LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
33 : Kegombalan Dito


__ADS_3

Silahkan tinggalkan jejak like, vote dan berikan hadiah bunga/ kopi untuk karya ku.


Selamat membaca


Dito


" Lihatlah kak, apa kau masih belum takut jika ada seseorang yang akan menjualmu seperti tadi malam?" ucap Dito yang menakuti Melly.


" Iya, iya ... " ketus Melly.


" Sebaiknya kau selalu pergi dengan Jimmy, sampai kau menemukan laki-laki yang pas untuk mu. Belajar saja dulu yang rajin, agar bisa mengelola perusahaan ayah." kata Dito di sela menyetir mobilnya.


Melly sangat malas melihat Dito, yang selalu menceramahi nya. Hidupnya kini tidak bebas, dan seperti anak kecil yang akan di atur oleh adiknya.


Hari ini mereka ijin masuk kuliah, karena harus menjadi saksi di pihak kepolisian.


Terdengar ponsel milik Dito berbunyi, tanda pesan yang masuk.


"Dito, kamu gak masuk?" pesan dari Sarah telah di baca oleh Dito.


Dito amat malas menjawab pesan dari Sarah, hingga dia melempar ponsel nya ke tempat tidur.


Dito pun merebahkan tubuhnya, dan mulai memejamkan kedua matanya. Tubuhnya sangat lelah, karena semalam tidak tidur.


Beberapa jam berlalu, Dito pun bangun dari tidurnya. Dia merenggangkan tangan nya, untuk merelaksasi tubuh nya.


Perutnya terasa lapar, kemudian dia langsung beringsut dari kasur nya. Berjalan menuju pintu kamarnya, lalu membukanya.


Sayup-sayup dia mendapati ada beberapa gadis, yang duduk di lantai satu rumah nya.


Kamar Dito terletak di lantai dua, dia ingin memiliki privasi sendiri dengan melihat suasana luar rumah nya di depan balkon.


Suara riuh teman-teman Melly, membuat berisik seisi rumah. Dito pun melangkahkan kaki ke arah tangga, untuk turun ke lantai satu. Dengan wajah bantalnya, Dito tetap terlihat tampan.


" Hey, Dit." sapa Sarah yang juga ikut bergabung dengan Melly, padahal dia bukanlah teman seangkatan kakak nya.


Dito hanya membalasnya dengan senyuman, tak menjawab dengan suara.


Terlihat gurat kecewa di raut wajah Sarah, kenapa sikap Dito begitu dingin tak mau menyapanya.


" Merry, apa ada makanan?" tanya Dito yang sudah berada di dapur. Terlihat Merry sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk teman-teman Melly.

__ADS_1


" Dito, aku membawakan cemilan untuk mu. Tadi aku kirim pesan, kau tak menjawab." tiba-tiba Sarah berdiri di belakang Dito sambil membawa roti sandwich dengan jus jeruk.


Dito melihat bungkusan roti sandwich dengan merk restoran yang sudah terkenal, di sodorkan kepada nya.


" Roti ini, sepertinya sangat mahal?" tanya Dito sambil memperhatikan bungkusan di tangan Sarah.


" Ah, itu gak semahal yang kamu bayangkan." kata Sarah demi menjaga gengsi nya. Padahal uang tabungannya untuk beberapa hari, telah dia belikan roti sandwich.


" Sarah, sebaiknya kau tidak perlu menghambur kan uang untuk membeli roti semahal ini." ujar Dito.


Wajah Sarah tiba-tiba sedikit kecewa, sepertinya Dito akan menolak pemberian nya.


" Terima kasih, kau telah perhatian padaku." kata Dito yang mengambil bungkusan dari tangan Sarah.


Wajah Sarah tiba-tiba berubah tersenyum puas, karena Dito tak menolak pemberian nya.


" Sama-sama." jawab Sarah dengan senyum sumringah.


Dito memakan roti sandwich berisi ikan tuna, dan jus jeruk pemberian Sarah.


" Bagaimana kabar, Stefan?" tanya Sarah yang memberanikan diri duduk di bangku berhadapan dengan Dito.


" Dia, sudah di urus oleh polisi." jawab Dito dengan mulut penuh roti.


" Berterima kasih lah pada Tuhan, karena dia yang telah menolong kalian." kata Dito.


" Oh iya, bagaimana dengan pekerjaan ku soal mengurus laporan keuangan mu?" tanya Sarah.


" Apa kau benar-benar ingin bekerja?" tanya Dito, padahal sepengetahuan nya Sarah adalah anak orang kaya. Dulu waktu mereka pernah mengadakan pesta, sungguh amat meriah di adakan di rumahnya.


" Iya, " jawab Sarah serius.


" Bukankah, kau anak orang kaya?" tanya Dito tanpa basa-basi.


" Oh, itu. Maaf, sebenarnya saat itu kakakku hanya ingin terlihat terpandang oleh teman sekampus nya. Sehingga dia memaksa keluarga ku, dan kakak pertama ku untuk mengirimkan uang. Dia akan mengadakan cara pesta ulang tahun, secara besar-besaran." Ujar Sarah.


" Oh, kamu punya kakak?" tanya Dito.


" Ada, kakak pertama ku laki-laki. Dialah kebanggaan kami, yang selalu bertekad akan membahagiakan kedua adik perempuan nya." kata Sarah seraya mengingat kakak laki-laki nya.


" Kalian kok, berduaan aja?" ledek Melly yang tiba-tiba datang membawa dua gelas kosong.

__ADS_1


Dito tak menanggapi, usai menyelesaikan makannya dia langsung mencuci tangan nya lalu kembali ke kamar.


" Ish, " gerutu Melly yang sebal melihat tingkah adiknya yang tidak menghargai nya.


Di dalam kamar, Dito melihat status WhatsApp milik Sinta. Aneka menu makanan menghiasi meja makannya. Seperti nya sudah lima jam berlalu, dan dia baru sempat melihat handphone nya.


Dito melihat ke arah jam di dinding, sudah pukul satu siang. Pasti Sinta masih terlelap, maka dia urungkan untuk menghubungi kekasih nya.


" Sin, aku kangen. Kangen sama kue bolu buatan kamu juga. Kamu bisa kan kerja sama Raja? Aku harapkan kamu bisa mengelola usahaku di Yogyakarta. Karena mungkin setelah kak Sulis menikah, aku akan langsung melamarmu. "


Dito mengirimkan pesan pada Sinta, dengan wajah malu-malu dia merencanakan akan melamar kekasihnya.


Apakah Sinta akan marah?


Batin nya terus bertanya-tanya, ingin rasanya di hapus pesan yang barusan dia kirim. Saat membuka chat untuk Sinta, ternyata sudah centang biru.


Hatinya menjadi gundah gulana, apakah Sinta akan marah atau bahagia. Karena setahu dia, Sinta mempunyai cita-cita menjadi seorang guru.


Apakah Dito akan mengubur impian Sinta?


" Kamu tahu dari mana, Kak Sulis mau menikah?"


Lagi-lagi Sinta tidak pernah peka, dengan perasaan Dito. Karena memang dia harus bersabar, menghadapi wanita yang paling dia sayangi. Walaupun otaknya cerdas dalam pelajaran, tetapi agak lambat soal asmara.


Ternyata Sinta tak membacanya sampai habis, dia hanya fokus pada kata-kata Sulis yang akan menikah.


Dito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat pesan yang baru masuk.


" Aku tahu dari hatiku, karena hatiku dan hatimu menyatu."


Pesan gombal di kirim oleh Dito, agar Sinta melupakan pesan yang baru saja dia kirimkan.


" Aku mau sholat subuh dulu, nanti kita sambung lagi. " pesan Sinta telah terbaca oleh Dito.


Rupanya di Indonesia sudah pagi, dan dia malah asyik tiduran di kala menjelang sore.


Usai beberapa menit, pesan masuk lagi dari Sinta.


" Oh itu, soal kak Sulis menikah. Apakah kau buru-buru ingin melamar ku juga?"


" Degh!!"

__ADS_1


Dito menjadi salah tingkah, mendapatkan pesan yang seharusnya Sinta lupakan.


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan berikan hadiah bunga juga ya.


__ADS_2