LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
40


__ADS_3

Sinta begitu serius belajar, dia kembali mengulang pelajaran. Raja melihatnya tidak tega, dia mengorbankan dirinya demi orang lain.


" Sinta, apa kau tidak bisa merubah keputusanmu?" Tanya Raja yang menatap iba ke arah Sinta.


" Kenapa demi orang lain, kau rela melakukan semua itu?" Kembali Raja mendesak Sinta agar menghentikan perjanjiannya.


Kedua mata Sinta, langsung mengarah kepada Raja.


" Sebaiknya, kau fokus untuk belajar saja. Gak usah merisaukanku." Balas Sinta yang menatap tajam ke arah Raja.


Raja langsung menunduk dan kembali fokus mengerjakan soal dari Sinta.


Raja ingin mengalihkan perhatian, hingga dia terus bertanya pada Sinta soal pertanyaan yang dia berikan.


Sinta dengan sabar menjelaskan semua soal yang dia berikan.


Selang dua jam, waktu mengajar Sinta pun selesai. Kemudian Raja menunjukkan laporan keuangan dari kelima gerai milik Dito.


" Ini, semua laporan keuangan dari lima gerai." Kata Raja yang memberikan map snelhekter berwarna biru.


Sinta melihat map yang di taruh Raja, di atas meja.


" Apa kau yakin? Aku bisa mengerjakan tugas dari Dito?" Tanya Sinta seraya menatap Raja dengan intens.


" Aku sangat yakin, kau kan pintar. Kau bisa menantang Gendis, masa cuma menghitung laporan keuangan saja gak bisa?" Sindir Raja.


Raja begitu menginginkan Sinta berhenti melakukan hal bodoh. Dia sangat tahu, kalau Sinta anak yang pintar. Namun yang dia hadapi adalah gadis licik, yang selalu menghalalkan segala cara demi keinginannya.


Dia tidak ingin kehilangan Sinta, gadis cantik yang kini mengisi hari-harinya.


" Baiklah, aku akan coba mengelola usaha milik tunanganku, " ucap Sinta, yang membuat hati Raja mencelos seketika.


Saat Sinta menyebut Dito adalah tunangannya, membuat hatinya terasa sakit. Seperti teriris pisau, lalu di siram air cuka.


Raja harus bangun dari tidurnya, dan melupakan semua rasa cintanya pada Sinta. Wajahnya terlihat lesu, dan dengan cepat senyumnya pun memudar.


" Raja, kau tidak apa-apa?" Tanya Sinta sambil melambaikan tangannya ke wajah Raja.


Lamunan Raja pun buyar, dan kini dia kembali tersadar.


" Eh, iya maaf. Sampai mana tadi?" Gugup Raja yang menjadi salah tingkah. Dia begitu mengharap hujan dari langit, di saat matahari terlihat begitu terik. Hati Raja sangat patah, dan kini terbagi dua.


" Kamu melamun? Sedang memikirkan apa?" Tanya Sinta yang melihat tatapan kosong dari kedua mata Raja.

__ADS_1


" Oh enggak, aku hanya sedang pusing." Elak Raja yang langsung menundukkan kepalanya.


Sinta membuka map yang di berikan oleh Raja, dia terkejut melihat angka-angka dari pendapatan usaha milik Dito.


" Angka nolnya, hampir sembilan digit?" Kaget Sinta, " Pendapatan yang fantastis, selama sebulan untuk satu gerai." Kata Sinta sambil memijat kepalanya.


" Kepala kamu, sakit?" Tanya Raja yang melihat tangan Sinta yang sedang memijat pelipisnya.


" Aku hanya terkejut." Kata Sinta sambil memandangi kertas di hadapannya.


" Apa kau sudah siap, untuk menjadi nyonya miliarder?" Tanya Raja.


" Kau terlalu berlebihan, jangan terus meledekku. " kata Sinta.


" Aku hanya memastikan, kalau kau benar-benar sudah siap menjadi-" ucapan Raja terhenti, saat Sinta merasa tersinggung dengan perkataan Raja.


" Sudah cukup, apa kau akan terus mencibirku?" hardik Sinta sambil menatap sinis ke arah Raja.


Raja hanya bisa menelan ludahnya, karena melihat amarah di raut wajah Sinta. Sebenarnya dia tidak suka, jika Sinta menyebut nama Dito sebagai tunangan nya. Namun dia tidak bisa memungkiri, tetapi memang itu adalah kenyataannya.


" Oh, maaf-maaf. Aku hanya bercanda!" kata Raja sambil tersenyum meringis.


" Raja, sepertinya aku melihat ada kejanggalan dari laporan keuangan itu." kata Sinta.


" Ada salah penghitungan, karena ada yang tidak balance dengan total penjualan dan pendapatan." kata Sinta yang menatap curiga Raja.


" Maksudnya, ada dana penyelewengan?" tanya Raja, dia merasa jika Sinta telah mencurigai nya.


" Sepertinya." Kata Sinta yang menyimpulkan adanya kecurangan dalam penulisan data.


" Apa, kau mencurigaiku?" kata Raja yang merasa dicurigai oleh Sinta.


" Tidak, karena aku memang melihat sesuai fakta. " kata Sinta sambil menggelengkan kepalanya.


" Lalu?" tanya Raja yang meminta penjelasan pada Sinta.


" Apa kau pikir, aku sebodoh itu? Aku pernah memegang sebuah laporan keuangan, dalam suatu perusahaan. Selama 3 bulan aku magang, disana aku belajar tentang laporan keuangan." kata Sinta yang teringat akan praktek lapangan kerja, di perusahaan milik Rio.


" Baiklah, aku percayakan padamu. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Raja.


" Kau hanya perlu mengumpulkan struk pembelian, dalam waktu sebulan ini." kata Sinta.


" Hanya itu?" tanya Raja penuh penegasan.

__ADS_1


" Memangnya struk pembelian dari awal untuk membuka perusahaan, itu ada?" kata Sinta sambil mengerutkan keningnya." Pastinya nggak ada kan? Dan aku yakin, semua sudah dibuang atau mungkin sudah luntur tintanya!" Sinta pun memberikan jawaban.


" Oh iya, betul." Raja menganggukan kepalanya.


Te**rnyata benar yang dibilang Dito, kalau Sinta itu sangat cerdas dalam hal hitung menghitung dan memberikan solusi. Tapi tidak dengan perasaannya, sangat tidak peka. batin Raja seraya melihat Sinta dengan tatapan yang kagum. Maksud dari Raja adalah, Sinta sangat tulalit dalam urusan percintaan.


" Baiklah kita pulang, karena hari sudah menjelang sore." kata Sinta.


" Bukankah, kita akan belanja keperluan panti?" kata Raja.


" Oh iya, aku hampir lupa." kata Sinta sambil menepuk keningnya.


Mereka pun keluar dari kafe, dan berjalan menuju parkiran.


Raja melajukan mobilnya, menuju mall terdekat dari Kafenya.


Sesampainya mereka pun langsung memarkir kan mobil nya, dan masuk ke dalam mall.


Raja dan Sinta berjalan beriringan, namun tidak bergandengan tangan.


Saat Sinta berjalan menuju lantai dasar mall, dia melihat Gendis sedang bergandengan bersama seorang laki-laki dewasa berkebangsaan Korea.


" Raja, lihat bukankah itu Gendis?" kata Sinta sambil berlindung di balik pilar.


" Iya, memangnya kenapa?" tanya Raja.


" Kenapa, dia sama laki-laki itu ya?" kata Sinta dengan pandangan mata yang masih fokus, melihat kearah Gendis.


" Itu bukan urusan kita." kata Raja.


" Tapi Raja, aku merasa bahwa laki-laki itu sungguh berbahaya." kata Sinta sambil menyipitkan matanya.


Sinta, kenapa kamu terlalu ikut campur dengan urusan orang lain? batin Raja sambil melihat ke arah Sinta.


Lalu Sinta langsung menarik tangan Raja, " Ayo, kita ikuti dia." tanpa persetujuan Raja.


Raja hanya memutar kedua bola matanya, melihat sikap Sinta yang terlalu ikut campur urusan orang lain.


Mereka mengikuti Gendis, dan lelaki asing berwajah Korea itu.


" Sinta, bukankah Gendis itu tidak suka padamu?" tanya Raja yang sangat menghawatirkan Sinta.


" Aku tidak memikirkan hal itu, saat ini feelingku tidak enak melihat Gendis jalan bersama pria asing itu." kata Sinta sambil memperhatikan mobil di depannya.

__ADS_1


*Si**lahkan like dan komentar ya pemirsa*.


__ADS_2