Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Pria tua & rasa yang masih sama


__ADS_3

Anggun melangkah masuk ke kamarnya, kamar yang sudah beberapa hari ini di tinggal nya karena beberapa masalah. Ia mencari dimana keberadaan suaminya, di pandangnya pintu menuju balkon terbuka, iya yakin kalau Hendrik berada disana dan benar tebakannya.


... " Mas, ngapain sih orang-orang itu ada di sini "Tanya Anggun seraya bergelayut manja di pundak Hendrik. ...


" Orang-orang siapa maksud kamu, hm... kamu ini kemana saja sih, sudah berhari-hari tidak pulang datang datang bukannya layani suami dulu malah bertanya banyak macam hal "


Anggun menarik nafas dan tersenyum, Ia kemudian duduk di pangkuan Hendrik dan mengalungkan tangannya di leher pria itu.


..."Rupanya suamiku ini rindu ya, baiklah sayang... ! ayo, aku akan memuaskan mu sayang " Ia berbisik mesra di telinga suaminya seraya menggigitnya pelan. ...


Hendrik yang masih sangat perkasa meski di usianya yang tidak terbilang mudah lagi, dengan mudahnya mengendong tubuh Anggun ke tempat pembaringan mereka.


Di rebahkan nya tubuh Anggun di atas tempat tidur, Anggun menunggu reaksi dari Hendrik. Terus terang saja Ia merindukan berhubungan intim lagi seperti sebelum sebelumnya, Hendrik selalu bisa membuatnya melayang hingga ke nirwana.


..." Aku ingin kamu yang memimpin sekarang, ayo Baby puaskan aku " Pinta Hendrik dengan suara beratnya. ...


Tanpa menunggu lama Anggun mulai melancarkan aksinya, kali ini Ia harus melakukan servis yang terbaik untuk Pria itu. Namun sayang dugaannya salah, sudah hampir satu jam Ia melakukan tugasnya namun tak nampak Pria itu akan mencapai puncaknya, Ia sampai kelelahan. Anehnya Hendrik malah tidak sekalipun terlihat lelah.

__ADS_1


..." Kenapa sayang hm..... ! Apa kamu sudah tidak sanggup melayani ku, baru juga begini kamu sudah kewalahan, aku bahkan belum puas sama sekali " ...


Ingin rasanya Hendrik mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun Ia coba tahan. Tidak akan ada untungnya baginya kalau Ia gegabah.


... " Sial nih tua bangka, dapat tenaga dari mana sih. Biasanya juga hanya sebentar sudah lehoy, bisa bisanya Ia merendahkan ku, kalau bukan karena tujuanku belum tercapai aku tidak akan menjadi orang bodoh yang mau hidup dengan Pria tua sepertimu " Batin Anggun. ...


..." Kenapa sayang hm..... Apakah hanya segitu kemampuanmu, permainan mu bahkan sangat monoton. Tidak bisakah kamu mempunyai gaya lain untuk memuaskan ku "...


Ucapan yang di sertai dengan senyuman tetapi bagai racun berbisa.


Pria tua, itulah yang selalu Ia katakan berulang kali. Hingga satu jam berlalu dengan banyak gaya yang Ia lakukan, akhirnya Pria itu mencapai puncaknya dan terbaring di ranjang dengan nyenyak nya.


Anggun yang merasa seluruh tubuhnya hampir rontok pun akhirnya tertidur di samping Pria itu.


***


Sejak tadi Marni mondar mandir bersama kursi rodanya, pasalnya sejak pagi tadi Ia tidak melihat kehadiran Hendrik, hatinya sudah menduga duga banyak hal. Ingin rasanya Ia naik ke atas namun tidak mungkin karena dirinya sendiri menggunakan kursi roda.

__ADS_1


" Ada apa Bi " Tanya Alya yang melihat kegelisahan di wajah Marni.


" A..... A.... "


Hanya itu yang mampu Ia ucapkan namun ekor matanya tetap mengamati di lantai atas, berharap bisa melihat yang Ia cari. Alya mengikuti arah pandangan Bi Marni dan kemudian tersenyum.


" Bibi menghawatirkan Papa ya "


Alya membungkuk di depan kursi roda Marni, meraih tangan wanita itu dan tersenyum.


..." Bibi nggak usah khawatir, Papa pasti baik baik saja, apalagi tadi Tante Anggun kan baru saja pulang, mungkin mereka sedang istirahat " Bujuk Alya agar Bibinya itu tenang. ...


Bukannya tenang wanita malah tambah murung, terpikir oleh nya banyak hal dan hatinya terasa sakit.


..." Kenapa sesakit ini Tuhan, rasa ini ternyata masih sama seperti dulu. Mas, kenapa kamu membawa ku kemari, apa ini tujuanmu, untuk menyaksikan kemesraan kalian. Tidak cukupkah kamu menyakiti ku selama ini " Batin Marni. ...


Ia kembali mendorong kursi rodanya kedalam kamar, ingin mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2