
Usai menerima telpon dari Sulis, Sinta langsung berjalan menuju tempat tidur Dito.
" Siapa yang menelpon? " tanya Dito sambil menatap sang kekasih.
" Kak Sulis, dia sudah tiba di bandara. " Sinta menjawab.
" Sin, aku mau berangkat magang. Sore akan balik lagi, kalau kamu mau ke rumah mama nanti aku antarkan. " Melly berpesan sekaligus pamit
" Iya, Kak! Aku menunggu kakakku dulu, ucap Sinta.
Kemudian Melly pun berjalan menuju pintu, lalu keluar dari kamar Dito.
" Aku harap kamu mau menginap di rumah mama, " pinta Dito.
" Aku harus bilang sama teman-temanku, " ucap Sinta.
" Oh iya, kamu 'kan datang bersama teman-temanmu, " ucap Dito. " Aku dengar Raja adalah adiknya Putri? " tanya Dito.
" Iya, " jawab Sinta.
" Kenapa bisa kebetulan gitu, ya? " tanya Dito.
" Aku gak tahu, " jawab Sinta.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, terlihat dokter dan perawat masuk ke dalam kamar, untuk memeriksa keadaan Dito.
Dokter memeriksa keadaan Dito, lalu perawat mulai membuka perban di kepalanya.
" Apakah ada keluhan? " tanya dokter yang bertugas menangani Dito.
" Kepalaku masih terasa sakit, " jawab Dito.
" Aku sarankan agar, mengecek melalui CT Scan. " Dokter menyarankan.
Dito menurut lalu perawat membawanya ke ruang CT scan.
Sarah dan Sinta di sarankan menunggu di kamar. Mereka hanya berdua di dalam kamar. Kemudian Sinta memulai pembicaraan.
" Kak, boleh aku bertanya? " Sinta memulai pembicaraan.
" Boleh, kamu mau bertanya soal apa? " Sarah menjawab.
" Kakak sudah mengenal Dito, berapa lama? " Sarah terkejut dengan pertanyaan Sinta. Dia tidak menyangka jika Sinta akan menanyakan hal pribadinya bersama Dito.
" Baru beberapa bulan, sejak kami berada di satu sekolah yang sama. " Sarah menjawab apa adanya.
" Apakah Dito tidak mempunyai teman lain, selain kamu? " Pertanyaan Sinta sangat menyudutkan Sarah. Dia sangat takut, jika Sinta mencurigai keberadaannya di rumah sakit.
" Enggak tahu, " jawab Sarah sambil tersenyum terpaksa.
" Maaf, aku terlalu banyak bertanya. " Sinta tak pernah berpikir akan bertanya banyak hal pada Sarah. Tetapi dalam lubuk hatinya, mulai merasakan kecemburuan saat mama Dito menegaskan tentang, orang yang di hubungi Dito sebelum kecelakaan.
" Boleh aku tahu, apa yang akan Dito bicarakan padamu sebelum terjadi kecelakaan? " Sinta bertanya seraya menatap intens ke arah Sarah.
__ADS_1
" A-ku, gak tahu. Sebaiknya kamu tanyakan hal itu ke Dito, " jawab Sarah gugup.
" Kenapa ponsel milik Dito, bisa berada di tanganmu? " Sinta mulai menaruh curiga pada Sarah.
" Oh, itu karena pihak rumah sakit memberikannya padaku. " Sarah menjawab dengan santai.
" Apa kamu gak punya kerjaan, saat Dito mengalami kecelakaan, hingga kamulah orang yang pertama hadir di rumah sakit? " Pertanyaan Sinta menjebak Sarah.
Sarah menjadi gelagapan dan bingung dengan jawaban yang harus di sampaikan ke Sinta. Dia tidak mau di cap sebagai gadis genit, yang sedang mendekati pacar orang. Namun itulah kenyataannya, Sarah begitu tergila-gila pada Dito. Dia menjadi orang pertama yang panik, saat mendengar kabar kecelakaan yang di alami Dito. Dia pun orang yang pertama yang datang, saat di hubungi oleh pihak rumah sakit.
" A-pa, kamu sedang mencurigai aku? " tanya Sarah dengan nada ragu.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, yang mengganggu pembicaraan mereka.
Sinta langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu. Dia pun langsung bergegas menuju pintu, ingin melihat orang yang sudah mengetuk pintu.
" Kak Sulis, " ucap Sinta yang langsung memeluk Sulis.
" Sinta, jangan lebay gitu! " Sulis langsung melepaskan pelukan adiknya. Lalu tersenyum terpaksa ke arah kekasihnya.
" Eh, Kakak! " Sinta menyapa Hasan yang berdiri di belakang Sulis.
" Ayo masuk, " ucap Sinta sambil memeluk lengan Sulis, kemudian Hasan mengikuti di belakang mereka.
" Dito kemana? " tanya Sulis yang tidak melihat keberadaan Dito.
" Bang Hasan? " Sarah tercengang saat melihat abangnya datang.
Sinta dan Sulis langsung beradu pandang, dan beralih ke arah Hasan dan Sarah.
Sarah langsung berjalan mendekati Hasan, lalu memeluknya.
" Sulis, kenalkan adikku. " Hasan memperkenalkan Sarah pada Sulis.
" Adik? " Sinta menatap heran ke arah Sarah dan Hasan.
Sungguh dunia sempit, kenapa Sarah harua bersaudara dengan Kak Hasan?
Sinta menatap malas ke arah Sarah dan Hasan.
" Kalian sudah saling kenal? " tanya Hasan yang berdiri di sebelah Sarah.
" Aku baru saja kenal sama Kak Sarah, " jawab Sinta.
" Sarah, kenapa kamu bisa berada di sini? " Hasan kembali bertanya pada adiknya.
" Dito temanku, dan aku sedang menjenguknya. " Sarah memberikan alasan.
" Lalu bagaimana dengan, Abang? " Sarah balik bertanya pada Hasan.
" Aku mengantarkan kekasihku, " jawab Hasan sambil memandang Sulis dengan tatapan menggoda.
" Apa? " Sarah begitu terkejut, saat mengetahui tunangan abangnya adalah Sulis.
__ADS_1
Ah, kenapa aku harus berbesanan dengan gadis ini? Bagaimana aku bisa move on dari Dito? Kalau Sinta harus menjadi adik ipar abangku?
Sarah nampak berpikir, dia menatap malas ke arah Sinta.
Begitupun dengan Sinta, yang mempunyai banyak pertanyaan untuk Sarah. Namun terhenti saat kedatangan kakaknya.
" Dito, kemana? " Sulis kembali melanjutkan pertanyaan nya.
" Dia sedang ke ruang CT Scan, " jawab Sinta.
Selang beberapa menit kemudian, Dito pun datang bersama dua orang perawat.
Dito kembali di pindahkan ke tempat tidur.
" Pihak keluarga bisa menghubungi dokter, untuk penyakit yang di derita oleh Tuan Dito. " Perawat menjelaskan kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan.
" Baiklah, aku akan ke ruangan dokter. " Sulis langsung berjalan mengikuti perawat.
" Aku ikut, " ucap Sinta yang langsung berjalan menghampiri kakaknya.
Sinta dan Sulis berjalan mengikuti perawat, menuju ruangan dokter.
" Silakan masuk, " ucap perawat yang sudah membukakan pintu.
" Terima kasih, " jawab Sulis seraya mengulas senyum.
Sinta dan Sulis pun masuk ke dalam ruangan dokter, dan duduk si bangku yang telah di sediakan.
" Permisi, " ucap Sulis dengan menggunakan bahasa Inggris. ( Maafkan author, tidak mau ribet menggunakan bahasa inggris)
" Silakan masuk, " ucap dokter wanita spesialis bedah saraf.
" Kami kerabat, Dito. " Sulis sudah duduk di hadapan sang dokter.
" Baiklah, kami akan menjelaskan tentang sakit yang di derita oleh tuan Dito. " Sherly Thompson menjelaskan. " Tuan Dito, mengalami gegar otak ringan. Hal itu menyebabkan pembuluh darah menyempit. Dan akan mengakibatkan sakit kepala berkepanjangan. Kami menyarankan agar melakukan terapi, untuk memperlancar pembuluh darah, " ucap Sherly.
" Berapa lama, untuk menjalankan terapi? " tanya Sulis.
" Sekitar enam bulan. "
" Baiklah, nanti akan aku sampaikan kepada kedua orang tua Dito. " Sulis pun pamit kepada dokter.
Sulis dan Sinta berjalan meninggalkan ruangan dokter.
" Kak, Dito kenapa? " tanya Sinta.
" Dia terkena gegar otak ringan, " jawab Sulis
" Parah gak? " tanya Sinta cemas.
" Enggak juga, hanya butuh terapi selama enam bulan. "
" Terapi enam bulan? " Sinta terkejut mendengar jawaban Sulis.
__ADS_1
Silakan like dan komentar.