LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
37


__ADS_3

Jangan lupa tap like ya, agar aku semangat update ya.


Jantung Sarah berdegup kencang, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


" Iya, Dit?" Tanya Sarah dengan senyum termanisnya.


" Soal penawaran magang, aku mau." Kata Dito to the poin.


" Oh, baiklah. Aku akan memberi tahu Rossi. Kalau sudah mendapat jawabannya akan ku hubungi kau." Kata Sarah dengan jantung yang berdegup-degup.


" Oke, aku tunggu kabar darimu." Kata Dito, " Aku pulang dulu. " pamit Dito.


" Iya." Jawab Sarah.


Lalu Dito pun berbalik, dan berjalan meninggalkan kelas Sarah.


Datang Rossi dari arah belakang, yang langsung menepuk pundak Sarah.


" Hey, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Rossi.


" Dia menerima tawaranku." Kata Sarah seraya melamun melihat kepergian Dito.


" Wah, aku harus cepat-cepat menghubungi Ricardo." Kata Rossi yang langsung mengambil ponselnya.


****


Raja berada di rumahnya, dia menunggu kedatangan ayahnya.


Cakra buana adalah pengusaha terkenal di kota Yogyakarta. Keluarganya mendirikan yayasan di bidang pendidikan. Mulai dari tingkat TK sampai dengan SMA. Dan saat ini, Cakra sedang di sibukkan untuk bekerjasama membuka perguruan tinggi swasta.


Terlihat mobil Alphard hitam keluaran terbaru, sudah memasuki pintu gerbang.


Raja yang sedari tadi menunggu papanya di teras pun, langsung bangun dari duduknya.


Dengan sabar Raja melihat papanya, memarkirkan mobil di garasi.


Dari kejauhan nampak sang mama yang bernama Herlina, sudah keluar dari mobilnya. Dengan gayanya bak wanita sosialita, berjalan berlenggak-lenggok membawa tas jinjing di lengan kanan dan kiri.


" Anak mama, sudah makan? " Tanya Herlina yang kini berdiri di hadapan Raja.


" Sudah, Mah." jawab Raja.


" Tumben nih, kamu duduk di teras. Pasti ada maunya?" tanya Herlina dengan suara nya yang lembut.


" Ada apa, Mah?" tanya Cakra buana yang berada di belakang Herlina.


" Ini Raja, tumben kok ada di teras!" ucapnya sambil melirik ke arah Raja.

__ADS_1


" Oh, " jawab Cakra yang langsung masuk ke dalam rumah.


Herlina meminta Raja, untuk membawakan paper bagnya.


" Sayang, bawain belanjaan mama dong!" pintanya manja.


Raja dengan malas membawakan paper bag yang berisi belanjaan mamanya.


Herlina menaruh paper bag di atas meja, dan langsung duduk di sofa.


" Sini, sayang. Kamu mau bicara apa?" tanya Herlina yang hafal betul sifat anak bujangnya.


Walaupun Herlina sibuk, dengan kaum sosialita nya. Dia tidak pernah lupa dengan sikap, anak laki satu-satunya.


Raja pun berjalan menuju sofa, dan duduk di sebelah Herlina.


" Aku mau bicara sama papa," kata Raja


" Memang ada urusan apa?" tanya Herlina sambil mengerutkan keningnya.


" Soal sekolah," kata Raja.


" Memang ada apa, dengan sekolah?" tanya Herlina dengan menatap intens ke arah Raja.


" Aku akan bicara sama papa," kata Raja.


" Baiklah, kau tunggu sini. Biar mama panggilkan papa." Herlina langsung bergegas menuju kamarnya.


Kali ini dia akan menggunakan statusnya sebagai anak kepala yayasan. Untuk melindungi Sinta, dari perjanjian nya dengan Gendis.


Selang beberapa menit kemudian, Cakra telah mengganti bajunya. Dia mengenakan piyama, karena hari sudah hampir larut malam.


" Kamu mau bicara sama, papa?" tanya Cakra yang telah duduk di sebelah Raja.


" Iya, Pah." jawab Raja dengan raut wajah yang serius.


" Mau bicara apa?" tanya Cakra.


"Papa tahu Sinta?" tanya Raja.


" Sinta?" Cakra sedang mengingat nama yang di ucapkan oleh anaknya.


" Memang ada apa dengan Sinta?" tanya Cakra sambil menyipitkan kedua mata nya.


" Dia sedang bersaing, dengan Gendis." kata Raja mengadu pada papanya.


Cakra tertegun, sungguh sangat langka untuk nya melihat sikap anaknya yang tiba-tiba mau berbagi perasaan dengannya.

__ADS_1


" Gendis, seperti nya papa juga pernah mendengar namanya." kata Cakra sambil berpikir.


" Dia anak bu Anggita, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan." kata Raja memberitahu.


" Oh, ya seperti bu Anggita sering menceritakan anaknya. Dia selalu mengajak papa, agar kalian mau di jodohkan." kata Cakra yang membahas soal perjodohan.


" Apa?" kaget Raja.


" Iya, hanya saja Gendis tidak mau di jodohkan. Karena dia belum mengenal anak papa," kata Cakra.


" Oh, baguslah!" kata Raja sambil mengelus dadanya.


" Kamu kan pernah berpesan, agar jangan ada yang mengetahui status mu di sekolah." kata Cakra mengingatkan.


Raja hanya tersenyum, dia telah salah menilai papanya. Di balik kesibukannya sebagai pengusaha, ternyata papanya sangat memperhatikan nya.


" Iya, Pah. Terima kasih." ucap Raja dengan tersipu malu.


" Lalu, apa hubungannya Sinta dengan Gendis?" tanya Cakra kembali ke topik persoalan.


" Mereka sedang membuat perjanjian, kalau nilai Gendis kalah dari Sinta maka dia harus menghentikan aksi bully terhadap anak-anak." kata Raja.


" Apa! Gendis suka membully anak-anak?" kaget Cakra mendengar penuturan Raja, "Bukankah ibunya wakil kepala sekolah bidang kesiswaan? Kenapa dia terlepas dari sangsi hukum?" tanya Cakra menyelidik.


" Semua anak-anak, di ancam olehnya. Kalau ada yang mengadu, Gendis akan membuat siswa yang dia bully tidak naik kelas." kata Raja, " Dan rata-rata yang di bully, adalah siswa menengah kebawah. Yang sangat dia tidak sukai." kata Raja.


" Lalu, jika Sinta yang kalah?" tanya Cakra.


" Dia, harus keluar dari sekolah." jawab Raja dengan raut wajah yang lesu.


" Kenapa dia rela melakukan hal itu?" tanya Cakra memandang Raja dengan intens.


" Entahlah, mengapa dia mau menolong orang yang tidak pernah dia kenal." tutur Raja.


" Lantas, apa hubungannya dengan mu? Kenapa kau begitu perduli sekali pada Sinta?" tanya Cakra yang telah melihat perubahan dari sikap anaknya. Raja yang awalnya cuek, dan tak pernah perhatian pada siapapun. Kini menjadi penolong temannya dengan mengorbankan harga dirinya.


Raja memang tertutup, terlebih dengan papanya. Mereka hampir tak pernah bertutur sapa, bukan karena kesibukan masing-masing. Tapi karena Raja enggan menegur papanya.


Alasan itu hanya Raja yang tahu, karena dia begitu banyak memendam perasaan nya. Semenjak kepergian neneknya, membuat dia menjadi anak pendiam dan sibuk dengan urusannya sendiri.


Merasa canggung hidup dengan papa kandungnya, yang penuh kemewahan.


Raja di minta oleh nenek nya, untuk menjaganya. Hidup yang sederhana, membuat dia menjadi pemuda yang tangguh dan tidak manja. Dan saat neneknya meninggal, dia harus kembali pada sang papa. Dengan kehidupan serba ada, namun tanpa kasih sayang.


" Karena..." Raja ragu mengungkapkan perasaannya, jika saja dia bilang menyukai Sinta. Maka akan membuat masalah besar, akan hubungan nya dengan Sinta.


Dia juga akan mengkhianati kepercayaan Dito kepada nya.

__ADS_1


" Karena apa?" tanya Cakra sambil mengerutkan keningnya, "Apa karena kau menyukainya?" tebak Cakra, lalu di sambut dengan ekspresi yang terkejut diraut wajah Raja.


" Bu- bukan, Pah! Dia hanya temanku, dan jika dia pindah maka siapa yang akan mengajari ku matematika?" Elak Raja sambil mengalihkan pembicaraan nya.


__ADS_2