
Kamila merasa simpati pada nasib kakaknya, namun Ia bingung harus berbuat apa. Ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
" Mila..... ! Tunggu, kamu mau kemana "
Kamila menghentikan langkahnya dan menoleh
" Aku harus berbicara dengan Kak Nayla, tidak bisa di diamkan terus berlarut seperti ini " Jawabnya.
" Tunggu Mila, tidak perlu mengganggunya lagi. Jangan di paksakan, Mas tidak ingin menekan nya lagi, biarkan dia menenangkan diri. " Pinta Asrul.
" Tidak apa apa Mas, aku tahu apa yang akan aku lakukan, Mas tunggu saja disini "
Asrul tidak bisa menahan kepergian Kamila, walau hatinya cemas tapi Ia juga ragu mencampuri urusan kedua bersaudara itu.
Tok tok tok " Bunyi pintu di ketuk
Berulang kali Kamila mengetuk pintu namun tidak ada jawaban
" Kak..... Kak Nay.... buka pintunya, Mila tahu kalau Kakak ada di dalam "
Nayla bukannya tidak mendengar tapi Ia sedang malas berjalan untuk membuka pintu, mungkin karena pengaruh belum makan siang tubuhnya menjadi lemah.
" Kakak.......! "
Karena pintu di ketok hingga berulang kali akhirnya Nayla menguatkan diri untuk membukakan pintu.
" Iya Mila "
Tanpa menunggu lama Kamila langsung melangkah masuk
" Mau sampai kapan Kakak akan mengurung diri disini, Kakak juga pasti belum makan. Apa masalah yang sedang kakak hadapi sekarang harus kakak limpahkan juga ke makanan hingga Kakak tidak ingin keluar dari ruangan ini dan makan siang "
Kamila yang memang cerewet sudah tidak di ragukan lagi
__ADS_1
" Kakak tidak lapar, kalau Kakak lapar nanti juga Kakak akan makan. Sekarang Kakak hanya ingin menyendiri dulu " Ucapnya.
Kamila mengeleng geleng kan kepalanya mendengar jawaban Nayla.
" Tidak lapar Kak ? Kakak yang tidak lapar lalu apa kakak akan mengorbankan orang lain yang juga ikut puasa seperti Kakak, karena tidak selera makan melihat Kakak seperti ini "
" Tidak selera makan, ikut puasa. Maksudmu siapa Mil " Tanya Nayla.
" Pikirkan saja sendiri " Jawab Kamila
Hanya cara ini yang terbesit di pikirannya agar Kakaknya itu mau keluar dari dalam ruangan itu.
Nayla mulai berpikir siapa yang di maksud adiknya itu
" Alwi.......! "
Nayla terkejut setelah pikirannya tertuju pada satu orang.
" Apa Alwi belum makan siang Mil " Tanya Nayla.
Nayla segera berlari keluar dan menaiki anak tangga menuju ke lantai atas dimana kamar Putranya berada.
" Sayang.... maafkan Mama, kamu pasti lapar seperti Mama, Mama juga lapar " Gumam Nayla sembari terus berlari kecil.
Tok tok tok "
" Nak..... ini Mama sayang, buka pintunya Nak. " Panggil Nayla namun tidak ada jawaban.
Ia semakin khawatir ketika sudah berulang kali mengetuk namun tidak ada jawaban juga.
..." Mas Asrul, iya Mas Asrul.....! "...
Nayla berlari kembali ke lantai bawah sembari memanggil manggil nama Asrul.
__ADS_1
" Mas..... Mas Asrul..... Mas dimana ? " Panggil Nayla panik
Asrul yang mendengar namanya di panggil pun segera mencari asal suara.
" Mas...... Alwi Mas, bantu aku.....! Pintunya aku ketuk ketuk sejak tadi namun tidak ada jawaban. Aku sangat khawatir padanya Mas, ayo Mas.......! "
Nayla tanpa sadar menarik tangan Asrul dan mengajaknya ke lantai atas. Sambil berlari kecil Asrul hanya melirik tangannya yang di gandeng Istrinya, jujur Ia sangat bahagia walau hanya sesaat dan mungkin di luar kesadaran nya karena terlalu khawatir.
Keduanya bergantian mengetuk pintu dan memanggil manggil nama Alwi. Alwi yang terbangun karena samar samar mendengar namanya di panggil pun akhirnya keluar.
" Mama, Papa...? ada apa ? " Gumam Alwi bingung.
Ia segera membukakan pintu untuk keduanya
" Iya Ma, Pa.... ada apa ? " Tanyanya bingung.
..." Kenapa Mama dan Papa nampak sangat khawatir, ada apa sebenarnya " Batinnya...
Nayla langsung memeluk Putranya itu, Ia menangis karena rasa khawatirnya dan juga rasa bersalah karena telah membuat Putranya ikut merasakan yang Ia rasakan.
" Maafkan Mama Nak, Mama sudah buat kamu seperti ini "
Alwi bingung melihat Ibunya yang menangis sambil memeluk dirinya, seakan akan takut terjadi sesuatu hal yang buruk.
Dia baru sadar setelah melihat Tantenya dari jauh memberinya isyarat padanya, Ia pun tersenyum
" Mama, apa Mama akan terus menerus memelukku seperti ini. Aku sudah lapar dan ingin makan sekarang "
Nayla melepas pelukannya dan tersenyum.
" Iya sayang, tapi Mama belum masak "
Alwi bingung harus menjawab apa, Ia melihat intruksi dari sang Tante. Dari jauh Mila menggoyang goyangkan tangan nya memberi isyarat.
__ADS_1
" Ah tidak usah Ma, Alwi sudah sangat lapar. Kita makan apa saja yang ada di bawah, asal makan sama Mama dan Papa pasti rasanya enak " Ucapnya kemudian
Sesungguhnya Ia tidak lapar karena sebelum tidur Ia sudah lebih dulu makan, namun karena Ia tahu ini adalah rencana dari Tante nya buat Mama dan Papanya, akhirnya Ia pun mengikuti skenario itu.