
"Kamu ceramahnya nanti saja, sekarang ikut aku!" ucap Raja seraya memegang tangan Sinta lalu membawa ke motor nya.
"Raja, jangan di tarik juga! Aku bisa jalan sendiri," protes Sinta mencoba melepaskan genggaman tangan Raja dari tangan nya.
Raja tidak memperdulikan ucapan Sinta, dia pun tetap melangkahkan kakinya ke arah motornya yang terparkir tak jauh dari pohon tempat dia bersembunyi.
"Cepat, naik!" kata Raja memerintahkan Sinta.
"Kamu tuh ya, kerjaannya maksa aja!" keluh Sinta seraya mencebikkan bibir nya.
"Gak usah ngambek, udah cepat naik!"perintah Raja yang sudah duduk di atas motor nya.
Sinta pun naik ke atas motor Raja, lalu memakai helm untuk menjaga keselamatan.
"Udah?" tanya Raja
"Sudah!" balas Sinta
Kemudian Raja pun melajukan motornya meninggalkan area sekolah.
"Raja, kita mau kemana?" tanya Sinta.
"Ke kafe Dito," jawab Raja.
"Kamu ingin curhat apa mau ngecek kafe?" tanya Sinta.
"Keduanya," jawab Raja singkat.
Karena kehabisan pertanyaan, akhirnya Sinta pun terdiam.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Sinta hanya terdiam tak berbicara satu katapun. Sedangkan Raja banyak sekali yang ingin di tanyakan kepada Sinta, namun bukan saat di atas motor.
Mereka pun sampai di kafe milik Dito, lalu Raja memarkirkan motornya di area parkiran.
"Selamat siang, kak Sinta!" sapa salah seorang pegawai yang sudah mengenali Sinta.
"Siang, kak!" balas Sinta.
Sinta pun sudah duduk di kursi tempat favoritnya yaitu berada di dekat jendela.
"Mau makan apa, Kak?" tanya pegawai wanita yang bernama Rini.
"Minum es jeruk aja," jawab Sinta. "Ini uangnya," ucap Sinta seraya memberikan selembar uang sepuluh ribu.
Karena harga jus jeruk di kafe milik Dito adalah sepuluh ribu satu gelasnya. Sinta bukanlah gadis yang aji mumpung. Tetapi dia tidak ingin menggunakan status nya sebagai pelanggan bukan sebagai pemilik. Karena setiap menu yang di pesan pasti akan ada pertanggungjawaban pegawai dalam perhitungan di mesin kasir.
"Kak, gak usah bayar." Pegawai itu pun menolak uang pemberian Sinta.
"Aku pelanggan, bukan pemilik!" ucap Sinta menolak.
Dan dengan terpaksa sang pegawai menerima uang dari Sinta.
"Baiklah," ucapnya yang merasa tak enak hati.
"Sin, aku harus bertanggung jawab pada sesuatu yang tidak pernah aku lakukan." Raja memulai pembicaraan.
"Maksud kamu?" tanya Sinta.
"Gendis memberikan foto visum kepada papa, saat kasus papa tiri nya." Raja dengan serius menceritakan kepada Sinta.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Sinta selanjutnya.
"Lalu papa percaya, kalau aku telah tidur bersama Gendis. Dan aku harus bertanggung jawab karena adanya bukti foto yang telah di sabotase oleh Gendis."
Sinta mengingat-ingat lagi kejadian saat menolong Gendis yang telah di perkosa oleh papa tiri nya.
"Aku masih menyimpan foto-foto itu," ucap Sinta
"Bantu aku," pinta Raja
"Caranya?" tanya Sinta.
"Ya, bantu aku! Masa kamu gak bisa mikir?" tegas Raja.
"Ish, aku di suruh mikir lagi sama urusan yang bukan urusan ku," cibir Sinta.
"Karena Terry sudah menjadi pacarku saat ini, dan aku tidak ingin membuat dia kecewa." Raja menegaskan kepada Sinta.
"Jadi kalian berdua sudah jadian?" tanya Sinta.
"Iya, hal itu yang ingin Aku cerita kan juga."
"Jadi kamu mau cerita yang mana dulu?" tanya Sinta yang bingung.
Raja pun menghela nafasnya, karena telah salah memilih teman curhat saat ini.
"Pertama bantu aku mengatasi masalah Gendis yang telah memfitnah ku," ucap Raja menegaskan
oke guys, dikit dulu ya!
__ADS_1