LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
36


__ADS_3

Bel berbunyi, tandanya istirahat telah berakhir. Seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing, untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


" Sin, tadi?" tanya Raja ragu.


" Gak usah bahas, gak penting buat kamu." ketus Sinta yang menyela ucapan Raja.


Raja pun terdiam, tak lagi menegur Sinta sampai jam pelajaran berakhir.


Satu jam kemudian, bel pulang berbunyi.


" Sin, kamu jadi ikut ke gerai ke dua?" tanya Raja.


" Oh, maaf. Hari ini aku akan mengantarkan orang tua ku pulang ke Jakarta." kata Sinta sambil merapikan bukunya.


" Oh, ya sudah besok saja." kata Raja yang bangun dari duduknya dan akan melewati Sinta.


" Raja, aku belum mencatat nomor telepon mu." kata Sinta sambil mendongakkan kepalanya.


Lalu Raja mengambil pulpen yang berada di tangan Sinta. Kemudian dia mencatat nomor ponselnya, di buku tulis.


" Ini nomor nya." kata Raja, " Ya sudah, aku mau pulang." kata Raja.


Sinta langsung bangun, dan menyingkir dari bangku.


Raja pun berjalan menuju pintu keluar, saat melewati jendela dia menoleh ke arah Sinta.


Masih tak menyangka dengan sifat Sinta yang sulit untuk di tebak.


Pantas saja Dito sangat sayang padanya, sungguh menggemaskan. batin Raja sambil menyunggingkan senyumnya.


Sinta pun keluar dari kelas, dan sudah ada Raka menunggunya.


" Sinta, aku akan membantu mu." kata Raka yang memberi semangat pada Sinta.


Sinta pun tersenyum melihat Raka, yang begitu perhatian padanya.


" Ugh...." ledek Panji dan Tomi bersamaan.


" Hush, jangan ngeledek aja kerjanya." kata Raka sambil mengusap muka kedua temannya.


Terlihat Gendis yang berada di lantai atas sangat kesal, melihat Raka sedang menggoda Sinta.


" Awas kamu Sin, aku akan segera menyingkirkan mu." batin Gendis sambil mengulas senyum licik.


" Dis, ayo pulang." Ajak Risma sambil merangkul Gendis.


Mereka pun pulang dan berjalan menuruni anak tangga.


****


" Dito, aku tidak mengerti jalan pikiran kekasih mu. Mengapa dia rela menolong orang lain, dan mengorbankan dirinya?"


Pesan terkirim untuk Dito, dan beberapa menit kemudian langsung di baca olehnya.


" Apa maksudnya?"


Tanya Dito, yang penasaran dengan pesan yang di kirim oleh Raja.

__ADS_1


" Dia membuat perjanjian, soal nilai akhir semester. Jika dia kalah akan keluar dari sekolah."


Kata Raja melaporkan pada Dito.


" Kekasih ku memang baik hati, dia suka menolong orang."


Kata Dito yang memuji Sinta.


" Hanya saja, hal itu tidak masuk akal. Hanya karena ingin menghentikan siswa yang sering membully teman lainnya. Sinta mengorbankan dirinya."


Kata Raja memberikan penjelasan.


" Biar saja, aku rasa kalau soal pelajaran, tak perlu mencemaskan nya "


Kata Dito yang yakin akan kepintaran kekasih nya.


" Masalah, gadis itu adalah anak dari wakil kepala sekolah. Bisa saja dia menyabotase hasil ulangan."


Kata Raja yang sangat mencemaskan soal status orang tua Gendis.


Dito jadi teringat saat kasus Mira, yang telah membuang jawaban Sinta sewaktu kompetisi matematika.


" Iya, Sinta pernah juga di sabotase oleh orang soal kompetisi matematika."


" Aku harus mencegah Sinta, dia tidak harus menerima perjanjian konyol itu."


Kata Raja yang sangat mencemaskan Sinta.


" Kenapa kau sangat takut Sinta pindah dari sekolah itu?"


Dito curiga pada kecemasan Raja.


" Maaf, aku hanya ingin menjaganya sesuai permintaan mu."


Ketikan Raja untuk mengalihkan pikiran Dito tentang nya.


" Baiklah, aku minta kau tetap menjaga Sinta. Karena dia tipe gadis yang keras kepala. Jika sudah berucap, maka hal itu harus dia lakukan."


" Baiklah."


Kemudian mereka mengakhiri komunikasi nya, Raja melanjutkan perjalanannya menuju gerai dua. Karena hari ini dia akan meminta laporan keuangan


*****


Dito


Dito pun sibuk mencari tempat magang, seperti yang dia katakan pada Sinta tidak bisa menghubungi nya setiap saat.


Pagi ini Dito akan mencari tempat magang, saat akan menaiki anak tangga tiba-tiba Sarah memanggilnya.


" Dito ..." Panggil Sarah yang datang menghampiri nya.


Dito pun menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Sarah.


" Iya..." Jawab Dito.


" Kantor tempat saudara Rossi, sedang membutuhkan orang untuk magang membantu menjadi konsultan keuangan. Apa kau mau melamar di sana?" Tanya Sarah sambil mengaku kedua alisnya.

__ADS_1


Dito nampak berpikir, ada baiknya dia mengajukan surat lamaran. Karena akan membantu nya untuk mengelola usahanya. Setidaknya dia bisa belajar menjadi konsultan keuangan.


" Nanti akan aku pikirkan, saat ini aku akan mengajukan proposal ku. Pasti pembimbing ku sudah menunggu di ruangan nya." Kata Dito, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya. Karena dosen Alfonso bidang kurikulum ilmu ekonomi sudah menunggu nya.


" Baiklah, aku tunggu kabar darimu." Kata Sarah. Kemudian Sarah berbalik, dan menuju kelasnya.


" Bagaimana?" Tanya Rossi yang berdiri di balik tembok.


" Dia masih pikirkan, tapi aku harap dia akan menerima tawaran ku." Kata Sarah penuh harap


" Bukankah, dia sedang mencari tempat magang?" Tanya Rossi.


" Iya, kemarin dia bilang padaku. Katanya sedang mencari tempat magang, untuk membuat laporan akhir tahun." Kata Sarah.


" Itu akan menjadi keberuntungan untuk mu, aku rasa dia akan menerima tawaran mu." Kata Rossi sambil merangkul Sarah.


" Apakah saudara mu benar membutuhkan orang untuk magang?" Tanya Sarah.


" Mmmm, sepertinya aku mendengar percakapan mereka kemarin." Kata Rossi.


" Lantas, bagaimana jika Dito setuju. Aku harus menghubungi siapa?" Tanyanya.


" Kau bisa menghubungi ku, nanti aku langsung hubungi David." Kata Rossi.


Lalu mereka memasuki kelas, untuk mengikuti pelajaran pertama.


Usai jam pelajaran kedua, bel berbunyi. Seluruh mahasiswa pun keluar dari ruangan kelas.


Dito langsung menghampiri Sarah di kelasnya. Saat Dito berdiri di depan pintu, banyak pasang mata tertuju pada wajah tampan Dito.


Para gadis terlihat tak mengedipkan kedua matanya, saat Dito mencari keberadaan Sarah.


Rossi tersadar, saat kepala nya menoleh ke arah pintu.


" Sarah, ada Dito." Kata Rossi sambil menyenggol lengan Sarah.


Sarah pun langsung berbalik, melihat Dito yang sedang clingak clinguk di depan pintu.


Wajah Sarah tiba-tiba memerah, dan jantung nya berdebar cepat.


" Sarah, kenapa hanya melamun. Cepat hampiri Dito." Bisik Rossi di telinga Sarah dengan mendesaknya.


Lamunan Sarah menjadi buyar, kala Rossi berbisik di telinga nya. Padahal hatinya sedang berbunga-bunga, melihat pangeran tampan sedang mencarinya.


" Sarah..." Panggil Dito.


Sarah menjadi salah tingkah, segera dia berjalan menuju pintu. Para gadis melihat Dito tanpa berkedip pun kecewa, saat melihat Sarah menghampiri nya.


" Siapa pria manis itu?" Tanya Rachel yang berada di sebelah Rossi.


" Dia, teman Sarah dari Indonesia." Kata Rossi.


" Oh, cute banget." Pujinya yang kagum pada penampilan Dito.


Padahal teman sekelas nya, lebih dominan berwajah ala Eropa. Namun ada yang berbeda dari wajah Dito, yang berasal dari keturunan asia.


jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya.

__ADS_1


Aku sarankan Hadiah berupa bunga atau kopi, untuk mendukung karyaku. Terima kasih.


__ADS_2