LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Tamat


__ADS_3

Sesampainya di stasiun Senen, Sinta langsung melihat aplikasi ojek online. Segera dia mencari driver taksi online sesuai pesan dari mamanya.


"Pak, sesuai aplikasi."


Sinta telah naik taksi online, kemudian dia langsung merebahkan tubuhnya untuk mengistirahatkan otaknya.


Saat ini otak Sinta sedang bekerja keras untuk mengatasi semua permasalahannya.


"Dek, uda sampai."


Supir taksi online itu pun mencoba membangunkan Sinta yang sedang tertidur. Seperti biasa, Sinta adalah gadis yang mudah tertidur jikalau kedua matanya telah mengantuk.


"Ah, iya. Maaf Pak, aku ketiduran."


Sinta langsung terbangun lalu membuka sabuk pengaman yang masih mengunci dirinya.


"Ini ongkosnya," kata Sinta seraya memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi online.


"Terima kasih, Dek."


Sinta pun keluar dari mobil dan mengambil kopernya yang di taruh di bagasi belakang.


"Sudah, Pak." Sinta telah mengeluarkan semua barang-barang yang berada di belakang bagasi.


Sinta lupa, jika perjalanan menuju rumahnya tidak bisa masuk mobil. Hingga mengharuskan dia berjalan kaki untuk sampai ke rumah.


"Huft, lelah."


Sinta menyeka keringatnya, karena lelah berjalan sembari membawa dua koper di tangannya. Sebenarnya tidak membawa, melainkan menariknya karena kedua koper itu mempunyai roda kecil di bagian bawah.


"Sin, kamu uda pulang?" tanya Fadli yang kebetulan sedang mencuci motornya.


"Iya," jawab Sinta sembari tersenyum meringis.


"Kamu sendirian aja?" tanya Fadli yang langsung menghampiri Sinta.


"Penglihatan kamu gimana?" tanya Sinta dengan nada ketus.


"Aku pikir Dito yang mengantarmu," kata Fadli.


"Sudah, ah. Aku mau pulang," kata Sinta yang kembali menarik dua kopernya.


Fadli pun tidak membantunya untuk membawakan koper.


Sinta merasa sangat kesal melihat semua orang dihadapannya.


"Ada apa sih sama semua orang?" gumam Sinta

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, Sinta bingung dengan adanya tenda biru. Seperti ada yang sedang berkabung, dan membuat Sinta bingung.


Seketika Sinta berpikir jika tenda biru seperti itu menandakan jika ada yang sedang berkabung.


Apakah ada seseorang yang meninggal di rumahnya? Sinta bingung dan berpikir jika mamanya memang sedang sakit.


Pikir Sinta, apakah sang mama tidak ada umur?


Seketika Sinta langsung melepaskan koper, lalu berlari masuk ke dalam rumah.


"Mama..." Sinta mencoba memanggil mamanya sembari menggedor-gedor pintu rumah.


"Mama," ucap Sinta sembari menangis memikirkan sang mama yang pergi begitu cepat.


"Mama..." teriak Sinta.


Pintu pun terbuka, terlihat mama yang sedang berdiri di hadapan Sinta


"Mama, apa semua baik-baik saja?" tanya Sinta dengan ekspresi cemas.


"Iya, memangnya ada apa?" tanya mama


"Aku melihat ada tenda khas orang meninggal di depan."


Seketika kening sang mama mengernyit, dia tidak tega memberitahu yang sebenarnya kepada Sinta.


"Sebenarnya, semua ini adalah ide Sulis." Mama berucap dengan gugup.


"Sinta, selamat datang kembali di Jakarta."


Ketiga teman Sinta yaitu Terry, Ningsih dan Puput pun menghampirinya.


"Kalian, kok bisa ada di sini?" tanya Sinta dengan raut wajah bingung.


"Sinta..." panggil ayah Dito yang juga hadir menyambut kedatangan Sinta.


"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Sinta


"Dito ingin cepat-cepat melangsungkan pernikahan, jadi kami kerjain kamu dulu." Terry berbisik di telinga Sinta.


"Apa!" Sinta terkejut mendengar penjelasan Terry.


"Sinta, ayo masuk." Sulis langsung memeluk lengan Sinta lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Kak Sulis, apa yang telah kamu lakukan?" tanya Sinta yang sudah duduk di sofa.


Kemudian Dito pun hadir di hadapan Sinta.

__ADS_1


Sinta dan Dito di biarkan berdua untuk membahas hal pernikahan pada esok hari.


"Sinta, aku harap kau mau menjadi istriku." Dito menyerahkan cincin emas kepada Sinta.


Sinta langsung memalingkan wajahnya, dia bingung apa yang harus dikatakan.


Padahal saat ini dia hanya ingin meneruskan sekolah ke jenjang perguruan tinggi.


"Tapi aku mau sekolah dulu," kata Sinta mencoba menolak.


"Kamu bisa sekolah saat telah menikah, saat ini aku hanya tidak ingin berpisah lagi denganmu." Dito menyematkan cincin ke jari manis Sinta.


"Eh, jangan maksain."


"Tapi kamu suka 'kan!" ujar Dito dengan senyuman menggoda.


"Sin, aku mohon kita menikah," pinta Dito seraya menyatukan kedua tangannya.


Sebenarnya Sinta pun tidak ingin kehilangan Dito. Akhirnya dia memutuskan menerima pinangan Dito.


"Baiklah, aku terima." Sinta pun mengulas senyum bahagia.


Semua teman-temannya berkumpul di rumah Sinta.


Gendis, Raja dan Raka pun datang karena mereka tadi bersembunyi di rumah Fadli.


Sarah dan Putri pun datang, begitu juga dengan Rendi.


Besok adalah acara pernikahan Sinta dan Dito.


Sulis yang menyiapkan semua kebutuhan untuk pernikahan sang adik.


***


Acara pernikahan dimulai, Dito mulai mengucapkan ijab kabul.


Acaranya begitu meriah, dihadiri semua teman-teman Sinta yang berasal dari sekolah di Jakarta.


Sinta dan Dito telah menjadi pasangan yang sah di mata hukum dan agama.


Semoga mereka bisa hidup bahagia.


Terima kasih telah menyimak cerita aku ya sobat. Semoga kalian terhibur.


Maaf jika ada salah kata.


Akhir kata

__ADS_1


Wassalamu'alaikum.


Salam author Febti Selasanti


__ADS_2