
Tiga bulan kemudian, Sinta sudah lulus sekolah. Dia sibuk mencari universitas yang sesuai dengan jurusannya.
"Sin, kenapa kamu gak kuliah di Jakarta aja sih! Kamu kan bisa bantu-bantu mama jagain toko," rengek Sulis saat sedang berada di kamar Sinta.
Sinta melirik ke arah sang kakak yang sedang memintanya untuk pulang ke Jakarta.
"Bukannya dulu kakak yang minta aku untuk tinggal di sini?" sindir Sinta
"Iya, itukan sebelum ada mas Hasan. Sekarang sudah ada dia, dan kamu bukan mahram mas Hasan."
Sinta pun terdiam, apakah dia harus mengikuti saran kakaknya?
Jika memang iya, mungkin Sinta akan kembali berpisah dengan Dito.
"Kenapa jadi rumit gini sih?" gumam Sinta seraya menghela nafasnya.
"Sin, bukannya Dito mau nikah sama kamu?" tanya Sulis
"Ih, kakak. Masa aku selesai sekolah langsung nikah!" ujar Sinta kesal dengan pertanyaan Sulis.
"Iya, si Dito kurang apalagi coba? Tajir, pinter, usahanya banyak." Sulis terus mencoba merayu adiknya, karena semua itu permintaan Dito.
Dito pernah meminta tolong kepada Sulis, agar dapat merayu Sinta untuk segera menikah dengannya.
__ADS_1
"Tapi Kak, aku mau kuliah dan kerja. Aku punya cita-cita," kata Sinta.
"Kalau Dito dapat mendukung kamu, kenapa enggak? Pastinya Dito akan selalu mensupport kamu," ucap Sulis yang terus mendesak Sinta.
"Kak, apa kakak di suruh sama Dito?" tebak Sinta.
Sulis terdiam, dia tak pernah bisa berbohong kepada sang adik.
"Kak, aku akan pindah ke Jakarta." Sinta langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. "Kalau sudah selesai bicaranya, langsung tutup pintunya."
Sulis pun bangun, dan berjalan keluar dari kamar Sinta.
"Aduh, gimana nih ya! Kenapa Sinta bis tahu?" gumam Sulis sambil *******-***** telapak tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Hasan yang melihat Sulis sudah masuk ke dalam kamar mereka.
"Duduklah," kata Hasan menyuruh sang istri untuk duduk di sampingnya.
Sulis pun duduk di sebelah Hasan.
"Sebaiknya kamu gak usah ikut campur sama urusan mereka," saran Hasan.
"Iya, aku cuma menyuruh Sinta untuk pulang ke Jakarta."
__ADS_1
"Loh, kok kamu malah menyuruh pulang Sinta? Bukannya dulu kamu yang memindahkan Sinta untuk sekolah di sini?" tanya Hasan yang membela Sinta.
"Ih, kok kamu jadi nyalahin aku? Aku cuma gak ingin kamu dan Sinta berada di dalam satu rumah. Karena kalian itu bukanlah mahram," jujur Sulis seraya mengalihkan pandangannya.
"Kalau soal itu, bukannya aku hanya Sabtu Minggu saja ada di Yogya?" tanya Hasan.
"Iya, tapi aku gak enak sama Sinta kalau kita lagi berdua."
Hasan pun tersenyum sambil mengusap kepala Sulis yang sedang bersandar di bahunya.
"Apa kamu aja yang ikut aku pindah ke Jakarta?" tanya Hasan.
"Tapi aku baru saja di angkat menjadi PNS. Gak mungkin aku meninggalkan karir yang selama ini aku raih," kata Sulis yang tidak mau mengalah
"Hal ini, akan kita pikirkan besok. Karena hal itu harus kita bahas bertiga." Hasan memeluk tubuh Sulis
"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Sulis dalam pelukan Hasan.
"Aku mau bercocok tanam, apa kamu bisa?" tanya Hasan
"Aku baru saja selesai menstruasi, apakah bisa langsung hamil?" tanya Sulis.
"Semua itu rencana Allah SWT, aku gak bisa menjawab."
__ADS_1
Kemudian Hasan mematikan lampu kamarnya, dan mereka mulai bercocok tanam.
Silakan berikan komentar dan like