Raja sangat malas bertemu dengan Anggita. Dan dugaannya ternyata benar, Anggita akan terus memaksanya untuk menikahi Gendis.
"Jeng, tolong bantu aku agar Raja mau bertanggung jawab." Anggita memohon kepada Herlina.
"Maaf, Jeng! Sepertinya aku tidak bisa membantu, karena Raja dan aku tidak begitu akur." Herlina menyadari tentang perasaan sang anak.
Cakrabuana telah menjelaskan persoalan yang di hadapi oleh Raja. Maka dari itu Herlina tidak ingin lagi salah melangkah. Herlina hanya ingin anak laki satu-satunya kembali kedalam pelukannya.
Sejak Raja tinggal bersama ibu mertuanya, hubungan antara Herlina dan Raja sempat renggang. Karena Herlina terlalu sibuk dengan grup sosialitanya.
Herlina sangat menyesal karena dulu tak pernah ada waktu untuk bersama dengan Raja.
Silakan berikan komentar dan like
__ADS_1