
"Dit, maaf. Aku harus kembali ke Jakarta," tutur Sinta melalui sambungan telepon selulernya.
Sinta merasa hubungannya bersama Dito tidak pernah bisa bersatu. Keinginan Sinta untuk terus dekat bersama Dito, ternyata tidak pernah terwujud. Ada saja hal-hal yang membuat mereka berpisah.
Saat ini Sinta harus menurunkan egonya, karena sang mama harus dirawat olehnya.
"Kapan kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Dito tanpa mencegah kepergian Sinta.
"Besok, aku harus segera pulang. Karena mama sakit," kata Sinta.
"Baiklah," jawab Dito yang lagi-lagi tak ada ekspresi dari suaranya untuk mencegah Sinta pergi.
"Dit, kamu kok gak cegah aku pergi. Sedih gitu," ujar Sinta.
"Untuk apa aku sedih?" jawab Dito yang lagi-lagi membuat Sinta kecewa.
"Iya, sudah. Kalau memang kamu gak mau nerusin hubungan kita, terpaksa aku harus lupain kamu malam ini."
Sinta langsung menutup sambungan telepon selulernya. Dia begitu kesal dengan Dito yang benar-benar tak merespon kepergiannya.
Sinta pun menangis, dia benar-benar tak percaya jika harus berpisah lagi dengan Dito.
"Apa dia udah bosan sama aku? Atau mungkin sudah ada Rinjani?" gumam Sinta sembari menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Akhirnya Sinta tertidur dengan wajah yang sembab, menangisi hubungannya dengan Dito.
Pagi hari pun tiba, Sinta telah menghubungi Terry dan juga kawan-kawan yang kabarnya akan kuliah di Yogyakarta. Tetapi mereka pun tak ada respon untuk mencegah kepergian Sinta.
"Ada apa ya sama teman-temanku?" gumam Sinta yang merasa kecewa karena telah di abaikan.
Sinta pun menghubungi Raja, tetapi tidak juga di jawab.
Sementara Raja sedang sibuk dengan penjemputan kakaknya Putri.
Putri akan datang ke Indonesia pada siang hari, membuat Raja harus menjemputnya di bandara.
Akhirnya Sinta pun berangkat ke stasiun sendiri. Sama seperti kemarin dia akan pergi ke Yogyakarta.
Sinta masih bingung, kenapa saat itu Raja di kejar-kejar oleh orang-orang berbadan tegap?
Apakah Raja pencuri? Tapi kenapa yang mengejar dia adalah orang-orang berstyle rapi.
Sepanjang perjalanan Sinta terus memikirkan Dito yang tidak menghubunginya sama sekali.
"Apa benar Dito ingin putus dari aku?" gumam Sinta dengan raut wajah bersedih.
Ponselnya berdering, Sinta sangat senang sekali. Dia berpikir jika Dito akan menanyakan keadaannya saat ini
__ADS_1
Tetapi saat Sinta mengusap layar ponselnya, ternyata sang mama menghubunginya.
"Mama, aku pikir Dito?"
"Asalamualaikum," sapa Sinta menjawab panggilan telpon dari mamanya.
"Wa'alaikumsalam, Sinta kamu lagi dimana?" tanya sang mama.
"Aku lagi di kereta, kayaknya nanti malam akan sampai di stasiun Senen
"Kalau sudah sampai di stasiun, kamu naik taksi online. Jangan naik ojek motor, nanti kamu sakit." Mama berpesan pada Sinta.
"Iya, Ma. Mama juga jaga kesehatan, jangan sampai sakit," kata Sinta.
Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan, lalu Sinta melihat di layar ponselnya.
Tak ada satupun panggilan dari Dito yang menanyakan keadaannya saat ini. Sinta berpikir jika Dito benar-benar sudah tidak sayang lagi kepadanya.
"Ah, aku gak mau hubungi dia. Nanti malah kegeeran," gumam Sinta yang merasa gengsi untuk mengakui perasaannya saat ini kepada Dito
Sepanjang perjalanan Sinta masih terus memikirkan hubungannya dengan Dito. Apakah akan dilanjutkan ataukah harus putus?
Silakan berikan komentar dan like
__ADS_1