
" Oh iya, kakakmu saja kerja di sini!"
" Iya, mau kerja di manapun asal kamu rajin pasti akan mendapatkan hasil sesuai jerih payahmu. Jadi kita harus semangat belajar, agar bisa mencapai cita-cita yang kita inginkan." Sinta memberikan motivasi untuk Gendis.
" Sin, aku malu mau cerita sama kamu." Gendis menundukkan kepalanya, dia ragu untuk bercerita. Tetapi dia amat berat, menanggung penderitaan nya sendirian.
" Kamu mau cerita apa? Aku siap mendengarkan," kata Sinta yang duduk di hadapan Gendis, dan siap mendengarkan.
" Papa tiriku ... pernah tidur denganku." Gendis langsung memejamkan kedua matanya, dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan rahasianya.
Sinta membulatkan kedua matanya, terkejut mendengar penuturan Gendis.
Namun hal itu tidak ingin dia tunjukkan, karena tak ingin membuat Gendis malu.
" Lalu?" tanya Sinta dengan nada pelan.
" Aku bingung, apa yang harus aku lakukan?" Gendis bertanya pada Sinta, dia ingin mencari solusi terbaik dari masalah nya
" Ibumu, tahu?" Sinta bertanya pelan, takut menyinggung perasaan Gendis.
" Belum, dia sama sekali belum tahu. Dan suami ibuku selalu saja membuatku risih jika dia berada di rumah," ucap Gendis
" Aku belum mengerti tentang sikap yang harus kamu lakukan, tapi aku akan bertanya pada kakakku. Mungkin dia bisa memberi solusi, karena pikiran dia sudah dewasa. Dan aku akan merahasiakan namamu." Sinta memberikan solusi, agar Gendis dapat menemukan jalan keluar dari masalahnya.
" Maaf sebelumnya, sejak kapan kamu menjadi ...." Sinta ragu untuk mengatakannya, dia takut menyinggung perasaan Gendis.
" Maksud kamu, wanita simpanan om-om?" jawab Gendis menegaskan.
" I-iya ...." Sinta terkekeh sambil tersenyum.
" Sejak perceraian kedua orang tua ku, mereka terlalu sibuk dengan aktivitas nya. Membuat mereka lupa, jika mempunyai anak yaitu aku. Setahun lalu, aku masih anak baik-baik saja. Saat mereka bercerai, aku menjadi kesepian. Lalu aku mencoba mencari kesenangan di luar, dengan memacari cowok yang ada di medsos. Selain uangnya, aku pun menjadi ketagihan. Entahlah, aku sangat bodoh mudah saja berhubungan dengan pria-pria yang gak jelas. Kadang mereka hanya membayar ku dengan makan malam, atau tiba-tiba kabur saat aku di berikan obat tidur, " lirih Gendis.
Sinta sangat miris, mendengar cerita Gendis. Karena dia baru tahu, dan mendengar langsung kisah wanita penjaja ****. Dan dialah remaja yang kini di hadapan nya.
Masa depannya sudah hancur, karena kelalaian kedua orang tuanya. Bukan mereka tidak mampu membiayai Gendis, namun karena kurangnya perhatian dan waktu untuk nya.
" Kamu kasihan ya sama, aku?" tanya Gendis melihat Sinta dengan tatapan iba ke arahnya.
" Oh, enggak," kilah Sinta
" Gendis, apa papa tirimu mengancammu?" tanya Sinta sambil menyipitkan kedua matanya.
__ADS_1
" Tidak, hanya saja aku di suruh tutup mulut. Dia melarangku menceritakan tentang hubungan dia dengan ku. Karena dia hanya menginginkan uang ibuku, sedangkan jika aku mengadu maka ibuku akan tahu jika anaknya adalah seorang gadis ..." Gendis menangis dengan kedua tangan menutup wajahnya
Sinta mengerti, apa yang sedang di rasakan oleh Gendis. Hidup nya sudah hancur, dan sulit untuk di perbaiki. Tetapi yang di butuhkan Gendis saat ini adalah, teman yang bisa mendengar keluh kesah nya.
Sinta akan berusaha, untuk membantu Gendis sekuat tenaganya.
" Gendis, kamu sabar ya. Pasti ada solusinya, aku akan membantu mu," kata Sinta seraya mengusap punggung Gendis.
Gendis dan Sinta pun selesai berbincang, akhirnya Gendis pamit untuk pulang kerumahnya.
" Terima kasih, Sinta." Gendis langsung memeluk Sinta, " aku harap bisa cepat mendapatkan jawabannya.
" Aku usahakan, bisa membantumu." Sinta membalas pelukan Gendis.
Sinta mengantarkan Gendis sampai depan portal perumahan.
Sebelumnya, Gendis telah memesan ojek online. Dia tidak jadi memesan taksi, karena harus cepat sampai rumah.
" Bye ...."
Gendis melambaikan tangan ke arah Sinta, " assalamu'alaikum," ucap Sinta.
" Oh iya, wa'alaikumsalam." Gendis memperbaiki ucapan salam perpisahan.
Sepanjang perjalanan, hati Gendis merasa senang. Karena telah mencurahkan semua isi hatinya kepada Sinta. Hidupnya seperti tak ada beban saat ini.
Dia mengambil ponselnya, lalu mengetikan kata di status media sosial miliknya.
" Lega banget, semoga kamu bisa menjadi teman yang baik." Gendis mengirimkan nya.
Terlihat jelas di aplikasi berwarna hijau, dan orang yang pertama melihat status Gendis adalah Risma.
Seketika Risma meradang, di pikiran nya saat ini adalah tentang Gendis yang tak lagi menganggap nya sebagai teman baik.
Risma akan membuat perhitungan pada orang yang telah mendekati Gendis.
Gendis telah sampai di rumahnya, masih terlihat sepi dan ibunya belum pulang.
Anggita mempunyai bisnis sampingan, yaitu mempunyai butik yang sudah terkenal di Yogyakarta.
Gendis membuka pintu, dengan kunci cadangan yang di persiapkan oleh sang ibu.
__ADS_1
Setelah membuka kunci nya, Gendis masuk ke dalam rumah.
Dia langsung berjalan menuju kamarnya, untuk mengganti seragam nya.
Selang beberapa menit, Gendis mendengar ada yang membuka pintu depan
Setelah memakai bajunya, Gendis langsung keluar untuk menghampiri seseorang yang telah membuka pintu.
Gendis berpikir, orang yang barusan masuk adalah ibunya. Sungguh terkejut dirinya melihat Bram, yang sudah duduk di ruang tamu.
" Kau ... " pekik Gendis dengan raut wajah cemas.
Bram adalah orang lain baginya, walaupun ibunya menyuruh Gendis memanggil dengan sebutan papa. Tetapi Gendis tak sudi mengakuinya.
" Buatkan, pa-pa teh dong, Sayang! " Bram menyuruh Gendis dengan tatapan menggoda.
" Kau jangan macam-macam, sebaiknya cepat keluar dari rumah sebelum aku berteriak maling." Gendis berlari ke arah pintu, dan langsung membukanya.
" Cepat keluar ...."
" Kau tahu tidak? Kalau pernikahan ku sudah di saksikan oleh RT di sini. Jadi kau tak bisa mengusirku, " ucap Bram seraya menghampiri Gendis.
" Mau apa, Kau?" Gendis langsung memajukan tangan nya, mencegah Bram untuk mendekati nya.
" Aku mau kamu, Sayang! " Bram menggoda Gendis, dia langsung mencoba menggapai Gendis dari arah depan.
Gendis langsung menghindar, dan berlari menuju kamarnya. Bram segera menutup pintu lalu menguncinya, agar Gendis tak bisa keluar.
" Kau jangan macam-macam, kalau tidak akan ku adukan ke mama. " Gendis berteriak dengan suara yang lantang.
" Mamamu, sedang rapat di luar kota. Tadi siang dia ijin padaku, " ucap Bram seraya mengerlingkan mata ke arah Gendis.
Gendis sangat ketakutan, dia langsung masuk ke kamar lalu mengunci pintunya.
Dari luar Bram menggedor-gedor pintu kamar Gendis.
" Gendis, Sayang .... "
Bram memanggil dengan meninggikan suaranya. Namun Gendis tak memperdulikan nya, dia tetap di dalam kamarnya menunggu pertolongan datang.
Gendis lupa jika ponselnya tertinggal di ruang tamu.
__ADS_1
Dia tidak bisa menghubungi ibunya dan juga meminta pertolongan.
Gendis terus bersandar di depan pintu, agar Bram tidak masuk kedalam.