
Keluarga Burhanuddin tengah di sibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan yang belum juga rampung, apalagi Rossa yang sejati nya menginginkan yang terbaik untuk kebahagiaan putranya. Ia tidak mau sampai ada celah, semua harus perfect pake banget, meskipun Andre sudah sering mewanti wanti dirinya.
" Ndre ! bagaimana dengan fitting gaun pengantinnya, apa kamu sudah ajak Alya ke butik langganan kita " Tanya Rossa di saat sarapan pagi.
Andre menggeleng pelan, Ia tidak punya keberanian untuk mengajak wanitanya itu.
" Belum Nak, tapi kenapa. Kita tidak punya banyak waktu Nak, jangan bilang kalau kamu takut mengajaknya jalan berdua. "
Rossa memperhatikan raut wajah Andre dan kemudian menggeleng pelan.
" Kamu ini mau serius nikah apa mau nunggu wanita itu di bawa kabur orang lain ha ~ "
Andre terkejut mendengar nada suara Rossa yang sedikit meninggi, namun bukan hanya itu. Ia terkejut mendengar kalau Alya akan di bawa oleh laki laki lain, tentu Ia tidak menginginkan hal itu.
" Eh nggak gitu juga Bu " Jawab Andre spontan.
" Bagaimana tidak, memangnya kamu nggak takut kalau Alya akan berubah pikiran dan meninggalkan mu. "
Andre langsung menghentikan sarapannya, Ia jadi tidak berselera mendengar ucapan Ibunya. Di raihnya tissue untuk membersihkan tangan serta mulutnya dan buru buru melangkah pergi.
" Kamu mau kemana Nak, kenapa buru buru begitu. Ini sarapannya juga kenapa tidak di habiskan dulu "
" Andre sudah kenyang Bu, Andre berangkat kerja dulu ya, Assalamu'alaikum " Pamit Andre seraya mencium punggung tangan Rossa.
" Wa' alaikum salam, i ~iya Nak, hati hati di jalan " Rossa menatap kepergian Andre dengan tatapan heran.
Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, waktu yang memang masih terlalu pagi membuatnya mengemudi dengan santai.
Sembari menyetir pikiran nya terus terngiang ucapan Rossa, Ia menggeleng perlahan.
" Tidak, aku harus bisa " Gumam nya
Setelah merasa yakin Andre akhirnya menambah kecepatan laju mobilnya. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit Andre memarkirkan mobilnya di sebuah rumah mewah.
Ia memandang rumah itu sebelum turun, banyak kenangan buruk disana.
" Bismillah semoga lancar " Andre menyemangati dirinya sendiri.
" Assalamu'alaikum "
Andre mengucap salam serta mengetuk pintu, tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka.
__ADS_1
" Eh Pak Andre rupanya, mari masuk. Mau ketemu Non Rena ya Pak " Goda Bibi.
Andre salah tingkah, apa dia mulai bucin sehingga mendengar nama Alya di sebut saja membuat jantungnya hampir melompat dari tempatnya.
" Ah iya Bi, apa Rena nya ada " Tanya nya kemudian.
Bibi mengangguk
" Ada Pak, mungkin sebentar lagi turun. Bibi kebelakang dulu ya, mau nyiapin sarapan " Bibi melangkah ke dapur namun langkahnya terhenti.
" Eh Pak Andre mau minum apa, biar Bibi buatkan "
Andre menggeleng
" Tidak perlu Bi, tadi aku sudah sarapan di rumah sebelum kemari "
" Ya sudah kalau begitu Pak, Bapak duduk saja dulu nungguin Non Rena "
Andre kembali mengangguk dan tersenyum. Ia memeriksa ponselnya sembari menunggu wanitanya turun.
Benar saja tidak menunggu lama akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga.
Ia menuruni anak tangga, dada Andre berdegub kencang melihat kecantikan wanitanya.
... " Bi ~ Mas Andre, untuk apa Mas Andre pagi pagi kemari " ...
Rena terkejut melihat calon suaminya tiba tiba ada di hadapannya, niatnya memanggil Bibi untuk menyiapkan sarapannya gagal.
" Assalamu'alaikum A eh Rena " Sapa Andre gugup.
" Wa'alaikum salam Mas, ada apa ya " Tanya Rena.
" Ah aku kemari ingin mengajakmu fitting gaun pengantin, apa kamu bisa. Atau kamu atur waktunya dulu kapan kamu punya waktunya "
Andre memberanikan diri mengutarakan maksudnya, Ia deg degan menunggu jawaban Rena. Ia maklum kalau Rena akan menolaknya karena kedatangan nya yang tiba-tiba, tidak ada pembicaraan terlebih dahulu.
" Baiklah Mas, tapi aku belum sarapan "
Di luar dugaan Andre ternyata Rena tidak menolak ajakannya yang tiba tiba.
" Oh ~ ah terima kasih, kamu sarapan saja dulu biar aku tunggu di mobil "
__ADS_1
Andre benar-benar salah tingkah karena gugup melihat wajah Rena.
" Apa Mas tidak ikut sarapan saja sekalian "
Lagi lagi Andre terkejut mendengar tawaran Rena, semua tidak seperti dugaannya. Mungkin Ia terlalu parno lebih dulu sehingga ketakutan, dan ketakutan nya membuatnya ragu.
" Mari Mas "
Melihat Andre yang bengong akhirnya Rena memanggilnya lagi, Andre mengangguk angguk. Karena gugup Andre malah menuruti ajakan Renata untuk sarapan berasama.
" Duduk disini saja Mas " Rena menarik kursi untuk Andre duduki.
Mengikuti naluri nya Rena mengambilkan piring serta menaruh nasi dan juga lauk di atasnya.
" Ini Mas, silahkan "
Andre menunduk ragu namun kemudian Ia menikmatinya juga.
" Bi, Mbak mana sih. Kok nggak ada di kamar " Teriak Nita sembari menuruni anak tangga.
Tidak lama di susul Erik yang juga menuruni anak tangga.
" Apaan anak gadis, masih pagi pagi sudah teriak teriak. " Tegur Erik
Donita langsung diam ketika melihat saudara laki-laki nya itu, Ia langsung mengekor di belakang Erik menuju meja makan.
" Sudah duluan rupanya Dek, itu adik bayimu nyari sampai teriak teriak "
Renata hanya tersenyum, Erik terkejut melihat ada orang lain di meja makan.
" Mas " Sapa Andre merasa tidak nyaman.
Ia ingin berdiri namun Erik menahannya.
" Lanjutkan saja sarapannya "
Andre mengangguk dan kembali melanjutkan sarapannya, Erik juga melakukan hal yang sama. Ia mengambil nasi serta lauk seadanya dan ikut sarapan tanpa bersuara.
Berbeda dengan Erik, Donita malah hanya memandangi Andre. Ia bingung kenapa Pria itu ada di meja makan pagi pagi begini.
" Donita, kapan kamu mau sarapan " Suara Erik mengejutkan Donita.
__ADS_1
Ia dengan cepat mengambil piring nasi dan juga lauknya, kemudian makan sambil menunduk. Ia begitu takut pada kakak laki-laki nya itu.