
Raka, Raja, Gendis dan Sinta telah bersiap menuju Inggris.
Raka di berikan ijin, karena pengaruh Raja. Raja memberikan alasan, jika ingin mengajak Raka menemui kakaknya. Sedangkan Gendis memang di ijinkan oleh Anggita, karena ingin menenangkan pikirannya.
Sementara Sinta memang ingin sekali melihat kekasihnya.
Selama di bandara, mereka berempat menunggu di restoran.
" Sin, apa kamu tahu rumah sakit tempat Dito di rawat? " tanya Raja sambil memakan stik kentang goreng.
" Aku belum sempat menghubungi nya, aku harap Dito baik-baik saja, " ucap Sinta berharap.
****
Dito
Sementara di ruang ICU, terlihat Dito yang masih belum sadarkan diri. Selang beberapa jam usai operasi pada bagian kepalanya, Dito masih belum sadarkan diri.
" Cedera kepala dapat berbentuk memar di otak, retak pada tulang tengkorak, hingga perlukaan di kulit kepala. Prinsipnya, segala bentuk cedera kepala harus ditangani dengan serius dan segera, termasuk perlukaan di permukaan luar kepala. " Penjelasan dokter pada Melly.
Melly terlihat cemas saat adiknya sedang terbaring di ruang ICU. Dia tidak menyangka, jika Dito akan mengalami kecelakaan yang berakibat fatal pada bagian kepalanya.
Dokter belum bisa memprediksi tentang perkembangan kerusakan jaringan pada organ kepalanya. Karena Dito masih belum sadarkan diri, maka tidak ada reaksi dari otaknya.
Sarah, Salsa dan Putri menunggu Melly di depan ruang ICU. Tiba-tiba ponsel milik Putri berbunyi. Menandakan ada pesan yang masuk di aplikasi hijau miliknya.
Putri langsung membaca pesan masuk, yang baru saja dia terima.
' Kak, aku akan ke Inggris. Mengantar temanku menjenguk kekasihnya. '
Putri telah membaca pesan dari adiknya, kemudian dia membalasnya.
' *Kamu langsung datang saja ke apartemen kakak. Sekarang kakak lagi di rumah sakit. '
' Mungkin malam aku akan sampai di sana. '
' Baiklah, jika sudah sampai di bandara langsung kabari kakak*. '
Putri langsung menyimpan ponselnya di kantong celananya.
" Dari siapa? " Salsa bertanya pada Putri yang tadi membaca pesan masuk dari ponsel nya.
" Adikku, dia mau ke sini. " Putri menjawab pertanyaan Salsa.
" Bukankah kamu gak akrab sama adik kamu? " tanya Salsa yang mengetahui kisah Putri. Karena memang mereka sudah berteman sejak dua tahun yang lalu.
" Entahlah, tiba-tiba saja dia menghubungiku, " jawab Putri. " Temannya itu ingin menjenguk kekasih nya. Jadi minta antar adikku ke sini, " jelas Putri.
" Oh, " jawab Salsa sambil mengangguk kan kepalanya.
Karena adiknya akan datang, maka Putri pamit pada Melly.
" Mel, adikku akan datang dari Yogyakarta. Maaf aku tak bisa menemanimu, " kata Putri yang pamit pada Melly.
__ADS_1
" Oh iya, enggak apa-apa. Bantu doa untuk adikku, semoga dia cepat siuman. " Melly memeluk Putri.
" Iya, " ucap Putri membalas pelukan Melly.
" Salsa, Sarah, aku tinggal dulu. " Putri pun memeluk Sarah dan Salsa secara bergantian.
" Iya, Kak. Hati-hati, ya! " ucap Sarah sambil melambaikan tangan nya.
Putri pun pergi dari ruang ICU, dan berjalan menuju mobilnya.
" Sarah, kakak pulang dulu. Karena mata kakak ngantuk, " bisik Salsa di telinga Sarah.
" Iya udah, kakak pamit sama kak Melly. " Sarah berucap dengan suara yang kecil.
Kemudian Salsa pun pamit kepada Melly, dengan alasan ingin mengerjakan tugas sekolah.
" Mel, aku pamit dulu. Mau mengerjakan tugas sekolah, " ucap Salsa beralasan.
" Oh iya Sa, terima kasih kamu sudah mau menyempatkan menunggu adikku. " Melly langsung memeluk Salsa.
" Semoga adikmu lekas pulih, " kata Salsa yang membalas pelukan Melly.
Kemudian Salsa pergi meninggalkan Melly dam Sarah, karena matanya mulai mengantuk.
" Sar, kamu gak pulang juga? " sindir Melly dengan nada ketus.
" Enggak, Kak. Aku mau melihat Dito membuka mati. " Sarah berucap sembari tersenyum tipis.
Tenaga medis berkumpul di ruang ICU, melihat kondisi perkembangan Dito.
" Tuan Dito sudah tersadar, hanya saja butuh waktu untuk beristirahat. Jangan di ajak berbicara dulu, agar jaringan otot di bagian kepalanya tidak bekerja terlalu keras. Karena dia mengalami gegar otak ringan. " Dokter menyarankan pada Melly.
" Lalu kapan dia akan membaik? " Melly bertanya pada dokter.
" Kita tunggu perkembangan nya, " jawabnya singkat lalu pergi meninggalkan Dito. Karena Dito telah selesai di periksa, dan kini menjalani rawat inap.
" Syukur lah Kak, akhirnya Dito tersadar, " ucap Sarah yang berdiri di belakang Melly
" Iya, " jawab Melly.
****
Sinta dan teman-temannya sudah menaiki pesawat. Mereka duduk di bangkunya masing-masing. Sinta duduk di sebelah Gendis, dan Raja bersama dengan Raka.
Butuh waktu delapan jam, untuk sampai di Inggris. Mereka pun tertidur pulas, sembari menunggu pesawat landing di Inggris.
" Ja, apakah kau kenal dengan kekasihnya Sinta? " Raka bertanya dengan nada suara yang pelan.
" Iya, " jawab singkat Raja.
" Apakah dia tampan seperti ku? " Raka penasaran.
" Dia lebih tampan darimu, dan juga lebih kaya. " Raja memuji Dito.
__ADS_1
" Apakah Sinta matre? " tanya Raka.
" Menurut mu? " Raja balik bertanya pada Raka.
" Sudahlah, " Raka langsung memalingkan wajahnya, lalu memejamkan kedua matanya.
Delapan jam berlalu, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat di London dengan selamat.
" Sin, bangun. " Gendis membangunkan Sinta. Karena memang kedua mata Sinta sulit untuk di bangunkan, dan mudah untuk tertidur lelap.
" Iya, " jawabnya sambil mengusap kedua matanya.
" Kita sudah sampai, " ucap Gendis.
" Sudah sampai di Inggris? " tanya Sinta.
" Iya, " jawab Gendis.
Kemudian Gendis membangunkan Raja dan juga Raka. Mereka berdua tidur sangat pulas, hingga kepalanya menyatu.
" Ja, Ka, " Gendis menggoyangkan tubuh Raja dan Raka.
Keduanya pun terbangun, lalu saling memandang.
" Ish, " ucap mereka berdua berbarengan sembari mengelus lengan dan kepalanya.
" Kenapa kepala mu bisa menempel di kepalaku? " Raka terlihat jijik menatap Raja.
" Bukankah kepala kamu yang duluan, menempel di kepalaku? " ucap Raja membela dirinya.
" Heh, sudah-sudah. Kenapa kalian jadi ribut, sih? " Gendis terlihat kesal, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
" Hey Gendis, tunggu aku! " Raka langsung membuka seat belt nya, lalu berlari ke arah Gendis.
Gendis dan Sinta sudah berjalan terlebih dahulu, menuju pintu keluar pesawat.
" Kalian kenapa selalu bertengkar, sih? " Gendis mendengus kesal.
" Dia yang mulai, " ucap Raka sambil menunjuk ke arah Raja.
Raja hanya menajamkan pandangan ke arah Raka, dia tidak ingin membuat keributan di bandara.
Mereka menunggu taksi, yang akan membawa mereka ke rumah kakaknya Raja.
" Sin, sebaiknya kita ke rumah kakakku dulu. " Raja berucap yang berdiri di sebelah Sinta.
" Iya, aku mau mandi dulu. " Sinta mengiyakan pendapat Raja.
Setelah mendapatkan taksinya, mereka berempat pun naik. Mobil taksi melaju menuju arah rumah kakaknya Raja.
Selang setengah jam, akhirnya mereka sampai di apartemen milik kakaknya Raja.
Silakan like dan berikan komentar mu
__ADS_1