Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Di culik


__ADS_3

Pak Hendrik yang mendengar kabar Marni yang terpaksa di larikan ke Rumah Sakit terpaksa membatalkan pekerjaannya padahal itu sangat penting. Mobil mewah miliknya langsung menuju Rumah Sakit tempat Marni di rawat.


Ia melangkah perlahan memasuki ruangan Bi Marni setelah sebelumnya bertanya pada pihak Rumah Sakit.


" Bagaimana dia bisa seperti ini Rik " Tanya Hendrik yang tidak mampu menyembunyikan rasa terkejut nya melihat kondisi Marni.


Wajah pucat dan tubuh yang tidak berdaya


" Entahlah Pa, tadi Erik temukan di kamar badannya panas dan Erik langsung bawa kemari. Kata Dokter Bibi sudah tidak makan berhari hari "


..." Ada apa denganmu Mar, bukankah beberapa hari lalu kamu baik baik sama dan selama ini juga kamu tidak punya riwayat penyakit apapun. " Batin Hendrik...


" Sekarang bagaimana keadaan nya Rik " Tanya Hendrik lagi.


..." Seperti yang Papa lihat, tapi tadi Dokter berpesan agar kita jangan meninggalkan Bi Marni sendiri tanpa pengawasan, takutnya..... " Erik tidak sanggup melanjutkan ucapannya....


Pak Hendrik hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Erik.


" Pa, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Papa tentang Bi Marni. "


Keduanya duduk di sofa yang terletak di dalam ruangan itu.


" Apa itu Rik "


Erik nampak ragu untuk bertanya namun rasa penasaran nya tidak bisa Ia bendung lagi. Dengan gugup Ia pun bertanya.


" Renata, Bibi beberapa kali mengigau menyebut nama itu. Ada apa sebenarnya Pa "

__ADS_1


Erik memperhatikan raut wajah Ayahnya yang nampak berubah.


" Papa sepertinya gelisah, apa dia Renata adikku ? "


Kembali Erik mendesak sang Ayah dengan berbagai macam pertanyaan.


" Adik, kamu tidak punya Adik Erik " Suara Pak Hendrik pelan tapi di tekan, Ia membuang pandangan nya ke lain tempat.


Ia berdiri dan hendak pergi dari ruangan itu, sementara Erik menatap nya kesal.


..." Tunggu Pa, tidak perlu Papa tutupi itu semua karena aku sudah mengetahuinya. Rena, Renata adalah adikku "...


Ucapan Erik berhasil menghentikan langkah Hendrik.


......" Kau sudah mengetahuinya dan kau sengaja menyembunyikan nya begitu maksudmu Rik " ......


..." Papa mau kemana " Tanya Erik kemudian....


..." Mencari nya, karena hanya itu yang bisa menyembuhkan Bibi kesayangan mu itu " Hendrik sengaja menekan kata Bibi kesayangan pada Erik karena Ia tahu betapa berartinya wanita itu untuk anaknya ( untuk dirinya juga hihihi)...


Erik menatap sang Ayah yang sudah menghilang di balik pintu dan beralih pada Bi Marni yang masih terbaring lemah di ranjang.


Ia bingung apa yang harus Ia lakukan sekarang.


Di tempat lain Alya yang ingin kembali kembali ke Rumah Sakit membawa semua keperluan Marni merasa aneh sejak tadi.


" Neng, sepertinya sejak tadi mobil di belakang itu mengikuti kita " Ucap sang sopir membuka suara.

__ADS_1


Alya juga sudah merasakan itu sejak tadi namun Ia berusaha menyangkalnya, namun mendengar ucapan sopir Ia jadi mulai ketakutan.


..." Mas Erik, aku harus memberitahunya " Gumam Alya....


Baru panggilan akan tersambung ponsel Alya langsung jatuh karena taksi yang Ia tumpangi mendadak berhenti. Alya melihat mobil yang tadi mengikuti di belakang kini sudah berada di depan dan beberapa orang pria keluar dari sana.


Alya ketakutan melihat beberapa Pria itu bahkan mendekat ke mereka, Ia mencari ponselnya yang entah kemana.


..." Keluar " Teriak para Pria itu sembari menggedor kaca mobil....


Alya semakin ketakutan, para Pria itu berputar dan meminta sopir taksi keluar. Dengan rasa takut yang tinggi sopir itu keluar dan nampak berbicara dengan beberapa Pria itu. Tidak berlangsung lama seseorang masuk dan menarik Alya dengan paksa, si sopir melihatnya dengan wajah yang pucat.


..." Lepaskan aku, kalian siapa sih, kenapa menangkap ku. Aku tidak mengenal kalian " Teriak Alya....


Sayang sekali teriakan nya itu tidak ada yang mendengar nya karena mereka melalui tempat yang sunyi, beberapa meter dari perumahan.


..."Diam, kami memang tidak mengenalmu ha.... tapi orang yang menyuruh kami sangat mengenalmu. Sebaiknya kamu diam dan ikut dengan kami atau kami akan membunuhmu dan membuang mu di hutan untuk santapan binatang buas "...


Alya gemetar ketakutan dan memilih diam, dalam hatinya menjerit memanggil nama Erik agar bisa menolongnya.


Sementara Erik yang tadi sempat menjawab panggilan Alya Ia juga nampak khawatir mendengar keributan di seberang telpon. Ia kemudian berinisiatif menelpon balik.


Satu, dua, tiga kali panggilan tidak ada jawaban disana membuat Erik tambah frustasi.


Ia bergegas keluar dan tak lupa menitipkan Bi Marni pada seorang suster yang kebetulan lewat di sana. Sambil berlari Ia nampak sibuk dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


..." Ya Tuhan, ini yang aku takutkan. Semoga kamu tidak kenapa kenapa, aku tidak akan memaafkan nya kalau terjadi apa apa padamu " Gumamnya geram. ...

__ADS_1


__ADS_2