
Anggun mondar mandir di dalam rumah mewah yang sangat megah bak istana kerajaan, semenjak kembali dari rumah sakit pikiran dan hatinya menjadi tak tenang, apalagi mengingat Perawat yang di kirimkan Erik anak tirinya itu merupakan seorang wanita yang sangat cantik, pikirannya menjadi kalut.
Belum lagi rencana awal untuk mendapatkan semua hal yang di inginkan nya, begitu pula memikirkan cara menyingkirkan Erik sang pewaris seluruh harta kekayaan keluarga itu, sekarang di tambah lagi dengan kehadiran seorang wanita cantik yang merupakan ancaman baginya.
" Hah aku tidak bisa seperti ini, pikir Anggun pikir..... jangan sampai kamu kalah dan kehilangan semuanya "
Satu hal yang sangat di sesali Anggun karena tidak memiliki apapun untuk jadi pengikat, karena memikirkan penampilannya Ia sampai menolak semua keinginan Hendrik sebagai suaminya.
Pintu ruang rawat terbuka, nampak Erik yang memasuki ruangan tempat sang Ayah di rawat, membawa beberapa kantong plastik di tangan kanannya, tidak ketinggalan senyum manis yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Sebelumnya Ia sudah menemui Dokter yang menangani sang Ayah, mereka mengobrol banyak hal yang penting mengenai keadaan Pak Hendrik.
" Assalamu'alaikum " Sapa Erik memberi salam.
" Waalaikum salam Mas, eh Mas pagi pagi sudah kemari, apa Mas nggak kerja "
Erik membalasnya dengan senyuman, senyum khas dirinya yang semakin menambah kharismatik nya.
" Aku kerja Al tapi nanti agak siangan, bagaimana kondisi Papa apa ada peningkatan " Tanya Erik.
Ya, perawat yang di kirim Erik adalah Alya, Alya menyamar jadi perawat dadakan. Erik memang sengaja memilih Alya mempercayakan semua kepada gadis cantik itu dan tentu saja bukan tanpa alasan.
" Papa Mas, eh... Pak Hendrik alhamdulillah sudah ada peningkatan. "
Erik kembali tersenyum kali ini karena bahagia.
__ADS_1
..."Papa pasti akan selalu aman di tanganmu, aku juga yakin Papa akan sangat bahagia nanti, semoga saja ada keajaiban di antara kalian " Batin Erik....
" Alhamdulillah Al, aku yakin kamu pasti bisa merawat Papa, dan aku juga yakin Papa pasti akan segera bangun dan juga cepat pulih kalau kamu yang merawatnya "
Alya tertawa kecil mendengar ucapan Erik, baginya itu terlalu berlebihan. Dirinya hanyalah gadis biasa bukan seorang tenaga medis, yang Ia lakukan hanyalah merawat dengan baik dan senang hati agar beliau merasa nyaman dan segera membaik.
" Mas ih terlalu berlebihan, aku kan bukan perawat. Aku hanya gadis biasa yang tak punya pengalaman apa pun, yang aku lakukan hanyalah membuat Pak Hendrik senyaman mungkin dan yang pasti memastikan kondisinya baik baik saja. "
..." Melihat kondisi Papa yang sangat memprihatinkan seperti ini, ku tidak akan sembarangan menyerahkan tugas merawat Papa pada sembarang orang. Aku tidak salah memilihmu, semoga dengan ini bisa menimbulkan ikatan batin di antara kalian berdua Al " Batin Erik....
" Al makan yuk, ini aku bawakan makanan dari Resto kemarin, aku ingat kamu sangat suka sama makanan ini. "
Erik berucap sambil tangannya membuka bingkisan yang Ia bawa. Alya yang memang yang menyukai makanan satu itu membuatnya begini ingin memakannya. Air liurnya hampir saja menetes
" Taraaa... ! cumi asam pedas kesukaan tuan putri "
..." Papa, cepat bangun. Ini Erik bawakan makanan kesukaan Papa, cumi asam pedas. Lihatlah Pa....! sampai selera kalian saja sama "...
Ada sedikit rasa tak nyaman di hati Erik namun Ia membuang jauh jauh rasa itu.
" Yuk Al, jangan di lihatin terus tapi di makan. Coba lihat itu sampai air liur mau netes "
" Ih mana ada Mas, aku nggak ileran tahu "
Alya cemberut mendengar godaan Erik, melihat itu Erik hanya tertawa.
__ADS_1
" Iya, kamu adikku yang paling cantik masa ileran "
Alya yang baru akan memasukkan satu suapan ke mulutnya mendadak tertahan mendengar ucapan Erik, sedangkan Erik masih belum menyadari ucapannya itu.
" Adik.... Mas, maksudnya " Tanya Alya.
Erik akhirnya menyadari kekeliruan nya segera Ia meralat ucapannya dan memperbaiki nya.
" Oh itu Al, kamu itu kan unyu unyu, cewek dan juga mewek. Aku kan senang sama kamu dan ingin menjadikan mu adikku, lagi pula kan aku juga tidak punya adik, jadi aku mau meminang kamu menjadi adikku, apa kamu bersedia "
Sebisa mungkin Erik bersikap netral agar Alya bisa menerima alasannya.
" Sudah sudah Al, pasti mau kan. Mau dong, mau ya.....! Erik seperti memohon dengan menangkup kan kedua tangannya.
Alya mencoba mengartikan ucapan Erik, tidak ada yang salah sih hanya saja apa pantas dia punya hubungan dengan orang kaya, Ia takut lagi lagi mendapat penolakan dan juga hinaan.
" Tidak apa apa sih Mas, tapi nggak ah aku nggak mau. " Wajahnya menampilkan wajah yang memprihatinkan.
" Nggak mau, tapi kenapa. Apa aku nggak boleh punya Adik dan nggak pantas di panggil kakak " Kali ini Erik bertanya serius.
..." Bukan Mas sih sebenarnya, tapi aku yang tidak pantas. Aku tidak mau di pandang hina dan di katakan upik abu atau cinderela mimpi di siang bolong. "...
Erik menarik nafas lega, Ia pikir Alya tidak menginginkan nya menjadi kakaknya karena Erik memang tak pantas.
..." Kamu memang cinderela adikku, kelak aku akan membawamu pulang, kembali ke tempat asal mu agar tidak akan ada seorang pun yang berani menghinamu apalagi menganggu mu, bersabarlah sedikit sayang, kita akan sama sama nanti "...
__ADS_1
..." Jangan pikirkan orang lain Al, kita tidak akan bisa menutup setiap mulut semua orang yang hanya mampu menilai kita dari luarnya saja. Cukup tutup telinga kita dan berlakunya masa bodoh "...
{ Memang mudah mengucapkan, mudah memberi nasihat, tapi akan jadi sangat sulit ketika kita mengalaminya sendiri }