
Raja pun bergegas menuju kelasnya, dia sangat takut jika Gendis akan menghampiri Sinta.
Bel masuk pun berbunyi, tandanya seluruh siswa memulai pelajaran jam pertama.
Sementara Dito sedang melajukan motornya menuju pengacara Herman. Karena ada hal penting yang harus dia ketahui tentang Feri.
Sepanjang perjalanan Dito masih khawatir dengan kesehatan Sinta. Terlebih lagi jika Sinta harus mendengarkan masalah teman-temannya.
Sesampainya di kantor Herman, waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Herman pun sudah berada di kantor nya.
"Selamat pagi, Pak Herman!" sapa Dito seraya menjabat tangan Herman.
"Selamat pagi, Dit! Apa kabar?" tanya Herman mengawali pembicaraan.
"Baik, Pak!" jawab Dito. "Ada kabar apa pagi ini?" tanya Dito
"Silakan duduk dulu," kata Herman yang mempersilakan Dito duduk di kursi berhadapan dengan meja kerja Herman.
Dito pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja Herman.
"Sepertinya Ferdi sedang mencari seseorang yang melaporkannya," ujar Herman.
__ADS_1
"Apa dia bisa melacaknya?" tanya Dito
"Untuk sementara Dirja masih merahasiakan identitasmu," ungkap Herman. "Jika saja kasus ini di ketahui oleh Ferdi dan menemukan pelapornya, maka kamu harus berhati-hati."
"Apa Ferdi sekejam itu?" tanya Dito dengan raut wajah penasaran.
"Kamu belum tahu cara licik Ferdi menghabisi musuh-musuhnya," ucap Herman seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, kemudian dia melipat tangan di dadanya. Lalu meneruskan penjelasan tentang Ferdi
"Sebaiknya kamu pelajari dulu, siapa Ferdi sebenarnya? Setelah itu kamu bisa menggunakan cara cerdas untuk mengungkapkan kejahatannya."
Dito tersenyum simpul mendengar penjelasan dari Herman.
Herman pun memberikan satu buah buku setebal kamus bahasa Inggris satu milyar kata kepada Dito.
"Masih ada lima buku lagi, tapi cukup ini saja yang harus kau pelajari. Karena aku berpikir jika kau anaknya yang sangat cerdas," ucap Herman.
"Baiklah, aku menjadi bersemangat untuk mengikuti kasus ini. Padahal sebenarnya aku tidak tertarik sama sekali, aku pikir hanya akan membuang waktu ku saja." Dito membolak-balikan buku di tangannya.
"Lalu kenapa niatmu berubah?" tanya Herman sembari memajukan badannya sambil menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Karena aku hanya ingin membuat kekasihku bahagia," tutur Dito.
__ADS_1
Herman pun terlihat mengerutkan keningnya, dia bingung dengan jawaban Dito. Hanya demi kekasihnya, Dito rela membayar mahal dirinya, dan mengikuti kasus yang bukan masalahnya.
Ternyata Dito sudah terkena sindrom Sinta, yaitu suka ikut campur dalam masalah orang lain yang tujuannya ingin membantu.
"Baiklah, aku akan pelajari di rumah. Sekarang aku pamit ingin daftar kuliah," kata Dito yang langsung berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Herman.
Herman pun menyambut uluran tangan Dito, dan mengijinkannya pergi
"Senang bekerja sama denganmu," ucap Herman.
Dito pun bergegas pergi meninggalkan kantor Herman.
Awalnya Herman hanya mengetahui Raja yang membuat laporan tentang Ferdi. Tetapi Dito mulai mengambil-alih kasus Raja, karena Dito hanya ingin Raja fokus menjaga Sinta.
Lalu Herman mencari data tentang Dito, yang baru saja di ketahuinya setelah Raja melimpahkan kasus Ferdi kepada Dito.
Herman mencari alamat Facebook serta media sosial yang berhubungan dengan Dito.
Namun kenyataannya nihil, Dito telah menghapus semua akun media sosialnya.
Salah satu yang akun yang di miliki Dito adalah web pribadi yang di kelola oleh Raja.
__ADS_1
Itupun hanya bersifat promo kafe miliknya.
Jangan lupa untuk like dan komentar