
Dito masih berpegangan pada kaca mobil agar dirinya tidak terjatuh.
Beruntungnya Dito karena jalanan yang di lalui adalah area komplek, sehingga kendaraan tidak melaju dengan cepat.
Sudirja langsung menghubungi teamnya yang berjaga di luar area komplek, untuk segera menutup portal.
Beberapa pemuda berpakaian preman pun menyuruh satpam untuk menutup portal agar Ferdi tidak dapat lolos dan membawa pergi Sinta.
Sudirja tetap mengejar Ferdi dari arah belakang mobilnya.
"Tetap berjaga," ucap Sudirja memberikan perintah pada anak buahnya melalui walkie talki.
"Baik, Raden," balas salah seorang anak buah Sudirja.
Raden adalah sebutan untuk Sudirja saat sedang bertugas. Karena setiap polisi pasti punya nama samaran jika sedang bertugas agar identitasnya tidak diketahui oleh musuh.
Di luar dugaan ternyata Ferdi memerintahkan Narji untuk terus menerobos portal di hadapannya.
Hanya beberapa meter Narji akan menerobos palang portal, Dito pun melihat ke arah belakangnya.
Dito mempersiapkan diri tubuhnya jika harus terkena tiang besi portal.
__ADS_1
Narji semakin mempercepat laju mobilnya, untuk menabrak portal.
Hanya tinggal beberapa meter saja dari arah portal. Sinta yang melihat Dito dalam bahaya langsung bertindak.
Sinta pun bangun lalu mengadu kepalanya dengan kepala Narji.
"Dugh!"
Seketika Narji pun oleng lalu kemudinya di arahkan ke kanan yang merupakan pagar pembatas komplek.
Mobilnya menabrak dan membuat Dito langsung melompat ke jalan.
Pucuk kepala Sinta terasa sangat sakit, tetapi tak dirasa karena melihat Dito tidak terkena palang portal.
Sinta mencoba membuka pintu mobil, namun terkunci dari dalam.
Mobil Ferdi telah ringsek menyebabkan kerusakan pada bagian kap mobil yang sedikit terbuka.
Kepala Narji sakit pada bagian belakang dan juga depan. Yang bagian depan diakibatkan terbentur kaca jendela mobil, sedangkan bagian belakang diadu oleh kepala Sinta. Hingga membuatnya sedikit pusing dan kliyengan.
Ferdi mencoba membangunkan Narji, karena Dito datang membawa batu besar untuk menghancurkan kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
Dari luar Dito memberikan isyarat kepada Sinta agar menjauhi kaca jendela mobil.
Dito pun menghancurkan kaca jendela mobil Ferdi. Sungguh usaha yang sia-sia, karena kaca jendela mobil Ferdi adalah kaca anti peluru yang tidak akan mudah hancur dengan batu.
Karena panik Ferdi pun mundur ke belakang tempat Sinta. Lalu mengeluarkan senjata untuk dapat melarikan diri.
Mobil Ferdi telah dikepung oleh beberapa anak buah Sudirja. Termasuk Sudirja sambil menodongkan senjatanya sudah berdiri di sisi jendela tempat Ferdi duduk.
Karena kaca jendela yang gelap dari arah luar, tak nampak keberadaan Ferdi di dalam mobil membuat mereka masing-masing mengarahkan senjata dari berbagai sudut.
Karena merasa terdesak dan melihat Narji sudah pingsan, akhirnya Ferdi menodongkan senjatanya ke leher Sinta.
Pintu pun terbuka, Sinta telah keluar terlebih dari mobil. Disusul Ferdi sambil menodongkan senjata ke arah Sinta.
"Cepat berikan aku mobil," ucap Ferdi sembari menodong senjata ke arah leher Sinta.
Sinta hanya menggelengkan kepalanya, agar para polisi tidak menuruti keinginan Ferdi.
"Diam kau," teriak Ferdi sembari memukul pipi Sinta karena terus mencoba memberontak.
Dito sangat kesal karena Ferdi telah memukul kekasih hatinya.
__ADS_1
"Hey, kalau berani jangan sama perempuan," teriak Raja
Silakan berikan komentar dan like