
hi guys aku harapkan kalian tap like ya jangan lupa komentar.
" Sebenarnya, apa yang telah terjadi?" tanya Sinta dengan rasa keingintahuannya.
" Ini, adalah kerja sampingan ku." kata Gendis sambil menundukkan kepalanya.
" Maksudmu?" Sinta masih belum paham.
Gendis hanya terdiam sepertinya, Sinta memang tidak tahu soal pekerjaannya. Dan bila diperjelas, itu hanya akan mempermalukannya.
" Kalau kau tidak tahu ya sudah, aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku." ucap Gendis yang mengalihkan pembicaraan nya.
" Tapi, kenapa kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Gendis yang sudah memakai bajunya.
" Aku melihatmu di mall, dan rasa penasaran ku melihat kau berjalan bersama laki-laki dewasa. Dan sikap kalian, seperti bukan pacaran pada umumnya." kata Sinta menjelaskan," Lalu aku menyuruh Raja, untuk mengikuti mu. Entahlah, memang feelingku itu tidak bagus. Saat melihatmu berjalan sambil, berciuman." kata Sinta yang menekankan kata berciuman.
" Aku bekerja sebagai simpanan Om-om, Sin." kata Gendis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
" Apa?" Sinta terkejut mendengar penuturan dari Gendis.
" Rupanya klienku kali ini, itu adalah maniak ****." kata Gendis yang mengungkapkan jati dirinya.
Gendis merasa malu, mengungkapkan pekerjaannya pada Sinta.
" Oh." kata Sinta yang hanya ber oho saja.
" Apa kau akan melaporkan kepada teman-teman? Tentang kejadian hari ini?" tanya Gendis dengan raut wajah yang takut.
" Aku, bukan orang seperti itu. " jawab Sinta sambil menatap Gendis dengan tersenyum.
Gendis pun tersenyum lega mendengar jawaban dari Sinta.
" Terima kasih, dan maafkan semua atas perbuatan ku kepadamu kemarin." kata Gendis yang sudah berdiri dan dibantu berjalan oleh Sinta.
Raja telah melaporkan laki-laki asing itu, kepada satpam. Dan mereka pun, membawa Gendis pulang ke rumahnya.
" Raja, ini mobilmu?" tanya Gendis yang terkejut melihat mobil di hadapan nya.
__ADS_1
Gendis tidak pernah tahu, jika Raja adalah anak kepala yayasan. Dia hanya menganggap Raja, adalah anak urakan yang sering bolos sekolah.
" Bukan, ini mobil temanku." elak Raja yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia langsung menjalankan mobilnya, setelah Sinta dan Gendis sudah duduk di jok belakang.
" Gendis, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sinta yang berada di sebelah Gendis.
" Kamu, mau nanya apa?" jawab Gendis sambil memegang badannya.
Tubuhnya masih merasakan sakit, akibat bekas cambukan.
" Kenapa, kau melakukan pekerjaan itu?" tanya Sinta yang menoleh ke arah Gendis.
" Apa, aku harus bercerita kepadamu?" tanya Gendis dengan nada tidak suka.
" Hai Gendis kenapa kau bersikap ketus pada Sinta, bukankah dia telah menyelamatkanmu?" sahut Raja yang sedang menyetir, dia merasa kesal mendengar jawaban dari Gendis.
" Aku sudah berterima kasih kepadanya, tapi bukan berarti aku harus menceritakan kehidupan pribadi bukan?" jawab Gendis.
" Ya sudah, kalau kamu memang tidak ingin cerita. Aku selalu sempat mendengarkan, jika kamu ingin mencari tempat curhat. Cerita mu, pasti akan aman bersamaku." kata Sinta sambil mengelus lengan Gendis.
Sinta kenapa kau terlalu baik banget sih, membuat aku semakin kagum sama kamu. batin Raja sambil melihat Sinta dari arah kaca spion.
Sayangnya kekaguman itu, tidak akan berubah menjadi cinta. Seandainya Sinta belum memiliki kekasih, mungkin saat ini juga Raja akan menyatakan perasaannya.
Lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, bahwa kenyataannya dirinya tidak layak untuk Sinta. Karena di hati Sinta hanya ada nama Dito.
Semua terekam jelas, saat terjadi kesalahpahaman sebelum Dito pulang ke Inggris. Sinta begitu cemas, dan benar-benar ingin memberi penjelasan, bahwa dia tak pernah ada hubungannya dengan Raja.
Mobil Raja, telah sampai di depan rumah Gendis. Saat Raja memarkirkan mobilnya, terlihat Anggita. Dia merupakan ibunya Gendis, yang sedang bermesraan dengan seorang laki-laki lebih muda darinya.
" Mama..." lirih Gendis terkejut, karena selama ini dia hanya tahu dari temannya. Dan saat ini, ini dia melihat langsung ibunya sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang lebih muda darinya.
Gendis langsung keluar dari mobil Raja, dan melabrak sang Ibu yang ingin masuk ke dalam mobil.
" Aku pikir, teman-temanku berbohong. Saat mereka melihat mama berjalan dengan brondong? " hardik Gendis dengan nada emosi, " Tadinya aku tidak pernah percaya, dengan kata-kata mereka. Tetapi kau malah menampakkan hal buruk di hadapan ku. Kau menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya." bentak Gendis sambil menatap tajam ke arah Anggita.
" Gendis, dengar dulu penjelasan mama..." kata Anggita yang ingin menarik tangan Gendis, namun dia tepis karena akan memasuki rumah.
__ADS_1
Anggita mencoba, memberikan penjelasan pada Gendis. Jika laki-laki di hadapannya, adalah suami barunya. Anggita baru saja menikah, sebulan yang lalu.
" Ra-ja." ucap Anggita gagap saat melihat Raja.
" Iya, bu.' jawab Raja yang berdiri terpaku di sebelah mobilnya.
Gagal sudah Anggita ingin menjodohkan anaknya, pada Raja. Pasti di pikiran Raja, dirinya adalah ibu yang tidak baik.
Anggita ingin sekali, menjodohkan Raja dan Gendis. Namun karena peraturan yang menyebutkan, bahwa tidak boleh ada yang membuka identitas Raja. Maka niat menjodohkan anaknya dengan Raja itu, di urungkan nya.
Terlihat Anggita mencoba membuka pintu rumah nya, yang di kunci dari dalam.
" Gendis, " teriak Anggita sambil mengetuk pintu.
Sinta dan Raja saling bertatapan, mereka bingung menyaksikan ibu dan anak yang sedang berseteru.
" Sebaiknya, kalian pulang. Dan terima kasih sudah mengantarkan Gendis." kata pemuda yang sedari tadi berdiri di sebelah mobil nya.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu adalah masalah ibu dan anak.
Sinta dan Raja pun pergi, meninggalkan rumah Gendis.
" Sudah menjelang malam, apa kau tidak akan di marahi oleh Kak Sulis?" tanya Raja sambil menoleh ke arah Sinta dengan sekilas.
" Sepertinya, akan di marahi. Tapi tak apalah, kan aku gak berbuat yang aneh-aneh. Justru kali ini, aku sudah menolong orang. Jadi mau di marahi atau tidak, yang jelas aku lega karena Gendis selamat." kata Sinta sambil mengulas senyum.
" Tapi Gendis, tak pernah menganggap kebaikan mu sejak tadi." kata Raja menatap sendu ke arah Sinta.
" Tak apalah, toh nanti juga dia akan mengerti. Jika aku benar-benar ingin menjadi temannya." kata Sinta penuh percaya diri.
" Apa kau tidak pernah berpikir negatif pada seseorang?" tanya Raja.
" Apa aku, pernah berpikir negatif terhadap mu?" tanya Sinta.
" Kenapa kamu suka sekali, membolak-balik kan omongan sih?" kesal Raja pada sikap Sinta.
" Aku kan ngomong apa adanya, toh semua yang kau tanyakan tak perlu aku jawab, jika kamu sudah tahu jawabannya." kata Sinta.
__ADS_1
Silakan di like dan komentar ya.