Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Taktik Asrul


__ADS_3

🍻🍻🍻


Butuh Es untuk mendinginkan otak


🍻🍻🍻


🙏🙏🙏


Asrul semakin mendekat kearah Nayla membuat Nayla mundur beberapa langkah dan berhenti karena terhalang badan mobil. Hembusan nafas nya terdengar memburu mengenai kulit Nayla, karena tubuh nya yang hanya tersisa berjarak beberapa senti dengan tangan kanan berpegangan pada badan mobil.


Sontak kenangan tentang malam kelam itu menyeruak di benak Nayla. Malam dimana Pria itu dengan paksa mengoyak dan menikmati syurga dunia milik nya tanpa belas kasih, tanpa mendengar jeritan kesakitan nya. Malam di mana meninggalkan trauma mendalam yang berkepanjangan.


" Apa kamu tidak takut padaku sayang.....?" Tanya Asrul dengan sedikit berbisik tepat di telinga Nayla.


Nayla masih tetap mencoba santai dan tersenyum.


" Takut padamu......! memang kenapa aku harus takut padamu, apa aku punya alasan untuk takut padamu. Oh atau jangan- jangan kamu yang takut padaku sekarang, atau juga jangan jangan hidupmu belakangan ini mulai tidak tenang karena sesuatu hal. "


Nayla berbicara dengan penuh penekanan di sertai senyum yang tidak bisa di artikan. Ia sedang berperang dengan hati nya, berperang dengan kenangan masa lalu nya dan juga sesuatu yang hanya dia saja yang tahu.


" Sial.... ternyata dia tidak takut padaku dan kenapa dia seolah- olah bisa membaca pikiranku tentang apa yang ku alami belakangan ini. " Batin Asrul.


" Kenapa.....! kenapa kamu diam, apa tebakan ku benar Tuan Asrul Yabintang.......!. "


Nayla tersenyum sinis dengan tawa kecil yang hanya terdengar oleh nya saja.


" Oh.... kamu sudah mulai berani sekarang ya. Apa karena para Pria itu, Pria- pria yang selalu ada di belakang mu, Pria- pria selingkuhan mu itu " Geram Asrul, tangan nya mengepal di badan mobil.


Bersamaan dengan ucapan Asrul, sebuah tamparan mendarat begitu keras nya di pipi kiri sertai dorongan keras dari Nayla.

__ADS_1


Asrul mundur beberapa langkah dan memegang pipi nya yang terasa kebas. Ini untuk kedua kali nya Ia mendapat tamparan keras dari wanita yang dia anggap selama ini sebagai mahluk paling lemah.


" Apa hak mu menilai aku seperti itu Tuan Yabintang yang terhormat "


Suara Nayla terdengar serak karena menahan amarah di dada nya, tubuh nya sedikit bergetar dan memanas. Beruntung saja Ia mulai mampu mengendalikan diri nya, semua karena ajaran psikolog yang di bayar khusus Pak Burhan untuk nya.


" Kamu bahkan berani menamparku, semenjak mengenal mereka kamu jadi wanita bar - bar dan tidak patuh " Ucap Asrul yang juga sudah mulai tersulut emosi nya.


" Kamu tahu apa tentangku Tuan Asrul Yabintang. Sadarlah bukan mereka yang membuat aku seperti ini, tapi karena keadaan. Keadaan yang memaksaku harus kuat demi melawan ketidak adilan yang di ciptakan oleh seorang Pria egois dan juga seorang wanita yang berlindung di balik bungkusan seorang sahabat " Sahut Nayla dengan nada keras.


Asrul terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nayla. Ia tidak menyangka Nayla mampu menjawab semua kata yang Ia ucapkan.


" Itu bukan salah kami, kamu sudah tahu sejak awal kalau kami saling mencintai


Seharusnya kamu menerima saja, bukan dengan lari bersama Pria lain "


Nayla hampir saja melongo karena terkejut mendengar tuduhan Asrul yang sama sekali tidak benar.


Asrul kembali mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Nayla dan membuat Nayla kebakaran jenggot tapi tidak punya jenggot.


" Sudahlah, lupakan itu. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi " Jawab Nayla


Asrul tertawa keras mendengar jawaban Nayla yang langsung tanpa meminta waktu untuk berpikir.


" Mengapa tidak mungkin, apa karena kamu sudah punya Pria lain. Oh ya Pria sok perhatian itu, atau Pria uzur itu ha hah ha.....!


Asrul kembali tertawa membayangkan bagaimana Nayla bersanding dengan Pria yang di katakan tua bangka itu.


Lagi-lagi Nayla ingin sekali memberikan bogem mentah ke wajah Asrul, namun Ia masih mampu mengendalikan amarah nya.

__ADS_1


" Bukan urusan mu aku mau bersama siapa sekarang, karena kita sudah tidak punya hubungan apa- apa "


Asrul tertawa sinis serta berputar mencari alasan apa yang harus Ia katakan pada Nayla.


" Tentu saja ada urusan nya denganku Nyonya Asrul Yabintang, karena kita belum resmi bercerai. Apa kamu lupa kalau aku bahkan belum menandatangani surat yang kamu kirimkan itu. Oh ya...... seperti nya sekarang bukan hanya belum, tapi tidak akan pernah. Aku ingin melihat bagaimana caranya kamu bersama para Pria itu tanpa surat cerai dariku. "


Asrul begitu bahagia karena merasa berhasil membuat Nayla diam tak berkutik.


" Oh ya, satu lagi. Jangan lupa kalau Putra mu...... salah aku ralat lagi, Putra kita sekarang berada di tangan ku, dan kamu juga tahu kan syarat dari pengadilan "


Asrul tersenyum bahagia sambil alis nya naik turun ketika berbicara dengan Nayla.


Dalam waktu yang bersamaan sebuah mobil mewah berhenti di dekat mereka, nampak seseorang turun dari sana dan tidak berselang lagi turun seseorang lagi.


" Nak.........! " Panggil Pak Burhan.


" Kakak.......! Maaf kami terlambat, Kakak tidak apa- apa ?. " Tanya Kamila seraya memeriksa wajah lengan dan juga kaki kakak nya takut terjadi apa- apa.


" Kakak tidak apa- apa sayang " Jawab Nayla yang merasa lucu dengan ke khawatiran adik nya.


" Apa sudah bicara nya, kalau sudah ayo kita pulang " Ajak Pak Burhan.


Nayla menatap Asrul sekilas lalu kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Kamila yang berjalan sambil menggandeng tangan nya.


Setelah masuk kedalam mobil, Pak Burhan menghidupkan mobil dan mengemidukan nya perlahan, meninggalkan Asrul yang nampak bingung akan sesuatu hal.


" Nak........! apa maksud nya, apa aku salah dengar. Pak Burhan memanggil Nayla dengan sebutan Nak, bagaimana mungkin....... Ah sudahlah mungkin aku yang salah dengar, bagaimana mungkin Pak Burhan yang kaya raya itu bisa jadi Ayah nya Nayla. Tapi kalau bukan....... ah sial, dasar tua tua keladi mau bersaing dengan yang muda. Baiklah kita lihat saja nanti. "


Asrul mengemudikan mobil nya meninggalkan tempat itu dengan berbagai macam rencana yang ada di pikiran nya.

__ADS_1


🐇🐇🐇


BERSAMBUNG.....


__ADS_2