
Erik sangat kagum pada keberanian Andre dalam memperjuangkan cinta sang Adik kembar. Ia bahkan sampai memohon pada Erik yang Ia kira adalah kekasih Erik.
" Bangunlah, aku bukan Tuhan hingga pantas kau bersujud disana "
Andre tetap diam Ia tidak bergeming, bayangan Alya di nikahi pria lain sungguh membuatnya tidak sanggup.
" Aku mohon Erik, lepaskan dia. Aku benar-benar mencintainya. Kau bisa membunuh ku kalau nanti aku menyia nyiakan nya. Aku mohon "
Erik yang melihat itu menjadi tidak tega.
" Pergilah Andre, kejar dia. Buktikan kalau kau mencintainya, yakinkan dia kalau kau pantas untuknya. "
Andre mengangkat wajahnya melihat wajah Erik, Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang Ia dengar barusan.
" Benarkah itu, apa boleh "
" Pergilah sebelum aku berubah pikiran "
Andre langsung berdiri dan berterima kasih pada Erik atas kebaikan hati Pria itu.
" Ingat janjimu, kalau kau mengingkarinya aku akan mengambilnya kembali darimu. Kalian masih baru menikah ataupun jadi nenek sekalipun, aku jamin kau tidak akan menemukan lagi "
Andre mengangguk mantap.
" Pasti Erik, nyawaku taruhan nya kalau aku sampai menyakiti nya. Lagipula aku belum mau mati, dan aku tidak ingin menyakitinya. Terimakasih atas kebaikanmu ini akan ku ingat selamanya "
Andre langsung pergi ketika mengatakan itu, Ia harus melanjutkan misinya.
" Ya Allah mudahkanlah urusanku, lembutkan hatinya agar dia mau menerima ku "
Andre mengusap wajahnya pelan, sambil melangkah meninggalkan kantor Erik.
Erik geleng-geleng kepala melihat tingkah Pria yang jauh lebih tua darinya. Sebenarnya Ia ragu, bukan ragu akan cinta Andre namun Ia ragu pada Adiknya. Apa Adiknya itu akan menerima Pria itu lagi setelah semua yang sudah terjadi di masa lalu.
Sudah beberapa hari ini Andre menunggu waktu untuk bertemu Alya tapi sangatlah susah. Keduanya yang sangat sibuk membuat mereka susah bertemu.
Satu satunya harapan Andre hanyalah mendatangi kantor dimana wanitanya itu bekerja.
" M ~ Mas Andre ! "
Renata terkejut melihat kehadiran Andre, Ia yang tadi datang terburu-buru dengan sedikit berlari akhirnya memelankan jalannya.
" Hai Al, kita jumpa lagi. Bagaimana kabar mu "
Andre susah payah menahan degub jantung nya. Berada begitu dekat dengan wanita pujaannya sungguh membutuhkan kekuatan ekstra buat jantung nya.
__ADS_1
" Aku baik Mas "
Renata menoleh kanan dan kiri, Ia takut ada yang melihatnya itu akan menjadi masalah di kantor. Belum lagi kalau kakak dan adiknya yang melihat mereka berdua, Ia akan jadi bulan bulanan mereka.
" Untuk apa Mas disini, mau ketemu Mas Erik bukankah Mas Andre sudah tahu ruangannya. "
Renata berpikir menghindar, ini juga sudah jam kerja. Pekerjaan nya sudah menumpuk di ruangannya.
" Aku tidak ingin bertemu dengan Mas mu itu, tapi aku ingin bertemu denganmu. Al~ bisakah kita bicara berdua "
Renata semakin khawatir Erik akan melihat mereka berdua
" Maaf Mas, aku harus bekerja sekarang "
Andre menahan tangan Alya.
" Aku tunggu jam Istrahat mu, ini sangat penting Al "
" Baiklah Mas " Alya menyerah, Ia tidak mau berlama lama lagi disana.
Hati Andre bersorak kegirangan, akhirnya Ia bisa berbicara berdua dengan pujaan hatinya.
" Aku akan jemput kamu nanti jam istrahat ya "
Ah Alya ternyata tidak berpikir panjang ya, hanya untuk menghindari Andre agar tidak menjemput nya Ia malah memberikan nomor ponselnya.
" Tapi aku tidak punya nomor mu Al "
Alya merogoh tas kecilnya dan memberikan ponselnya untuk Andre, dengan cepat Andre mengambil serta menulis nomor telpon miliknya.
" Oke aku tunggu disana ya, sampai jumpa "
Andre pergi dengan hati bahagia
Jam istrahat tiba
" Mbak~ Mbak Rena, tunggu ! "
Rena menghentikan langkah nya mendengar suara sang Adik memanggilnya.
" Mbak mau kemana, aku ikut dong "
" Mbak nggak kemana-mana Nita, hanya mau cari makan "
" Itu dia Mbak, aku ikut cari makan, perut ku lapar "
__ADS_1
Renata mendadak bingung, bagaimana ini. Alasan apa yang akan di berikan pada Adiknya agar Ia tidak ikut, bukan maksud Renata tidak mengajak sang Adik untuk makan, tapi makan mereka kali ini bukan makan biasa. Apalagi kalau sampai Donita tahu kalau Ia bertemu dengan Pria yang dia sebut tua habislah dia.
" Tapi Mbak ada urusan langsung setelah ini di tempat lain, mungkin Mbak akan terlambat. Mbak tidak mungkin membawamu, bagaimana dengan pekerjaan mu di sini " Renata memberi alasan.
Donita tetap memaksa ingin ikut hingga akhirnya terdengar sebuara suara yang akhirnya membuat Donita akhirnya mengalah.
" Nita, kamu cari makan sama Mas saja gimana "
Donita akhirnya menurut, Ia tak punya keberanian untuk menolak ajakan kakak laki-laki nya itu.
Renata berterimakasih pada Erik karena sudah menyelamatkan nya dari sang Adik.
" Nah tuh Dek, kamu sama Mas saja ya. Untuk Mas ku yang baik ini, makasih ya "
Renata buru buru pergi, Ia memeriksa ponselnya mencari alamat yang mungkin sudah di kirim Andre untuknya.
" Ah pakai motor saja enak " Gumamnya.
Ia melesat dengan motor kesayangannya menuju tempat yang sudah di kirimkan Andre lewat pesan hijaunya.
Tidak butuh waktu lama sampai Renata memarkirkan motor miliknya dengan sempurna.
Ting ~
...Aku di dego terakhir Al...
Matanya langsung tertuju pada tempat duduk seperti pos yang terletak paling akhir.
" Hai Mas, apa sudah lama menunggu, maaf sedikit macet "
Renata terpaksa berbohong, sebenarnya perjalannya lancar hanya saja waktunya terbuang karena Ia harus membujuk sang Adik agar tidak ikut.
" Ah tidak juga Al, aku juga baru tiba "
Keduanya sama-sama berbohong, yang sebenarnya Andre sudah datang sejak satu jam yang lalu. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alya.
Suasana jadi canggung karena memang semenjak masalah yang terjadi di masa lalu mereka tidak terlalu dekat lagi.
" Hm bagaimana kabarmu Al "
Astagfirullah pertanyaan bodoh akhirnya keluar di bibir Andre. Karena gugup akhirnya bingung harus memulai pembicaraan dengan apa, tiba-tiba pertanyaan itu yang muncul di benaknya.
" Aku baik Mas "
Meskipun bingung Renata tetap menjawabnya.
__ADS_1