Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Fitting gaun pengantin


__ADS_3

Erik langsung bertanya perihal kedatangan Andre ke rumah mereka di pagi pagi buta, sebelum nya Ia ingin menanyakan tapi waktunya tidak tepat.


" Ada perlu apa Andre "


Suara Erik mengejutkan Andre, entah mengapa sekarang Ia menjadi ketakutan. Tidak seperti sebelum nya Ia bahkan menantang beradu jotos, sekarang suara Pria di depannya itu bagaikan malaikat pencabut nyawa baginya.


" Ah, aku izin mengajak Rena untuk fitting gaun pengantin, apa boleh " Entah mengapa malah itu yang keluar di bibir Andre.


Erik mengangguk angguk beberapa kali dengan bibir sedikit di majukan, berpikir beberapa saat.


" Pergilah "


Andre merasa senang, bibirnya juga menyunggingkan senyum.


" Ma ~


" Tapi ingat, jaga adik ku dengan baik. Pagi ini dia segar bugar sebelum keluar rumah kembalikan dia dalam keadaan yang sama, apa kamu mengerti "


" Mengerti Mas, pasti aku akan menjaga nya dengan baik. Terima kasih atas ijinnya " Andre segera menjawab pesan Erik.


Ia takut rencana nya akan gagal kalau pagi ini Ia tidak dapat ijin.


" Kenapa masih diam disitu, kapan kalian akan berangkat " Tanya Erik lagi.


Andre segera menghampiri Rena karena spontanitas terkejut mendengar suara Erik.


" Ayo Ren, kita pergi sekarang " Ajak Andre.


Renata mengangguk, Ia mencium punggung tangan Erik dan segera berpamitan.


" Rena berangkat dulu ya Mas, Assalamu'alaikum " Ia melangkah lebih dulu di susul Andre yang nampak bingung.


Erik tertawa kecil melihat tingkah Andre, sejak tadi Ia menahannya karena ingin aktingnya sukses.


" Dasar konyol " Gumam Erik.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya kemudian berlalu dari meja makan.


" Mas ! " Panggil Nita.


Erik menghentikan langkahnya menunggu sang Adik.


" Ada apa Nit " Tanya Erik.


" Boleh nebeng Mas " Donita menunduk karena Erik meninggalkan nya.

__ADS_1


" Kapan berangkat nya Nit, apa kamu akan tetap berdiri disana sampai jam kerja usai "


Donita mengangkat wajahnya dan tersenyum, dia bersorak dalam hati.


..." Yes, alhamdulillah irit bensin " Batinnya....


" Mas, tungguin dong. Laju amat sih, jalan saja kaya lari gitu Mas " Gerutu Donita.


Erik menghentikan langkahnya menunggu adik bungsunya itu.


" Bukan Mas yang jalannya cepat tapi kamu nya yang jalan lelet kaya kura kura saja "


Erik mengacak rambut Donita membuatnya cemberut.


" Mas ih, jangan di acak dong rambutnya. Kan jadi kucel lagi "


Erik hanya tertawa kecil sambil menarik tangan Donita agar jalannya lebih cepat.


...**********...


Andre curi curi pandang pada Rena yang hanya diam saja.


" Apa kamu tidak senang jalan dengan ku Al " Tanya Andre yang merasa kurang nyaman atas diamnya Renata.


Rena menoleh


" Maksudnya "


Rena menatap lurus kedepan.


" Itu perasaan Mas Andre saja, kalau aku tidak nyaman aku tidak akan ada disini sekarang. "


Satu jawaban Rena yang mungkin sederhana bagi Rena namun terdengar bagai kata mutiara bagi Andre. Ia merasa senang atas jawaban Renata.


" Maafkan Mas Erik ya "


Sejak tadi Rena merasa tidak nyaman pada Andre karena ucapan Erik, Ia tahu Mas nya itu sengaja melakukannya agar Andre merasa segan padanya.


" Maksudnya " Kening Andre berkerut.


" Siapa tahu Mas tadi tersinggung dengan ucapan Mas Erik "


Andre tersenyum dalam hatinya bersorak, wanitanya ternyata perduli dengan perasaan nya. Apa kali ini nyata atau hanya khayalan nya saja, Ia mencubit kulit tangannya sendiri dan kemudian meringis karena merasakan sakit.


" Ah tidak apa apa Al, aku sama sekali tidak tersinggung. Lagi pula apa yang Mas Erik lakukan itu hal yang wajar, untuk melindungi adik perempuan nya. Aku juga melakukan hal yang sama pada Adikku dulu, hanya ingin agar tidak ada yang menyakiti nya "

__ADS_1


Renata menghela nafas lega, ternyata yang di lakukan Erik selama ini karena kakak laki-laki nya itu sangat menghawatirkan dirinya.


Mereka tiba di butik langganan setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, kedatangan keduanya langsung di sambut sang pemilik butik yang langsung mempersilahkan keduanya untuk masuk.


Renata mengangguk dan ikut masuk mengekor pada wanita yang masih sangat cantik di usia nya yang mungkin tidak muda lagi.


" Apa Ibu yang sudah menghubungi Tante " Tanya Andre yang bingung karena langsung di sambut ketika mereka baru saja tiba.


Wanita itu mengangguk membenarkan.


" Iya Pak Andre, baru saja Ibu Rossa menghubungi kami "


Andre mengangguk angguk mengerti.


" Mari ke dalam, kita pilih gaun mana yang Bapak dan Ibu mau untuk acara bahagianya "


Andre dan juga Renata mengangguk dan ikut melangkah masuk. Andre mengatakan apa yang menjadi keinginan nya tentu saja itu hasil diskusi dengan Renata. Renata mencoba beberapa gaun yang tentu saja harganya bukan kaleng kaleng.


Akhirnya mereka memilih tiga gaun untuk resepsi pernikahan mereka.


" Apa bisa selesai sebelum tiga minggu dari sekarang " Tanya Andre.


Wanita itu mengangguk, tentu mereka harus melakukan yang terbaik karena Rossa adalah pelanggan tetap di butik itu.


" Bisa Pak, kami akan usahakan sebelum waktu yang di tentukan tiba "


Andre mengangguk dan mereka pun pamit untuk pulang. Andre berdehem mengurangi rasa gugup di hatinya, sejak tadi Ia terpesona melihat keanggunan Alya dengan gaun indah yng melekat di tubuhnya. Ia bahkan sempat tak berkedip beberapa saat, untung saja otak warasnya cepat kembali.


" Terima kasih ya Rena untuk waktunya hari ini "


" Hm " Jawab Rena.


" Oh ya, apa kamu ada acara lagi di luar biar aku antar "


Renata berpikir sejenak


" Tidak ada Mas, kalau boleh Rena minta tolong antar ke kantor saja. Ada beberapa pekerjaan yang penting soalnya hari ini "


" Tentu saja bisa tuan putri "


Andre lagi lagi tersenyum, hari ini Ia sangat sangat bahagia, bisa jalan berdua dengan wanita yang sudah mencuri hatinya untuk yang kedua kalinya.


" Masuklah Al "


" Iya Mas, makasih ya sudah di antar. Hati hati di jalan " Andre mengangguk.

__ADS_1


Ia baru meninggalkan tempat itu setelah Alya agak jauh darinya. Sepanjang perjalanan senyum terus tersinggung di bibirnya, hari ini Ia mendapatkan semangat yang paripurna.


__ADS_2