LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Satpam kocak


__ADS_3

"Jadi selama ini Maryani tidak pernah menghubungimu?" tanya Dito.


"Enggak," jawab Rinjani sembari menggelengkan kepalanya.


"Apa keluarganya juga tidak dia hubungi?" tanya Dito penasaran.


"Setahu aku, Maryani hanya mengirim foto bersama paket yang di kirim dari luar negeri." Rinjani menjelaskan kepada Dito.


"Apakah tidak bisa menghubungi lewat ponsel?" tanya Dito.


"Di dalam suratnya, Maryani bilang jika dirinya tidak diperkenankan memiliki handphone. Karena bos ya berpesan agar tidak terganggu pekerjaannya."


"Aneh," batin Dito saat mendengar penjelasan dari Rinjani.


"Apakah kamu juga berminat?" tanya Dito.


"Iya, aku berminat bekerja di luar negeri. Aku ingin membahagiakan kedua orang tua. Melihat kehidupan Maryani yang kini telah sukses."


Sepertinya Dito sangat tertarik dengan kasus Feri saat ini. Pasti ada rahasia terselubung di dalam yayasan itu.


"Kapan kamu mau daftar?" tanya Dito.


"Besok aku akan mendaftar," jawab Rinjani.


"Tapi kamu masih sekolah?" tanya Dito.


"Kata pak Feri, di sana nanti kita juga akan di kuliahkan. Jadi tidak usah mencemaskan soal pendidikan."


Begitu besar tekad Dito untuk segera masuk kedalam lingkup bisnis Feri. Dito memutuskan untuk membeli gamis saat pulang menjemput Sinta.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih atas semua infonya. Aku doakan semoga kamu menjadi orang sukses," kata Dito yang langsung bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan Rinjani.


"Hey, aku lupa namamu?" teriak Rinjani.


Namun Dito tidak menghiraukan panggilan dari Rinjani. dia bergegas menuju ke arah parkiran.


Melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul satu siang. Segera Dito melajukan kendaraannya menuju sekolah Sinta.


Sinta telah rapi memakai tasnya, diapun menunggu Dito di pos satpam.


"Neng, lagi nungguin siapa?" tanya satpam yang berjaga.


"Someone." Sinta menjawab dengan bahasa Inggris. Sinta tidak ingin menyebut Dito sebagai pacarnya.


"Oh, pacarnya namanya Samwan. Orang India ya?" tanya sang sekuriti.


Sinta mengernyitkan keningnya, bingung dengan penuturan dari pak satpam.


"Oh, bapak pikir Samwan orang India?" tawa pak satpam sembari menunjukkan deretan giginya yang kuning.


Sinta hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dito telah sampai di depan pos satpam, dan melihat Sinta sedang asyik bercengkrama dengan pak satpam.


"Sin," panggil Dito.


"Oh, ini toh yang namanya Samwan?" kata pak satpam.


"Bukan, tapi dia namanya Dito." Sinta menegaskan.

__ADS_1


"Kakaknya ya?" ledek pak satpam.


Dito terlihat kesal saat pak satpam menyebutkan dirinya adalah kakaknya Sinta.


Dito segera membuka kaca helmnya, lalu menunjukkan wajahnya.


"Aku--"


Saat Dito ingin memperkenalkan diri, Sinta pun mencegahnya.


"Sudah ayo pulang," kata Sinta yang kembali menutup kaca helm Dito.


"Iya, Neng. Hati-hati ya!" pesan pak satpam seraya melambaikan tangannya.


"Cantik bener orang kota itu," kata pak satpam melihat kagum Sinta.


"Kenapa kamu melarang aku untuk memberitahu satpam itu kalau aku adalah tunanganmu?" kesal Dito sambil mengemudikan motornya.


"Sudahlah, satpam gak perlu tahu siapa kamu? Soalnya kita bukan artis yang harus di gosipkan."


"Tapi aku gak suka," keluh Dito. "Saat dia bilang kalau aku ini adalah kakakmu," kata Dito sambil berteriak.


Karena suara Dito tertutup oleh kaca helm, hingga dia harus berteriak untuk sekadar berbicara dengan Sinta.


"Sudah, gak usah bahas lagi."


Sinta pun terdiam tak lagi berbicara, karena percuma saja memperdebatkan masalah satpam di sekolahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Ke mall, aku mau beli gamis."


Silakan komentar ya


__ADS_2