LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
mulai penyamaran


__ADS_3

"Ada apa Dit?" tanya Raja


"Sinta mengira aku menuju rumahnya," lapor Dito.


"Lalu?" tanya Raja. "Sebaiknya kamu fokus dulu menyamar, urusan Sinta setelah kamu berhasil masuk kedalam yayasan," teriak Raja memberikan saran.


Kemudian Dito langsung mengubah mode getar di dering ponselnya. Dia tidak ingin misinya terganggu dengan kabar apapun.


Dalam hati Dito sangat menyesal tidak membalas pesan dari sang kekasih.


"Maafkan aku, Sin," batin Dito dalam hati.


Sepanjang perjalanan Dito harus fokus pada pekerjaannya. Kali ini dia ingin menjadi mata-mata yang handal.


Mereka sudah sampai di depan yayasan, dan Raja berpura-pura menerima ongkos ojek dari Dito. Karena ada dua pengawal yang berjaga didepan pintu gerbang.


"Terima kasih, Kak," kata Raja sembari menerima uang dari Dito.


Dito memakai gamis berwarna merah marun dengan cadar berwarna hitam.


Suaranya di ubah sehalus mungkin agar tidak terdengar seperti suara laki-laki.


"Permisi, Pak!" sapa Dito yang sudah berada didepan gerbang.


"Ada apa?" tanya pengawal berkulit sawo matang disebelah kiri Dito.


"Aku mendapatkan referensi dari kampus, katanya disini menerima mahasiswa yang akan magang keluar negeri," ucap Dito dengan suara yang lembut.


Kedua pengawal itupun memperhatikan penampilan Dito dari atas jilbab hingga sepatunya.


"Tahu darimana?" tanya pengawal sebelah kanan.

__ADS_1


"Tahu dari pak Feri," jawab Dito.


"Nama kamu siapa?" tanya pengawal yang sebelah kanan dengan rambut yang panjang.


"Mm ..." Dito melupakan nama panggilan untuk menyamar.


"Siapa?" bentak pengawal berkulit sawo matang.


"Dit, Dita, Pak!" jawab Dito spontan.


"Oh, ya udah masuk."


Dito dibukakan gerbang oleh pengawal berambut panjang.


"Sudah ada beberapa mahasiswi didalam, kamu ikut antri."


Dito di antarkan kekantor untuk dipertemukan oleh pengurus yayasan.


Dito bingung, kenapa dihari weekend ini yayasan menerima mahasiswi yang ingin melamar untuk kerja di luar negeri?


Dito mengikuti langkah kaki pengawal berkulit sawo matang.


"Masuk," perintahnya pada Dito.


"Baik, Pak," jawab Dito


Kamera sudah on, mengikuti langkah Dito menuju ruang kantor. Herman pun merekam semua gambar yang berada di kamera.


Pintu telah terbuka, Dito terkejut melihat pemandangan didalam kantor.


Ternyata sudah ada beberapa mahasiswi yang menempati bangku tamu didalam kantor.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga ... sepuluh," ucap Dito sembari berhitung.


Dan perkataan Dito di rekam oleh Herman, sedangkan Sudirja mencatat situasi sebagai bukti otentik agar tidak terlewatkan apabila terjadi sesuatu pada rekaman.


"Rinjani," gumam Dito yang melihat keberadaan Rinjani di bangku dekat jendela kantor.


"Apa kamu mengenal salah satu diantara mereka?" tanya Sudirja melalui headset.


"Iya," jawab Dito dengan suara berbisik.


"Baiklah, cari tempat teraman." Sudirja memberi arahan kepada Dito.


Dito pun berjalan menuju kearah kursi yang kosong dekat dengan meja.


Suasana hening tanpa suara, karena mereka memang tidak saling kenal.


Ferdi memang sering membuat seminar dibeberapa universitas. Hingga dia banyak mendapatkan pengikut.


Ferdi hanya menginginkan calon mahasiswi yang miskin dan butuh uang. Karena mahasiswi miskin itu pastinya akan sangat tergiur untuk dipekerjakan keluar negeri.


Sepertinya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Pintu kantor pun di tutup oleh penjaga wanita yang sejak tadi berdiri di sebelah pintu.


"Baiklah, kita mulai," kata pengawal wanita itu sambil berjalan menuju meja.


"Apakah kalian membawa semua berkas yang dibutuhkan?" tanya wanita itu dengan tegas. "Ah, iya. Perkenalkan namaku Noni," kata wanita itu yang bernama Noni.


"Sekarang kalian perkenalkan diri satu persatu," perintah Noni.


"Dimulai dari kamu, gadis berbaju gamis marun."


Degh...

__ADS_1


Dito terkejut saat dirinya dipanggil terlebih dahulu.


Silakan berikan komentar dan gift kopi atau bunga untuk mendukung karyaku


__ADS_2