
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
Sinta
" Sinta, kamu di panggil sama Bu Aisyah." panggil Pak Romli yang berdiri di depan meja piket.
" Ada apa ya, Pak?" tanya Sinta sambil melangkahkan kakinya menuju Pak Romli.
" Eh, kenapa sama hidungnya?" tanya Pak Romli.
" Kepentok, tembok Pak." jawab Sinta asal.
" Memang ada apa, Bu Aisyah memanggil saya?" tanya Sinta.
" Bapak, gak tahu. Sebaiknya kamu langsung ke ruangan Bu Aisyah."
Kemudian Sinta langsung berjalan menuju ruang guru, untuk menemui bu Aisyah.
" Assalamualaikum." sapa Sinta yang sudah berdiri di sebelah meja bu Aisyah.
" Wa'alaikum salam." jawab Bu guru dengan wajah yang berusia sekitar setengah abad dan memakai jilbab warna biru.
" Kata Pak Romli, ibu mencari saya?" kata Sinta
" Oh iya, duduklah." Suruh Bu Aisyah mempersilahkan Sinta untuk duduk di bangku sebelah nya. Di sebelah bangku Bu Aisyah, adalah bangku milik Pak Imron
" Eh, ada apa sama hidung kamu?" tanya Bu Aisyah sambil mengamati hidung Sinta.
" Kepentok, bu." jawab Sinta.
" Ya sudah, duduk." suruh Bu Aisyah
" Baik, bu." kata Sinta yang menarik bangku milik Pak Imron dan menggesernya mendekati bu Aisyah.
" Kemarin Pak Cakra datang, dan meminta ibu mencari siswa yang pintar mengajar matematika. " kata Bu Aisyah, " Dan ibu melihat data kamu, jadi ibu promosi kan ke Pak Cakra." sambungnya.
" Maksudnya?" tanya Sinta yang bingung dengan perkataan bu Aisyah.
" Kamu adalah siswa berprestasi di sekolah mu yang lama. Karena hal itu, maka ibu mempresentasikan namamu. Untuk menjadi konseling anaknya." terang Bu Aisyah.
" Oh, dia lagi nyari guru privat buat anaknya?" tanya Sinta.
" Iya, dia ingin anaknya pintar matematika. Untuk meneruskan usahanya, yang memang dialah anak laki-laki satu-satunya." kata Bu Aisyah, " Pak Cakra merahasiakan identitas anaknya, karena memang permintaan anaknya. Dia tidak ingin identitas nya di ketahui oleh siswa lain, kalau dia adalah anak pemilik yayasan." Imbuh Bu Aisyah.
" Lalu, siapa anaknya?" tanya Sinta.
" Kamu mau gak, menerima tawaran menjadi guru les anaknya?" tanya Bu Aisyah.
__ADS_1
" Kalau ada bayaran nya, saya sih mau aja Bu." kata Sinta yang tersipu malu.
" Iya, pasti dan mungkin cukup buat kamu jajan sebulan." jelas Bu Aisyah, " Tapi kamu harus sabar, menghadapi anaknya. Di sekolah saja dia sering bolos " kata Bu Aisyah
" Akan aku coba." jawab Sinta.
" Baiklah, kalau kamu bersedia ini nomor handphone Pak Cakra." kata Bu Aisyah seraya menyodorkan kertas dengan tulisan nomor handphone.
" Terima kasih, Bu." jawab Sinta
Terdengar bel masuk berbunyi, Sinta langsung pamit pada Bu Aisyah untuk menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, dia melihat Raja sudah berada di tempat duduknya.
Sinta pun berjalan mendekat ke arah bangkunya.
" Hey, kamu kok tumben datangnya siang?" tanya Raja, " Terus, hidung kamu masih sakit?" tanya Raja.
" Gak usah sok perhatian sama aku, dan sebaiknya kita gak usah dekat-dekat lagi." ucap Sinta ketus tanpa menatap Raja.
" Oke, oke..." jawab Raja.
Pelajaran pun di mulai, dan semua siswa tenang memperhatikan guru yang sudah memulai pelajaran.
****
Dito
" Dit, katanya kamu seminggu di Indonesia?" tanya Melly yang duduk di kursi makan.
Mereka sedang melangsungkan acara makan malam.
" Aku sudah menyerahkan bisnis ku pada Sinta, jadi enggak perlu lama-lama di sana." ujar Dito.
" Apa? Kamu kasih tugas sama orang yang belum berpengalaman?" cibir Melly.
" Kamu gak usah ikut campur urusan ku, sebaik nya belajar yang rajin. Dan jangan berbuat yang macam-macam.'' pesan Dito.
" Sarah bilang, dia kerja sama kamu juga?" tanya Melly.
" Iya." jawab Dito.
" Sebaik nya, kamu cari pegawai yang sudah berpengalaman." kata Melly yang masih menunjukkan rasa tidak suka pada Sinta.
Dito hanya terdiam, tak menjawab celaan Melly untuk Sinta.
" Kau, harus putuskan Stefan." Ucap Dito yang ingin mengakhiri makan malam nya.
__ADS_1
" Itu urusan ku, jangan pernah ikut campur." ketus Melly.
" Atau, aku adukan ke ayah?" ancam Dito.
" Ish, " kesal Melly yang langsung meninggalkan meja makan.
Lagi-lagi, dia kalah adu argumen dengan adiknya.
" Merry, " panggil Dito.
" Iya, tuan." jawab Merry yang sudah berdiri di sebelah Dito.
" Tolong kamu rapikan, kami sudah selesai makan." kata Dito.
" Baik, Tuan." jawab Merry.
Dito pun bergegas meninggalkan ruang makan, menuju ruang kerjanya.
Dito dan Melly tidak tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tua mereka tinggal di Inggris, hanya saja berbeda kota.
Dito dan Melly memilih tinggal di dekat kampus, untuk menghemat waktu.
Di dalam kamar, Dito masih terbayang wajah Sinta yang menangis di hadapannya. Dia tidak tega pada kekasih nya, yang di liputi perasaan rasa bersalah karena sebuah kesalahpahaman. Dia hanya ingin meyakinkan sikap Sinta, dan menguji kesetiaan kekasih nya.
" Maafkan, aku." lirih Dito sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Sebenarnya Dito ingin tinggal lama di Indonesia, hanya saja dia sudah menemukan orang yang pas untuk menjaga kekasih nya. Dia pun mempercayakan bisnisnya pada Raja, agar Sinta bisa mengelolanya.
Dito sudah membuat perjanjian pada Raja, agar bisa menjaga kekasihnya. Dan dia pun menuliskan di salah satu perjanjian, bahwa Raja tidak boleh memakai hatinya untuk menjaga Sinta.
Namun jika Sinta tidak memilih nya, maka Dito tidak akan pernah memaksakan hatinya.
Ponsel milik Dito terus bergetar, ia pun bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
" Sinta..." lirihnya.
Ingin rasanya dia menjawab panggilan dari Sinta, dan mendengarkan penjelasan nya. Hanya saja dia harus menahan rasa rindu nya, karena sedang merencanakan sesuatu untuk kekasih nya.
Hampir dua puluh panggilan, yang Dito hiraukan. Dan pesan yang telah dia baca, namun tak di balas. Pasti Sinta sedang kecewa, karena dirinya tak menghiraukan panggilan Sinta.
Banyak kata-kata permintaan maaf, yang di tulis oleh Sinta. Emoticon tanda cinta, dan kedua tangan menyatu tak henti-hentinya Sinta kirimkan.
Sinta berharap mendapatkan balasan dari kekasihnya. Hingga pesan terakhir melaporkan, kalau dirinya mendapat tawaran mengajar teman sekelasnya.
" Assalamu'alaikum, Dit, aku mendapatkan tawaran mengajar matematika. Dan yang menawarkan ku adalah pemilik yayasan di sekolah ku. Aku harus mengajar anaknya, yang sepertinya nakal. Aku harap kau membalas pesanku. Apakah aku harus mengambil tawaran itu? Gajinya lumayan, untuk menambah uang jajan ku selama sebulan.
Kalau kamu masih marah padaku, enggak apa-apa. Soal kejadian kemarin, hanya kesalahan paham . Wassalam.( emot love*)"
__ADS_1
Hati Dito berasa gemetar, kala membaca pesan dari Sinta. Ingin dia menjawab tidak boleh, karena dia bisa saja mentransfer uang untuk Sinta. Namun dia sangat mengetahui kekasihnya, yang tidak ingin menerima uang secara cuma-cuma.
Silakan like, vote dan berikan komentar mu ya guys.