
Raja bingung dengan sikap Terry yang tiba-tiba berubah.
Usai acara, semua teman-teman Sinta pamit untuk pulang. Terlihat Gendis yang menghampiri Raja.
"Ja, bisa kamu antarkan aku pulang?" tanya Gendis dengan suara merengek.
Sinta curiga pada Gendis, jika dia lah penyebab perginya Terry. Pasti Gendis telah mengatakan sesuatu yang membuat Terry tak bersemangat, untuk terus mengikuti acara hingga selesai.
"Gendis, apa kamu gak liat aku lagi bantuin Sinta!" sahut Raja sambil merapikan kursi bekas tamu duduk.
Dito melihat keanehan pada kedua mata Sinta saat memandang Gendis.
"Kamu kenapa?" tanya Dito. "Kenapa tatapanmu aneh, melihat Gendis?" tanya Dito.
"Aku curiga, Gendis telah mengatakan sesuatu pada Terry." Sinta menyatakan praduga nya kepada Dito.
"Sebaiknya kamu tanya Terry, apa yang menyebabkan dia cepat pulang?" usul Dito.
"Iya, nanti akan aku pikirkan." Sinta kembali merapikan perabot dapur.
Karena Sulis menyewa event organizer, maka banyak pelayan yang membantu Sinta membersihkan rumah nya.
Semua peralatan bekas acara pernikahan telah rapi, dan rumah kembali bersih.
Dito pamit kepada Sinta, karena jadwal cutinya hanya tiga hari. Semenjak kecelakaan, Dito banyak mengajukan cuti kuliah.
__ADS_1
"Aku kembali pulang," pamit Dito pada Sinta yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Iya, kamu hati-hati ya!" balas Sinta yang mengantarkan kepergian Dito.
"Beberapa bulan lagi, aku akan datang seperti Hasan!" bisik Dito.
"Ish, apaan sih! Jangan genit deh!" ucap Sinta seraya mencubit pinggang Dito.
"Aku gak sabar, untuk segera datang melamar mu." Dito kembali menggoda.
"Dito, aku mohon kamu jangan pikirin itu dulu." Sinta memohon pada Dito
"Iya, iya. Tapi kalau aku datang bawa arak-arakan, kamu jangan nolak ya!" Lagi-lagi Dito menggoda Sinta.
Sinta menajamkan pandangan ke arah Dito, karena sang kekasih terus menggoda nya.
"Kalau sudah sampai bandara, langsung hubungi aku." Sinta berucap sembari tersenyum.
"Baik, Cantik!" balas Dito sambil mencubit kecil pipi Sinta.
"Ih, sakit tahu!" Sinta langsung mengelus pipinya.
"Aku jalan dulu, kamu yang rajin belajar nya." Dito berpesan seraya menghidupkan mesin mobil nya.
"Iya," jawab Sinta yang langsung menjauh dari mobil Dito.
__ADS_1
Dito pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sinta.
Gendis begitu iri melihat keromantisan Sinta dan Dito. Dia langsung melirik ke arah Raja, yang terlihat sedang berbicara dengan Pasha.
"Raja, aku akan meneruskan pertunangan kita!" gumam Gendis yang langsung memakai tas selempang nya.
Setelah melihat kepergian Dito, Gendis langsung menghampiri Sinta.
"Sin, aku pamit pulang." Gendis pamit
"Ah iya, terima kasih ya! Kamu sudah mau bantuin aku," ucap Sinta dengan senyum terpaksa. Sinta adalah gadis yang tidak bisa berpura-pura.
Setelah Gendis pamit dan pergi meninggalkan nya, Sinta langsung menghampiri Raja.
"Ja, aku mau bicara." Sinta sudah berada di hadapan Raja.
Pasha yang sedang duduk pun langsung berdiri, saat kakaknya memberikan isyarat agar dirinya pergi.
"Ada apa?" tanya Raja.
"Apa ada sesuatu antara kamu dan Terry?" tanya Sinta berterus terang.
Raja bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Sinta. Menyatakan perasaannya pada Terry saja belum, malah Sinta menanyakan hal tentang Terry padanya.
"Maksudnya apa, Sin?" tanya Raja seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Terry suka sama kamu, tapi kenapa tiba-tiba dia langsung pulang?" tanya Sinta dengan nada polosnya.
"Apa! Terry suka padaku?" tanya Raja dengan perasaan hati yang berbunga-bunga.