
Alya dan Erik kembali ke rumah namun mereka di kejutkan dengan sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.
..." Mobil Papa, untuk apa Papa kemari "...
Alya yang mendengar itu hanya menggeleng kan kepalanya pelan pertanda tidak tahu pasti.
..." Ya sudah Mas, ayo turun. Kasihan Pak Hendrik kelamaan nunggu " Ucap Alya, dan Erik juga membenarkan hal itu....
Mereka melangkah masuk dan benar saja di ruang tengah rumah itu Hendrik sudah menunggu.
" Papa, untuk apa Papa kemari " Tanya Erik.
Bukan Ia tidak menyukai kehadiran Ayahnya saat itu, hanya saja Ia bingung karena Pria itu berkunjung tanpa memberitahu lebih dulu.
Alya ijin pamit karena Ia tahu kedua Ayah dan anak itu pasti ingin membicarakan hal yang penting. Ia menawarkan membuat minuman untuk sang majikan, tapi Pria itu menolaknya. Akhirnya Alya memilih untuk masuk ke kamar membersihkan diri.
" Mas..... Aku ke atas dulu ya, mau mandi soalnya gerah " Alya meminta ijin dan di balas anggukan oleh Erik.
Tak lupa Alya melemparkan senyuman pada Pak Hendrik sebagai tanda hormat.
..." Pa, bagaimana kalau kita tes DNA saja, karena sampai saat ini aku masih sangat yakin kalau Adikku yang sebenarnya itu adalah Alya bukan DIA ! "...
Erik mulai membuka obrolan dengan Ayahnya, Pak Hendrik berubah murung. Ia juga awalnya memiliki pikiran yang sama dengan yang Erik pikirkan, berharap dengan tes itu bisa membuktikan kalau gadis yang selama ini dekat dengannya adalah Putrinya yang dulu hilang, namun sayangnya Ia harus menelan rasa kecewa.
__ADS_1
..." Kenapa Pa, kenapa Papa diam saja. Apa Papa tidak ingin melakukan apapun dan sudah menerima DIA begitu "...
Pak Hendrik menarik nafas berat, sebelum akhirnya membuka suara.
..." Papa bukannya tidak usaha, maaf Nak. Tapi sepertinya mulai sekarang kamu harus bisa belajar menerima nya sebagai Adikmu, Adik yang hilang berapa puluh tahun yang lalu "...
..." Apa maksud Papa, Papa tahu kalau bagiku Alya adalah Renata Adikku yang hilang itu, lalu kenapa Papa bisa memutuskan ini secara sepihak. Aku harus melakukan tes DNA kepada mereka Pa, agar aku tahu mana yang Adikku mana yang bukan "...
Erik berdiri hendak melangkah pergi namun langkahnya terhenti mendengar ucapan sang Ayah.
..." Papa sudah melakukannya Nak, dan sayangnya hasilnya..... hasilnya adalah positif. Gadis itu adalah Adikmu, dia adalah Renata "...
Erik menghempaskan bokongnya di sofa dengan hati hancur, harapannya musnah. Ia berharap akan bersama dengan Alya sebagai saudara setelah tes DNA yang Ia yakini positif Adiknya, namun kini hanyalah kekecewaan yang Ia dapatkan.
Erik melangkah keluar dengan tergesa-gesa, hatinya benar-benar kalut saat ini.
Pak Hendrik mencoba menahan kepergian Erik namun gagal, mungkin Erik memang butuh menyendiri saat ini.
" Aku mau menenangkan diri Pa, tolong jangan ganggu aku. Beri aku waktu untuk menerima masalah yang kalian ciptakan untuk kami ini "
Alya yang baru selesai mandi bergegas keluar menemui kedua nya namun Ia bingung melihat Erik pergi dengan wajah yang suram.
..." Maaf Pak, Mas Erik kenapa ya. Kok dia pergi " Tanya Alya bingung. ...
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Alya terkejut dan berdiri mematung ketika tubuhnya seketika di peluk oleh Pria. Ya sekarang Ia di peluk oleh Pak Hendrik, apa yang salah dengan kedua Pria itu, kenapa mereka tiba tiba memeluknya, begitulah pikir Alya.
..." Maafkan Papa, kamu harus hati hati mulai sekarang. Papa sangat menyayangi mu dan Papa tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu "...
Kata kata itu jelas jelas terdengar di telinga Alya, Ia bingung apa maksud dari Pria itu. Bibirnya mengulang sepenggal ucapan Pria itu.
" Pa....... pa " Gumamnya pelan seperti orang linglung.
..." Iya Nak, mulai sekarang kamu bisa panggil Bapak dengan sebutan Papa, sama seperti Erik dan juga Adiknya Renata "...
Alya mengangkat wajahnya ada buliran bening jatuh di pelupuk matanya ketika Pak Hendrik sudah meninggalkannya seorang diri, Ia tidak menyangka akan mendengar itu semua.
***"
Di tempat lain Erik duduk di samping brangkar Rumah Sakit, Ia mengenggam tangan wanita yang sudah berminggu-minggu namun masih setia tidur disana seraya memejamkan mata. Tanpa sadar Ia sudah menangis sesegukan, hatinya sakit. Semuanya tidak sesuai harapannya.
..." Bibi bangun Bi..... ! Bibi harus bantu aku, Bibi sudah Erik anggap seperti Ibu sendiri. Erik sayang sama Ibu, Erik mohon Bu.... bangunlah. "...
" Wanita itu Bu, wanita itu datang secara tiba-tiba dan mengaku sebagai Adikku. Aku tidak ingin menerima semua ini, tapi..... tapi dia memiliki semua bukti yang menguatkan ucapannya. Bu.... Erik harus bagaimana sekarang "
Ia menumpahkan semua isi hatinya sambil menangis, sampai sampai air matanya membasahi tangan Bi Marni yang Ia gengam.
Karena lelah berpikir dan menangis Ia sampai tertidur sambil duduk dan juga tangan yang masih mengenggam erat tangan Bi Marni.
__ADS_1
Perlahan Bi Marni yang sudah tidur selama berminggu minggu akhirnya membuka mata, mungkin ikatan batin serta rasa sayang yang begitu kuat pada Erik sehingga tangis dan keluh kesah Erik mampu mengembalikan kesadarannya.
Ia mengelus kepala Erik yang masih tertidur, matanya sembab membuat Marni merasa sedih. Ia yang sudah lama hidup dengan Erik tentu tahu sifat anak itu, pasti saat ini suasana hatinya sedang tidak baik baik saja