LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Sinta dibully oleh Gendis


__ADS_3

Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.


" Rupanya, masih belum kapok juga." Ejek Raka pada Raja.


Raja hanya terdiam, dan masih menikmati makanannya.


" Sin, nanti pulang bareng aku, ya!" Tawar Raka yang duduk di sebelah Sinta.


" Maaf Raka, aku sudah ada janji." Tolak Sinta yang menggeser duduknya.


" Janji, sama siapa?" Tanya Raka yang makin mendekatkan duduknya.


" Apa perlu aku kasih tahu, semua tentang kehidupanku?" Hardik Sinta yang kesal dengan sikap Raka.


Raka terkejut, melihat sikap Sinta yang menggertaknya. Tidak biasanya, dia di tolak oleh seorang gadis.


" Iya bukan begitu, hanya saja kamu jangan dekat-dekat dengan dia." Kata Raka sambil memagutkan dagunya ke arah Raja.


Sinta menghela nafas kasar, " Huft! Mau kamu apa sih, Raka?" Dengus Sinta.


" Aku cuma mau jadiin kamu, pacar." Sahut Raka yang langsung berdiri dan bersuara lantang.


Seketika para anak gadis, menoleh ke arah suara Raka. Dia begitu percaya diri, menyatakan cintanya.


Sinta merasa jengah mendengarnya, lalu langsung pergi meninggalkan kantin.


" Kamu kenapa, Sin?" Tanya Ayu yang berpapasan denganya. Terlihat muka Sinta sedang cemberut.


Ayu pun berbalik, mengikuti langkah Sinta.


" Sin, tadi aku dengar kamu di tembak Raka?" Tanya Ayu sambil berjalan di samping Sinta. Ayu terus membuntuti Sinta, dan ingin mendengarkan penjelasan langsung darinya.


Langkah Sinta terhenti, kala ada tiga orang anak perempuan menghadangnya.


Gendis dan kedua temannya, menghadang Sinta di lorong sekolah.


" Heh, gadis Jakarta." Tegur Gendis, sambil bertolak pinggang.


Gendis merupakan ketua geng wanita, yang populer di sekolah.


Raka dan Gendis merupakan ketua geng yang terkenal di seantero sekolah.


Kedua orang tua mereka sangat berpengaruh di sekolah.


Ayah Raka, menjabat sebagai kepala sekolah. Sedangkan ibunya Gendis menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.


Karena hal itu, membuat mereka menjadi bebas melakukan bully kepada setiap siswa yang tidak mereka sukai.


Sinta hanya terdiam tak menanggapi, kemudian dia langsung membalikkan badannya.


Namun sayang, kedua teman Gendis dengan cepat maju dan menghalangi langkahnya.


Ayu pun di suruh pergi oleh Gendis, dengan memberi kode mengibaskan tangannya.


Ayu berlari meninggalkan Sinta, yang sendirian menghadapi geng Gendis.

__ADS_1


" Raka uda berpaling dariku, semua itu karena kamu!" Bentak Gendis sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Sinta.


Sinta hanya terdiam, biasanya ada Puput yang selalu membelanya.


Sinta hanya menundukkan kepala nya, dia tidak menjawab satu kata pun pertanyaan dari Gendis.


Karena kesal akhirnya Gendis ingin melayangkan tangannya


" Kamu bisu, hah!" Bentak Gendis, namun saat tangan ingin menampar Sinta langsung di tahan oleh Raja.


" Ih, lepasin." Kata Gendis yang tangannya kesakitan karena di genggam oleh Raja.


Sinta yang memejamkan kedua matanya, pun perlahan membukanya.


" Raja..." lirih Sinta.


" Kau mau apakan Sinta?" tanya Raja dengan tatapan mata yang tajam melihat ke arah Gendis.


" Du, du, du .. ada hubungan apa anak urakan ini dengan Sinta?" cibir Gendis sambil melepaskan tangannya.


Raja langsung mendorong Gendis ke dinding, lalu mengunci dagunya dengan sela jari-jari tangannya.


" Kalau kau mengganggu Sinta lagi, aku tidak akan segan-segan melukaimu. " ancam Raja sambil memukul dinding dengan kepalan tangannya.


Gendis hanya bisa menelan ludahnya karena ketakutan, mendengar ancaman dari Raja.


" Eh, ayo..." Gendis langsung melepaskan tangan Raja. Dan mengajak teman-teman nya pergi dari hadapan Sinta dan Raja.


" Kamu, gak apa-apa?" tanya Raja seraya memegang lengan Sinta.


" Sin, kamu gak apa-apa?" tanya Ayu yang berada di belakang Raja.


" Iya, aku gak apa-apa." jawab Sinta sambil menganggukkan kepalanya.


" Kita kembali ke kelas." ajak Ayu yang langsung menuntun Sinta berjalan menuju kelas.


Sinta masih syok, dengan perlakuan Gendis padanya. Dia hanya terdiam tak bicara, dan tak memperhatikan guru yang sedang mengajar.


" Murid baru yang wajahnya cantik, kamu mengerti dengan penjelasan dari bapak?" Tanya Pak Taufik yang mengajar matematika.


" Sin, kamu di panggil oleh Pak Taufik." Kata Raja menyenggol tangan Sinta


" Eh, iya. " jawab Sinta yang sudah tersadar dari lamunannya.


" Kamu, memperhatikan bapak?" Tanya Pak Taufik dari arah depan kelas.


" Iya, Pak maaf." Kata Sinta yang merasa gugup.


" Coba kamu kerjakan, soal di papan tulis." Perintah Pak Taufik


Kedua mata Sinta, langsung beralih ke papan tulis. Baginya soal matematika sangat lah mudah, segera dia berjalan menuju depan kelas.


Dan mengambil spidol, untuk mengerjakan soal dari Pak Taufik.


Hanya butuh waktu dua menit, Sinta telah menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


" Sudah, Pak!" Jawab Sinta seraya memberikan spidolnya kepada Pak Taufik.


" Terima kasih." Jawab Pak Taufik yang langsung berdiri, dan mengecek hasil jawaban Sinta.


Sungguh mencengangkan, ternyata soal yang di tulis telah di kerjakan semua oleh Sinta.


Padahal tadi dia melihat Sinta sedang melamun. Tapi kenapa dengan mudahnya, dia mengerjakan soal yang belum di jelaskan oleh nya.


" Sinta, kamu ikut les?" Tanya Pak Taufik heran.


" Enggak, Pak." Jawab Sinta.


" Padahal soal yang bapak tulis, belum bapak jelaskan pada teman-teman mu " kata Pak Taufik.


Sinta langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia langsung tersenyum pias, dengan menunjukkan deretan giginya yang putih.


" Nanti kamu temui saya, sepulang sekolah." Pesan Pak Taufik.


" Iya, Pak!" Jawab Sinta sambil mengangguk kan kepalanya.


Semua siswa bertepuk tangan, memberikan selamat pada Sinta karena telah mengerjakan tugas dari Pak Taufik.


" Yeay, udah di kerjain sama Sinta..." Mereka bersorak-sorai.


" Sin, kamu tuh bengong aja bisa ngerjain tugas. Gimana belajar?" Kagum Riska sambil menolehkan kepalanya ke arah Sinta.


" Ah, kamu jangan terlalu memujiku." Kata Sinta dengan wajah yang mulai memerah.


Raja semakin salut dengan Sinta, yang sangat cerdas.


Pulang sekolah, Sinta langsung menemui Pak Taufik.


" Permisi, Pak!" Sapa Sinta yang berdiri di depan ruang guru.


" Oh iya, masuk." Balas Pak Taufik.


" Boleh tahu nama asal sekolah kamu, dulu?" Tanya Pak Taufik seraya membuka laptopnya.


Sinta menyebutkan nama sekolah asal, yang berada di Jakarta.


Pak Taufik pun memeriksa hasil data dari Sinta. Dan betapa mengejutkan baginya, ternyata Sinta adalah murid terpandai di sekolah paling terkenal di Jakarta.


" Kamu, pernah mengikuti Kompetisi Matematika?" Tanya Pak Taufik.


" Pernah, Pak. Hanya saja gagal, karena ulah seseorang." Kata Sinta dengan raut wajahnya yang bersedih.


" Baiklah, kamu boleh pulang." Kata Pak Taufik yang sudah melihat data diri Sinta semasa di sekolah yang lama.


" Terima kasih, Pak. Saya pamit " kata Sinta seraya mencium punggung tangan Pak Taufik.


Sinta pun bergegas pergi, karena Raja sudah menunggunya di parkiran motor.


Saat melewati lorong, Sinta mendengar percakapan suara anak laki-laki di sebelah gudang.


" Raja masih deketin Sinta, padahal kemarin sudah kita keroyok." ujar Tomi.

__ADS_1


-


Silakan like dan komentar ya


__ADS_2