
Bel pelajaran kedua pun berbunyi, dan waktu nya pelajaran bahasa Indonesia.
Raja pun masuk ke dalam kelas, usai pak Taufik keluar dari kelas.
" Kamu gimana mau pintar? Pelajaran matematika saja bolos mulu." Sindir Sinta sembari berdiri, untuk mempersilakan Raja duduk.
Raja nampak acuh, dan langsung duduk di bangkunya.
" Ish, " Sinta nampak kesal dengan sikap Raja, lalu dia memalingkan wajahnya.
Bu Aisyah pun datang, dan mulai mengajar pelajaran kedua.
****
Riska dan Ayu serta Sinta pun, berjalan menuju ke arah kantin. Saat di berada di lorong kelas dua, ada Gendis yang sedang membully anak perempuan.
Terlihat seorang anak perempuan sedang, di kelilingi oleh geng Gendis.
Saat Sinta dan teman-teman nya lewat, Gendis langsung berpura-pura manis dan mengusap bahu anak perempuan berkulit gelap, yang berdiri di sebelah nya.
" Gendis, bisa temani aku ke kantin?" ajak Sinta menarik lengan Gendis.
" Eh, emmm" Gendis menjadi salah tingkah.
" Tapi-" belum sempat Gendis berbicara, Sinta langsung menuntun nya.
" Udah ayo, emangnya kamu gak lapar? Aku traktir ya!" ajak Sinta sambil memeluk erat tangan Gendis
Riska dan Ayu nampak geleng-geleng kepala, melihat Sinta sedang ikut campur urusan Gendis.
" Apa Sinta gak tau, kalau Gendis lagi bully anak cewek itu?" bisik Ayu di sebelah Riska.
Riska hanya mengangkut kedua bahunya, lalu menggelengkan kepalanya. Menandakan dia juga tidak tahu, tentang rencana Sinta.
Mereka pun sampai di depan kantin, Sinta dan teman-teman nya duduk di kursi yang telah di sediakan.
" Kamu, mau pesan apa?" tanya Sinta dengan senyum termanis nya.
" Eh, kok kamu jadi akrab sih sama aku?" ketus Gendis.
" Emangnya aku gak boleh, berteman sama kamu?" tanya Sinta.
" Iya, aku gak pernah mau juga sih berteman sama kamu." ucapnya dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
" Gendis, aku tahu kamu lagi bully anak kelas satu. Apa itu cara kamu, biar di takuti sama anak-anak?" tanya Sinta dengan tatapan tajamnya.
" Apa urusannya sama kamu?" tanya Gendis gugup.
" Aku cuma mau menantang kamu, seandainya akhir semester ini nilai kamu bagus. Kamu boleh mengajukan satu permintaan untuk ku. " kata Sinta.
" Ka-lau kamu yang menang?" tanya Gendis sambil menyipitkan kedua matanya.
" Kamu jangan pernah membully anak-anak lagi, dan bersikaplah menjadi lebih baik." kata Sinta sambil menyunggingkan senyumnya.
Gendis nampak berpikir, dia harus membuat permintaan untuk Sinta. Dan yang pasti akan membuat Sinta, tidak lagi mengganggu hubungan nya dengan Raka.
" Baiklah, tantanganmu aku terima." kata Gendis menerima tantangan dari Sinta.
" Sebutkan permintaan mu?" tanya Sinta.
" Kalau aku juara dan mendapatkan nilai bagus, kau harus pindah dari sekolah ini." tekan Gendis dengan senyum liciknya.
Terlihat Sinta membulat kan kedua bola matanya, tak menyangka permintaan Gendis sungguh sangat merugikannya.
Sinta nampak berpikir, apakah merubah sikap seseorang harus mengorbankan dirinya?
Apa yang harus di katakan pada kakaknya, jika dia menerima tantangan yang dia buat sendiri?
Riska dan Ayu pun saling tatap, mereka sungguh tak menyangka dengan ide konyol Sinta.
Mereka tahu, kalau Gendis adalah anak wakil kepala sekolah. Bisa saja dia berbuat curang, atau KKN untuk hasil semester nya.
" Baiklah, aku juga terima permintaan mu. Mulai sekarang kita belajar bersungguh-sungguh. " kata Sinta sambil mengulurkan tangannya.
" Seluruh siswa di sini, kalian menjadi saksi antara aku dan Sinta. " teriak Gendis.
Seketika Raka pun mendengar suara Gendis, yang sedang berteriak memberikan pengumuman.
Dia berdiri lalu menghampiri Gendis dan juga Sinta.
" Gendis, kan aku bilang jangan pernah ganggu Sinta. " Hardik Raka yang berdiri di belakang Gendis.
" Kamu tahu, aku tuh cinta banget sama kamu. Cuma karena dia yang udah datang ke sekolah ini, kamu jadi berpaling dari aku." kata Gendis penuh percaya diri yang langsung berdiri mensejajarkan badannya dengan Raka.
" Aku emang gak pernah suka sama kamu, hanya ingin menambah popularitas ku aja di sekolah." kata Raka mengejek.
" Apa?" kaget Gendis mendengar pernyataan Raka, " Tapi sayangnya, kita udah buat perjanjian. Dan dia juga sudah menyetujui nya." kata Gendis yang langsung memberikan pengumuman.
__ADS_1
" Kalian semua dengar, bahwa aku dan Sinta akan bersaing di semester ini. Jika nilaiku kalah darinya, maka aku gak akan mengganggu kalian lagi. " ucap Gendis sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, " Tapi jika dia, yang kalah. Maka dia harus keluar dari sekolah ini." tekan Gendis dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah Sinta.
Kemudian Gendis langsung pergi, meninggalkan Sinta dan teman-teman nya.
" Sin, kamu yakin dengan semua yang di ucapkan oleh Gendis?" cemas Raka sambil duduk di sebelah Sinta.
Sinta hanya terdiam, tak berucap sepatah kata pun. Raka terus mencoba mendesak Sinta, agar jangan berbuat ceroboh. Karena dia sedang berhadapan dengan Gendis, anak wakil kepala sekolah.
" Raka, aku bermaksud baik. Ingin menolong teman-teman yang di bully oleh Gendis. Jadi kamu doakan saja, agar Gendis bisa berubah." kata Sinta dengan nada santai.
Kemudian pesanan Sinta datang, yaitu somay ikan beserta teh manis.
" Sin, ayo makan." ajak Ayu yang duduk di hadapannya.
Raka langsung meninggalkan Sinta, dia menghampiri Raja yang berada di tempat biasa.
Raja biasa menghabiskan waktu istirahatnya, di gedung belakang sekolah. Raja selalu bekerja, melalui ponsel pintarnya. Mengecek semua pekerjaan nya, yang berhubungan dengan usaha milik Dito.
Siang ini, dia ingin mengajak Sinta ke gerai kopi di daerah Malioboro. Dan gerai kedua, setelah kemarin mereka mengunjungi gerai pertama.
" Raja..." panggil Raka dengan nafas tersengal-sengal. Dia berlari kecil dari kantin, menuju gedung belakang sekolah untuk mencari keberadaan Raja.
Segera Raja menyembunyikan ponsel pintar nya, agar tak di ketahui Raka soal pekerjaan nya.
" Ada apa?" jawab Raja santai.
" Sinta dan Gendis." kata Raja sambil mengatur nafasnya, dia membungkuk agar dapat berbicara dengan Raja.
" Ada apa dengan Sinta dan Gendis?" tanya Raja sambil menoleh ke arah Raka.
" Mereka membuat perjanjian, soal nilai semester." kata Raka yang kini duduk di samping Raja.
" Maksudnya?" tanya Raja penasaran.
" Jika nilai Gendis kalah dari Sinta, maka dia harus menghentikan aksi bullynya." kata Raka yang terputus.
" Lalu jika nilai Sinta yang kalah?" tanya Raja sambil mengernyitkan keningnya.
" Sinta, harus keluar dari sekolah ini." kata Raka sambil menundukkan kepalanya.
" Apa?" Raja terkejut mendengar penuturan Raka.
" Aku tak bisa menghentikan Gendis, karena dia tidak ingin Sinta sekolah di sini." kata Raka, " Dan merasa tersaingi oleh Sinta.' tuturnya.
__ADS_1
" Aku harus melakukan sesuatu." gumam Raja sambil berpikir mencari jalan keluar.
- Silakan like, vote dan berikan hadiah bunga/kopi untuk karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar mu.