
Terry dan Sinta tak henti-henti berbincang-bincang hingga membuat Raja bosan. Akhirnya Raja menyalakan musik di dalam mobil.
"Heh, Raja. Bisa gak sih kamu kecilin musiknya?" perintah Terry saat mendengarkan lagu rock kesukaannya.
Raja pun menurut, dia mengecilkan volume suara musiknya.
Sesampainya di kampus, Raja memarkirkan mobilnya.
Setelah mendapatkan tempat parkir mobil, Sinta dan Terry keluar dari mobil.
"Kalau kamu kuliah di Yogyakarta, nanti akan tinggal dimana?" tanya Sinta sembari berjalan beriringan dengan Terry masuk ke dalam gedung.
"Aku akan menyewa kostan," kata Terry
Kemudian Sinta berpikir jika teman-temannya pindah ke Yogyakarta demi satu sekolah dengan dia, kenapa dia harus pindah ke Jakarta?
"Sebaiknya aku bilang sama ayah mama, kalau akan kuliah di sini." Sinta berpikir sembari tersenyum.
"Heh, kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Terry yang bingung melihat wajah Sinta.
"Aku hanya berpikir, akan bilang sama ayah dan mama akan kuliah di sini."
"Nah, gitu dong. Masa kita kumpul di sini, kamu malah pindah ke Jakarta."
"Iya, tapi aku harus tinggal dimana? Sementara Kak Sulis menyuruh aku pindah ke Jakarta. Dia bilang aku bukan mahram bang Hasan."
"Kita pikirkan nanti, sebaiknya kita lihat-lihat dulu jurusan di sini."
__ADS_1
Terry dan Sinta berjalan bergandengan tangan menuju meja informasi.
Mereka mengambil brosur yang di letakkan di atas meja.
"Ja, kamu mau kuliah jurusan apa?" tanya Terry sembari menyodorkan brosur kepada Raja.
"Bahasa Inggris," jawab Raja.
"Wah, kita sama dong." Terry terlihat heboh saat Raja menyebutkan jurusannya.
"Jangan heboh juga kali," singgung Sinta seraya memutar kedua bola matanya.
Terry menjadi salah tingkah saat Sinta menegurnya.
Mereka kembali berjalan mengelilingi area kampus. Raja mengikuti di belakang Sinta dan juga Terry.
"Cari kampus yuk, perutku lapar," keluh Terry sembari memegang perutnya.
"Kantin ke kanan," kata Terry
Mereka berjalan menuju ke arah kanan, saat akan berbelok tiba-tiba Rinjani menabrak Sinta.
"Bugh!"
Sinta dan Rinjani pun terjatuh ke lantai.
"Eh, maaf." Rinjani langsung berdiri dan membangunkan Sinta. "Maaf, aku sedang terburu-buru. Karena kelasku sudah dimulai," kata Rinjani
__ADS_1
"Iya, enggak apa-apa."
"Eh, sepertinya kita pernah ketemu?" tanya Rinjani. "Tapi dimana ya?" Rinjani terlihat sedang berpikir.
"Rin, ayo cepat.' Teman Rinjani menarik tangan Rinjani
"Aku duluan ya, maaf sekali lagi maaf." Rinjani menyatukan kedua tangannya sambil membungkuk.
"Iya, kak," jawab Sinta yang melihat Rinjani sudah pergi meninggalkannya.
"Kok dia seperti pernah melihat kamu? Memangnya kalian sudah kenal?" tanya Terry.
Raja yang sedari tadi memperhatikan Sinta bertabrakan dengan Rinjani hanya terdiam.
"Huft, bisa-bisa kedok Dita akan terbongkar," batin Raja
"Entahlah, tapi sepertinya aku mengenalnya. Di--" Sinta kembali mengingat lagi pertemuan Rinjani saat di kantor polisi.
"Ah, iya. Di kantor polisi, yang aku tahu namanya Rinjani apa Dita ya?" tebak Sinta
Raja terkejut saat Sinta menyebut nama Dita
"Dito, kayaknya kamu gak aman. Sebaiknya Sinta kuliah saja di Jakarta," gerutu Raja dalam hatinya.
"Ah, sudah. Sebaiknya kita ke kantin. Perutku sudah sangat lapar."
Terry pun menuntun tangan Sinta dan berjalan menuju ke arah kantin.
__ADS_1
Raja langsung mengambil ponselnya lalu mengetik pesan untuk Dito
Silakan berikan komentar