
Kediaman Hendrik sedang menerka berkata siapa yang sudah membuat laporan sebenarnya.
" Bu, apa Ibu yang sudah melaporkan mereka " Tanya Hendrik.
Laurent menggeleng pelan
" Tidak Hen, meskipun Ibu membenci nya tapi Ibu idak akan sampai hati melaporkan mereka " Jawa Oma Laurent.
" Kalau bukan Ibu, Erik bahkan Aku juga, lalu siapa " Gumam Hendrik.
" Saya Om, saya yang sudah membuat laporan sehingga Papa dan juga Mama di tangkap, mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka "
Semua yang ada di tercengang akan perkataan Donita.
" Papa dan Mama, maksudmu kamu ---- " Suara Oma Laurent tertahan, Ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
" Iya Oma, Donita adalah anak dari Papa Hendra dan Mama Donita "
Oma terkejut tapi tidak dengan Hendrik dan juga Erik, mereka sudah mengetahui akan hal itu.
Donita berjalan dengan bantuan tongkat di kedua tangannya, belum habis mereka di buat terkejut oleh ucapan Donita kini mereka kembali di kejutkan dengan kehadiran Marni dan juga Alya.
" Ibu, Ibu sudah bisa berjalan "
Erik segera memberi pelukan kepada Marni dan kepada Adiknya.
" Rena " Erik merentangkan tangannya agar Adiknya itu memeluknya namun Alya malah bingung.
Ia takut berpelukan di depan banyak orang.
" Sini Nak " Oma memanggil Alya menghampiri nya.
Alya memberanikan diri mendekat, sebenarnya Ia bingung dengan tatapan semua orang.
" Jangan takut, kemarilah "
Merasa tidak ada pergerakan sama sekali akhirnya Oma yang datang mendekat, Ia memeluk Alya dengan haru.
" Maafkan Oma Rena, maaf karena Oma sudah jahat padamu "
__ADS_1
Wanita tua itu tak mampu menahan diri, Ia menangis dalam pelukan Alya.
" Oma kenapa, ini ada apa sih Mas "
Alya yang notabene nya lebih dekat dengan Erik lebih memilih bertanya langsung.
" Kamu Renata, Alya Renata, Adikku yang hilang, yang ku cari selama ini. Lebih tepatnya adalah kembaran ku "
Alya mengurai pelukannya, Tidak percaya dengan apa yang baru Ia dengar.
" Ini milikmu kan " Oma yang melihat kebingungan Alya langsung membawanya duduk berhadapan.
Alya meraih benda itu dan benar saja itu miliknya namun Ia sudah memberikan nya untuk orang lain, tidak mungkin Ia mengakuinya lagi.
" Bukan Oma, itu bukan punya Alya " Jawab Oma, Ia melirik Donita yang juga duduk tidak jauh dari mereka.
" Mereka sudah tahu ko Ren, itu punya kamu bukan punyaku, kamu memberikan nya padaku saat aku di rumah Papa. Aku minta maaf Ren, gara-gara kalung itu kamu jadi susah " Sesal Donita.
Alya mulai tahu sekarang
" Iya Ren, kamulah Renata yang asli. Namaku Donita bukan Renata, Papa Hendra sengaja memanipulasi semuanya demi bisa meraup harta warisan dari Oma, maafkan Aku dan juga Papaku "
" Gampang saja Oma buat membuktikan Rena yang asli, dia punya tanda lahir bulan sabit di pundak kirinya " Ucap Marni.
Marni mengetahui semua tentang bayi kembar Dahlia, karena Dia yang menemani persalinan Dahlia waktu itu.
Oma yang mendengar itu langsung mendekat dan mencari bukti itu, Ia memeriksa pundak Renata tidak ada apa apa disana, kemudian Ia berpindah pada Alya.
Oma terkesima ketika melihat tanda yang di sebut Marni.
" Kamu benar Marni, dia adalah Cucuku Renata. Alhamdulillah Nak, Oma menemukan mu "
Oma memeluk Renata dengan haru, Ia mengelus elus rambut cucu perempuan nya itu. Donita yang melihat itu merasa sedih, Ia berpikir Oma memang pilih kasih dan tidak pernah menganggap nya sebagai cucunya juga.
" Sini "
Oma merentangkan sebelah tangannya pada Donita, Ia tahu bahwa gadis itu juga adalah cucunya.
" Ke sinilah, kamu juga cucu Oma "
__ADS_1
Donita segera menghambur dalam pelukan Oma Laurent.
" Jangan pernah merasa sendiri sayang, kamu juga cucu Oma sama seperti Erik dan juga Renata. Maafkan Oma ya "
Donita ikut menangis haru, tidak menyangka akan mendapatkan perhatian yang sama seperti Erik dan juga Renata.
" Kalian cucu cucu Oma, semua nya sama di mata Oma, jadi kalian harus akur ya "
Donita segera mengangguk bahkan berulang kali, begitu juga dengan Renata dan juga Erik.
Mereka akhirnya tertawa bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oma Laurent mengajak Hendrik dan juga Mirna untuk berbicara, mereka memasuki ruang kerja milik Hendrik, tersisa tiga bersaudara itu yang nampaknya akan ada drama.
" Hei ternyata kita saudara ya Rik "
Erik yang mendengar itu menjadi tidak suka.
" Eh eh eh, no. Panggil Mas Erik jangan panggil nama tidak sopan tahu " Protes Erik.
" Nggak Rik, bukankah kita saudara. Kita tidak tahu siapa yang duluan keluar, kamu apa aku " Renata tidak mau mengalah.
" Ish jelas aku duluan, kamu harus panggil aku Mas "
Perdebatan dua bayi kembar mulai terjadi, Donita yang berdiri disana di buat pusing oleh keduanya.
" Stop, kenapa kalian jadi berebut siapa yang duluan lahir, siapa pun yang lahir duluan itu tidak penting. Yang penting itu kalian harus akur "
Donita menghela nafas berkali kali melihat tingkah kedua saudaranya itu.
" Don, tetap tidak bisa. Kami harus tahu siapa yang duluan lahir, dan aku yakin pasti aku yang duluan " Renata tetap bersikukuh.
Kedua saudara kembar yang biasanya akur kini harus rebutan siapa yang kakak dan siapa yang adik.
Keributan keduanya tehenti ketika tedengar suara Marni.
" Mas Erik yang keluar lebih dulu, dan kamu Rena sayang, kamu harus menghargai Mas Mu itu "
__ADS_1
" Ya " Rena sedikit kecewa, sementara Erik tersenyum penuh kemenangan.