LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 89


__ADS_3

"Kamu jangan lebay gitu, Ja! Biasa aja kali matanya," ucap Sinta seraya memutar kedua bola matanya.


"He, he, he..." Raja terkekeh seraya tersenyum.


"Eh, seperti nya aku pernah melihat jaket itu. Tapi dimana, ya?" Sinta terlihat sedang berpikir melihat jaket berwarna hitam yang di letakkan di atas meja.


"Oh, jaket aku emang pasaran." Raja langsung mengambil jaketnya lalu meletakkan di pangkuannya. Jaket itu mengingatkan Raja pada pertemuan pertama dirinya dengan Sinta, saat di stasiun kereta api.


"Eh, tapi aku benar-benar ingat." Sinta langsung menadahkan tangan nya, "mana jaketmu!" pinta Sinta.


"Untuk apa?" tanya Raja yang terlihat gugup.


"Mau lihat jaket kamu," ucap Sinta memaksa.


"Jaket ku belum di cuci satu bulan, jadi bau!" elak Raja yang menolak untuk memberikan jaket nya.


"Tapi aku ingat, jika orang yang pakai jaket itulah yang menabrakku di stasiun." Sinta langsung memicingkan mata ke arah Raja.


Raja pun pasrah, sepertinya ingatan Sinta tentang dirinya masih sangat jelas.


"Iya, aku yang menabrakmu saat itu. Aku minta maaf," ucap Raja dengan raut wajah menyesal.

__ADS_1


"Dan waktu itu, aku sangat benci dengan orang yang telah menabrakku. Membuat handphone ku hampir saja rusak. Juga kedua lutut ku terluka," ucap Sinta seraya menarik nafasnya karena kesal.


"Maaf," ucap Raja. "Saat itu, aku benar-benar terburu-buru. Karena ada seseorang yang sedang mengejar ku," ucap Raja beralasan.


"Kenapa kamu di kejar-kejar?" tanya Sinta dengan tatapan menyelidik.


"Apa aku harus menjelaskan secara detail?" tanya Raja dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


Karena saat itu Raja sedang di kejar-kejar oleh orang suruhan papanya. Raja tidak ingin pulang kerumahnya, setelah neneknya meninggal.


"Aku hanya bercanda, gak usah serius gitu. Wajah kamu jadi lucu, tau!" ledek Sinta.


"Oh, aku pikir kamu mau tahu banget," ucap Raja seraya menggaruk-garuk kepalanya.


"Ibu Anggita, mamanya Gendis ingin menjodohkan aku dengan anaknya." Raja menjelaskan.


"Lantas, kamu menerima?" tanya Sinta.


"Enggak! Dan aku menolak Gendis. Tapi sepertinya dia gak terima," ucap Raja.


"Baiklah, selebihnya urusan kamu. Aku gak mau ikut campur, hanya saja aku cuma ingin menyampaikan perasaan sahabat ku, Terry." Sinta menekankan.

__ADS_1


"Iya, akan aku pikirkan," balas Raja.


Setelah membicarakan masalah asmara Raja, Sinta langsung melihat keuangan kafe.


Seluruh pegawai telah mengenal Sinta, karena sebelumnya Raja memang sudah memberitahu semua karyawan. Raja memperkenalkan Sinta sebagai tunangan Dito, yaitu pemilik kafe. Padahal tadinya mereka berpikir jika Sinta adalah pacarnya Raja.


Usai menyelesaikan tugas, Sinta dan Raja pamit kepada seluruh karyawan.


"Aku antar pulang," ucap Raja.


"Tidak perlu, aku akan pulang naik angkot saja." Sinta menolak ajakan Raja.


"Tapi--"


"Ja, aku bukan anak kecil yang terus di temani." Sint memotong ucapan Raja.


"Baiklah, jaga dirimu." Raja pun pergi meninggalkan Sinta.


Sinta segera bergegas menuju jalan raya, dia mencari angkot jurusan ke arah rumahnya.


Namun tetap saja, dari arah belakang angkot, Raja tetap mengikuti Sinta. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Raja, yang selalu ingin melindungi Sinta.

__ADS_1


Sinta pun menoleh ke arah belakang mobil, karena dia duduk persis di dekat kaca mobil belakang. Dia hanya ingin mengenang masa-masa di saat mengenal Dito. Saat itu Sinta benar-benar bingung dengan perasaannya, hingga membuat keduanya semakin memantapkan hubungan ke jenjang pertunangan.


Silakan like dan berikan komentar mu


__ADS_2