LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
41


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan orang asing bersama Gendis pun, telah masuk ke dalam apartemen.


Mobil Raja berjalan perlahan, mengikuti kemana orang asing itu memarkirkan mobilnya.


Kemudian Sinta melihat Gendis sudah turun dari mobil, bersama pria asing berwajah Korea berjalan menuju lift.


Mereka dengan tidak malunya berjalan, sambil berpelukan serta berciuman.


" Sinta, kenapa kau mengikuti orang yang sedang berpacaran?" protes Raja.


" Iya tapi, itu bukan seperti pacaran yang biasanya. Aku harus mencegah Gendis, melakukan perbuatan terlarang di apartemen ini." kata Sinta yang sudah keluar dari mobilnya.


Sinta dan Raja pun mengikuti Gendis, yang sudah naik ke dalam lift.


" Lantai 7." kata Sinta yang langsung menekan tombol nomor 7.


" Sinta, apakah yang kau lakukan ini sudah benar?" tanya Raja bingung dengan sikap Sinta yang seperti detektif.


" Percaya padaku." kata Sinta penuh keyakinan.


Mereka pun sampai di lantai 7, dan sungguh mencengangkan begitu banyak ruangan berpintu.


"Kamar, nomor berapa?" tanya Raja.


" Aku, juga tidak tahu." kata Sinta sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Sebaiknya kita berpencar. Apa kau masih ingat dengan wajah laki-laki itu?" tanya Sinta sambil menyipitkan kedua matanya ke arah Raja.


" Apa,.kau sudah tidak waras? Kenapa aku harus mengetuk pintu, satu persatu?" kata Raja sambil menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah, kalau kau tidak mau biar aku saja." kata Sinta yang tidak memberikan pilihan pada Raja.


" Oke, oke aku akan membantumu." Raja terpaksa menuruti keinginan Sinta. Kalau tidak dia pasti akan nekat mengetuk pintu sendirian.


Mulai dari ujung Sinta mengetuk pintu, lalu Raja di seberangnya.


Pintu pertama yang Sinta ketuk, adalah pemilik nya seorang lansia. Dan Sinta pun meminta maaf, karena bukan orang itu yang dicari.


Begitupun Raja, saat pintu pertama yang diketuk adalah milik seorang perempuan yang sedang berkumpul dengan teman sosialita.


Raja pun habis-habisan digoda nya. Dia bergidik ngeri, melihat tante-tante girang yang sedang berkumpul di dalam apartemen.


Disaat pintu kelima, Sinta melihat seorang laki-laki di hadapannya. Sinta pun mengenalinya, dan dialah teman kencan Gendis.


Bahasa yang digunakan, Sinta tidak mengerti yaitu itu bahasa Korea. Seandainya bahasa Inggris, mungkin dia kan memahaminya sedikit.

__ADS_1


Sinta mencoba mengalihkan perhatiannya, sambil melongokkan kepalanya dan melihat sekeliling ruangannya.


Kedua mata Sinta tertuju pada tas Gendis, yang berada di atas sofa, serta bajunya yang sudah berserakan.


Sinta langsung mendorong lelaki itu, hingga dia terjatuh. Segera Sinta berlari, masuk ke dalam kamarnya. Dia mencari keberadaan Gendis.


Sungguh terkejut dirinya, saat mendapati Gendis sedang terikat di atas tempat tidur.


Kedua tangannya, diikat di sisi tempat tidur beserta kedua kakinya. Dan yang paling mencengangkan, tanpa sehelai pakaian.


" Gendis.." panggil Sinta.


Namun sayangnya, mulut Gendis ditutup dengan lakban. Sehingga dia tidak bisa berbicara, hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengangguk kan kepala, menandakan bahwa dia meminta pertolongan.


Saat Sinta mencoba membuka kan tali di kakinya, dia langsung dipeluk dari belakang.


Sinta digendong dan dibawa ke luar kamar, lalu dilempar ke sofa.


" Hai, apa yang kau lakukan dengan temanku?" tanya Sinta yang meminta penjelasan kepada laki-laki asing di depannya.


Laki-laki itu tidak mengerti, dengan bahasa Indonesia. Senyumnya begitu menakutkan, membuat Sinta hanya bisa menelan ludahnya karena takut.


" Ma-u apa kamu?" kata Sinta yang ketakutan sambil memundurkan tubuhnya. Dia merapatkan dirinya ke sofa, karena lelaki itu sedang menghampirinya.


Raja yang belum berhasil menemukan laki-laki itu, tidak melihat keberadaan Sinta.


Segera dia menghampiri pintu, lalu menempelkan telinganya. Dia menggedor pintu, saat mendengar teriakan Sinta.


" Tolong menjauh dariku."


Suara Sinta terdengar, dari balik pintu. Raja pun mencoba untuk mendobraknya.


" Sinta, kau tidak apa-apa?" teriak Raja sambil menendang daun pintu. Namun tak juga berhasil terbuka, karena ukuran pintu yang sangat tebal. Sedangkan tenaga Raja, tidak sanggup menjebol pintu itu.


Sedangkan didalam kamar Sinta mencoba memberontak, dengan menendang ******** laki-laki itu.


Sontak laki-laki itu pun meringis kesakitan, karena telah ditendang senjata pamungkasnya oleh Sinta.


Sinta mengambil kesempatan, saat laki-laki itu lengah. Dia berlari ke arah pintu, dan mencoba mencari pertolongan pada Raja.


Sinta membuka kunci, dan berbarengan dengan Raja yang sedang mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


Saat pintu sudah terbuka, terlihat Raja yang menyelonong masuk. Secepat kilat Raja berlari, dan masuk ke dalam ruangan apartemen.


Sinta bingung melihat Raja yang begitu bersemangat masuk, setelah dia membukakan pintu.

__ADS_1


" Bugh.."


Raja menabrak laki-laki asing, yang ingin menghampiri Sinta.


" Sinta, kenapa kau tidak bilang ingin membukakan pintu?" teriak Raja yang sudah menindih badan laki-laki itu.


" Aku bermaksud meminta pertolongan mu, tapi kenapa kau sigap sekali?" tanya Sinta yang masih bengong melihat kehadiran Raja di hadapan.


Raja pun melawan laki-laki itu, sedangkan Sinta berlari ke kamar untuk menyelamatkan Gendis.


Sinta menutupi tubuh Gendis dengan selimut, lalu membuka ikatan di tangannya. Setelah ikatan terbuka, Sinta langsung mengambil baju Gendis yang berserakan di ruang tamu.


Sinta melihat banyak luka, bekas cambukan di tubuh Gendis.


Sinta ingin bertanya, namun tidak jadi karena melihat Raja yang sedang kewalahan menghadapi pria dewasa di hadapannya.


Segera dia membantu Raja, mencari sebuah benda untuk memukul lelaki itu.


Sinta menuju dapur, lalu mengambil teflon dan berlari ke arah Raja.


Sinta ingin memukul laki-laki itu, namun terhalang oleh Raja. Dalam hitungan ke-3, Sinta melayangkan teflonnya. Dan tepat terkena di kepala laki-laki itu. Seketika laki-laki itu pun pingsan, karena terkena pukulan teflon dari Sinta yang begitu keras.


" Terima kasih. " Kata Raja sambil mengangkat dua jempol.


Segera Sinta menghampiri Gendis, yang masih kesulitan memakai baju.


" Kau tidak apa-apa, Gendis?" tanya Sinta sambil mengaitkan bra milik Gendis.


Gendis hanya menganggukan kepalanya, dia merasa malu pada Sinta.


" Kenapa badanmu, penuh luka cambuk?" tanya Sinta ragu.


Gendis langsung memeluk Sinta, dan dia pun menangis histeris.


" Sinta, maafkan aku." kata Gendis yang memeluk erat Sinta.


Saat Raja akan masuk ke dalam kamar, dia menghentikan langkahnya melihat Gendis tanpa busana.


" Raja, jangan ngambil kesempatan sebaiknya di luar saja." teriak Sinta yang melihat Raja hendak masuk ke dalam kamar.


" Iya, aku sedang mengurus laki-laki itu. Dan ingin mengambil tali di dalam, untuk mengikatnya." kata Raja yang sempat melihat tali di sudut tempat tidur.


Sinta langsung mengambil tali itu, dan keluar kamar memberikannya pada Raja


Sinta pun kembali dalam kamar, untuk membantu Gendis memakai baju.

__ADS_1


silakan like dan komentar ya.


__ADS_2