
" Raja, " panggil Gendis yang melihat kepergian Raja.
Raja tak menghiraukan panggilan Gendis, dia tetap melangkahkan kakinya keluar kamar
" Semoga lekas sembuh, ya! " Gendis tersenyum ke arah Dito.
" Ih Gendis, kamu jangan godain pacar aku. " Sinta merajuk, sambil mengerucutkan bibirnya.
" Enggak kok, mana mungkin aku menggoda pacar sahabat ku. " Gendis langsung merangkul pundak Sinta.
Kini Gendis menjadikan Sinta sebagai sahabat nya. Dan Sinta senang sekali, saat Gendis mau menerima dia sebagai sahabatnya.
" Sin, aku keluar dulu. " Gendis meminta ijin pada Sinta, " mau lihat Raja, " ucapnya dengan nada suara yang pelan, seraya mengedipkan satu matanya.
Gendis pun keluar dari kamar, dan menghampiri Raja.
" Sin, seperti nya temanmu menyukai Raja, " ucap Dito.
" Kamu tahu darimana? " tanya Sinta.
" Sinta, apa kamu masih gak bisa peka juga sama perasaan orang? " Dito terlihat menggelengkan kepalanya.
Sifat kekasihnya masih belum berubah, yang tak pernah peka terhadap perasaan seseorang. Tapi Dito juga beruntung, hal itu membuat Sinta tak pernah tergoda oleh pemuda yang mendekati nya. Sehingga Dito percaya, jika Sinta tak akan bermain hati dengannya.
Melly masuk ke dalam kamar, bersama Sarah.
" Kak, aku mau menemani Dito, " ucap Sinta yang langsung berdiri saat melihat Melly dan Sarah masuk ke dalam kamar.
" Memangnya kamu gak capek? " tanya Melly.
" Enggak, Kak! " jawab Sinta.
" Oh ya udah, kakak sama Sarah akan pulang. Kalau kamu butuh sesuatu, langsung telpon kakak. " Melly memeluk Sinta.
Sinta merasa senang, saat Melly memeluk nya. Karena dulu hubungan mereka tidak baik, karena kehadiran Mira.
Melly dan Sarah pun pamit pada Dito. Mereka akan pulang ke rumah, dan besok akan kembali lagi.
Hari sudah menjelang malam, Sinta menghampiri teman-temannya yang berada di luar kamar.
" Aku akan menginap di sini, " ucap Sinta yang memberi tahu teman-temannya.
__ADS_1
" Kamu gak apa-apa sendiri? " tanya Gendis yang mendekati Sinta.
" Iya, aku ingin menemani Dito. "
" Aku juga mau di sini. " Raja menyela pembicaraan mereka.
" Raja, kamu mau tidur dimana? " Putri terlihat mencemaskan adiknya.
" Aku bisa tidur di bangku, " jawabnya.
" Raja, sebaiknya kamu pulang. Nanti kamu sakit, dan gak bisa nemenin aku lagi. " Sinta mendekati Raja.
" Iya, Ja. Besok pagi kita kembali lagi ke sini. " Raka memberi usul.
Namun Raja kekeh ingin menemani Sinta, dia sangat mencemaskan Sinta.
" Kalian pulang saja, biar aku yang menemani Sinta di sini. Kalau dia lapar, aku akan membelikan makanan untuk nya. " Raja memberikan alasan.
" Ja, makanan di kamar Dito sudah banyak. " Putri menjelaskan pada Raja.
' Kenapa kalian menyuruhku pulang, padahal aku ingin menemani Sinta di sini, kalian benar-benar tidak mengerti perasaan ku, " gumam Raja sambil berpikir cara yang tepat untuk menemani Sinta.
" Raja, sebaiknya kita pulang! " ajak Putri seraya menarik tangan Raja.
" Baiklah, kita pamit pada pacarnya Sinta. " Raka langsung masuk ke dalam kamar rawat.
" Raja, kamu jangan keras kepala. Sinta bersama pacarnya, jadi kamu gak usah gangguin dia. " Gendis menegaskan pada Raja.
Gendis sangat tahu, jika Raja mempunyai rasa dengan Sinta. Dan Gendis harus menyadarkan Raja, agar jangan menjadi orang ketiga dalam hubungan antara Dito dan Sinta.
Raja pun menurut, dia langsung masuk ke dalam kamar Dito lalu pamitan.
Mereka pun berpamitan pada Dito, lalu kembali pulang ke rumah Putri.
Raja terlihat tak rela meninggalkan Sinta, dia sangat mencemaskannya.
Namun hal itu harus dia tepis, karena kini Sinta telah bersama kekasihnya.
" Sin, sebaiknya kamu tidur. Dan jangan banyak bergadang, " pesan Raja pada Sinta.
" Ja, kamu gak usah khawatir. Tak usah kamu suruh tidur, dia akan langsung tertidur dengan sendirinya, " ucap Dito menyahut.
__ADS_1
Kedua mata Raja langsung melirik ke arah Dito, seraya senyum dengan terpaksa.
" Aku Raka, ternyata kamu lebih tampan dari aku. Pantas saja Sinta tak pernah bisa aku rayu, " canda Raka seraya tersenyum.
" Terima kasih, kalian sudah menjaga Sinta. " Dito tersenyum ke arah teman-teman Sinta.
Setelah bersalaman, mereka pun keluar dari kamar rawat inap. Sinta mengiringi kepergian mereka sampai ke arah lift.
" Kami pulang dulu, " ucap Gendis sambil memeluk Sinta.
" Hati-hati, " ucap Sinta yang juga membalas pelukan Gendis.
Sinta pun berjalan menuju kamar Dito, dia pun langsung duduk di sebelah Dito.
" Kamu udah, ngantuk? " Dito bertanya pada Sinta.
" Sebenarnya sudah, cuma kamunya belum tidur, " jawab Sinta seraya memainkan tangannya di rambut bagian depan Dito.
" Ya udah, kamu tidur aja! " ucap Dito seraya mengusap pipi Sinta.
" Aku gak bisa tidur, " jawab Sinta.
" Ya udah, kamu minta obat tidur aja sama dokter. " Dito meledek Sinta.
" Ih, kamu nyuruh aku minum obat tidur, biar kamu bisa ngapa-ngapain aku gitu? " Sinta mengerlingkan kedua matanya.
Dito hanya bisa menghela nafasnya, saat Sinta salah paham dengan maksud perkataannya.
" Memangnya, kamu mau aku apain? " balik Dito bertanya.
" Ish awas aja, kalau kamu nyubit hidung aku. Atau kamu cubit pipi aku, atau kamu-- " ucapan Sinta terhenti saat Dito menyelanya.
" Mau cium kamu, " ucap Dito seraya tersenyum ke arah Sinta.
" Ish, kamu ... " Wajah Sinta menjadi merah merona, saat Dito menyela perkataannya.
Sinta langsung bergegas menuju sofa, yang terletak di depan tempat tidur Dito.
Sinta mendudukkan dirinya di sofa, sambil melihat Dito dengan mengerucutkan bibirnya.
" Kamu jangan ngambek gitu, dong! " Dito meledek kekasihnya.
__ADS_1
Sinta langsung membaringkan tubuhnya ke sofa, dengan membelakangi Dito.
Sungguh menggemaskan, Dito melihat kekasihnya yang sedang merajuk. Dia merasa bahagia, saat kedatangan kekasih pujaannya.