
"Sin, kayaknya ada yang aneh sama Terry!" bisik Puput di telinga Sinta.
"Itu semua karena teman kamu yang bernama Raja," jawab Malik.
"Maksudnya, apa?" tanya Sinta yang langsung menoleh ke arah Malik.
"Udah punya pacar, tapi masih godain Terry. Jadi patah hati kan dia!" ucap Malik yang langsung berbalik dan pergi meninggalkan Sinta.
"Apa!" Sinta terkejut mendengar penuturan Malik.
"Malik..." Sinta mengejar Malik.
"Ada apa, Sin?" tanya Dito yang menghalangi langkah Sinta.
"Enggak, apa-apa." Sinta menjawab seraya melirik ke arah Gendis.
Sinta curiga kepada Gendis, pasti ada sesuatu yang telah terjadi hingga menyebabkan Terry pulang lebih dulu.
Hal itu akan ditanyakan usai acara berakhir, karena Sinta tak ingin menganggu kesakralan acara pernikahan kakak nya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Dito yang melihat ada kelainan di wajah Sinta. Dito sangat memahami dengan sikap Sinta yang cenderung pendiam. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya.
"Aku gak apa-apa, sebaiknya kita berkumpul bersama kak Sulis. Aku gak enak jika nanti di tanya oleh para saudara." Sinta langsung berjalan menuju ke arah Sulis dan keluarga nya
__ADS_1
Selang beberapa jam, acara pun usai. Teman-teman Sinta, membantu merapikan rumah. Karena hanya acara sederhana dan tidak terlalu banyak perabotan.
Sarah telah pulang, karena tidak betah melihat Dito bersama Sinta. Hanya tinggal Hasan dan kedua orang tuanya.
"Dit, kamu akan pulang kapan?" tanya Hasan.
"Besok," jawab Dito. "Aku masih kangen sama Yogyakarta," sambungnya.
"Kangen Yogyakarta, apa yang ada di Yogya?" sindir Sulis seraya melirik ke arah Sinta.
Sinta sedang tidak fokus, dia masih memikirkan Terry. Saat Sulis mengajaknya bercanda, dia hanya diam saja sambil melihat ke arah Gendis.
"Sin, kamu gak apa-apa?" tanya Sulis sambil melambaikan tangannya ke arah wajah Sinta.
"Dit, Sinta kenapa sih?" tanya Sulis pada Dito.
"Aku juga gak tahu," jawab Dito seraya menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja dia istirahat, karena dia adalah seksi sibuk." Hasan menyela.
Kemudian mereka kembali melanjutkan obrolan, hingga semua tamu pamit pulang.
"Sin..." Puput memanggil Sinta dari arah luar kamar.
__ADS_1
"Masuk aja, gak di kunci!" teriak Sinta dari dalam kamarnya.
"Puput dan Wahyuningsih pun masuk ke dalam kamar Sinta.
"Kita mau pamit pulang," ucap Puput sambil berjalan mendekati Sinta.
"Yah, kalian sudah mau pulang aja!" ucap Sinta dengan raut wajah kecewa.
"Iya, karena sudah menjelang malam. Pasti sampe rumah nya besok pagi." Wahyuningsih menambahkan.
"Maaf, tadi aku gak menemani kalian. Karena aku masih kepikiran sama Terry." Sinta langsung memeluk Puput
"Iya, sebaiknya kamu konfirmasi Terry. Barangkali dia butuh penjelasan tentang Raja. Karena sepertinya Terry mulai menyukainya." Wahyuningsih berpendapat.
"Iya, nanti aku akan tanyakan Raja." Sinta langsung memeluk Wahyuningsih.
Sinta langsung mengantarkan Puput dan Wahyuningsih keluar dari kamarnya.
Fadli dan Malik pun pamit kepada Sinta. Sinta dan Dito melepas kepergian ke empat sahabat nya
Usai keempat temannya pergi, Sinta dan Dito masuk ke dalam.
Dito sedang membicarakan masalah bisnisnya pada Hasan dan Raja. Sedangkan Sulis sedang mengganti bajunya. Kedua orang tua Sinta pun sudah masuk ke dalam kamar Sinta. Karena memang di rumah itu hanya ada dua kamar.
__ADS_1