Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Sampah


__ADS_3

Alya yang lagi mengerjakan tugasnya di kejutkan dengan gerak tangan dari Pak Hendrik, jantungnya berdegup kencang. Segera Ia memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Pak Hendrik.


" Dok...... Dokter..... ! "


Beberapa Pria berseragam lengkap nampak berlari kecil memasuki ruang rawat, pandangan yang awal gelap tiba tiba ada cahaya dan berangsur angsur menjadi sebuah ruangan berwarna putih.


Pak Hendrik mengerjabkan matanya memindai ruangan serba putih itu. Mimpi panjang membuatnya susah untuk membedakan apa dirinya masih hidup atau sudah di dunia lain.


Suara Dokter yang menanyakan kabar nya samar samar terdengar. Ia memandang dengan jelas semua isi ruangan itu termasuk Dokter dan yang lainnya.


" Bagaimana perasaan Bapak sekarang apa ada keluhan Pak " Tanya Dokter ramah.


" Alhamdulillah Dok, oh ya sudah berapa saya disini "


Pak Hendrik mencoba memahami semuanya begitu juga dengan tidur panjangnya. Ia memindai sekeliling mencari orang yang di kenalnya namun tak nampak, Alya yang sejak tadi tertegun melihat Pria yang Ia rawat beberapa hari ini akhirnya siuman pun berani melangkah maju.


" Bapak mencari anak Bapak ya, hmm.... Mas Erik baru saja pulang, tapi sebentar lagi dia pasti kemari "


Hendrik memandang wajah cantik Alya apalagi senyum manisnya, wajahnya berkerut


" Dia, dia perawat yang di perintahkan khusus Pak Erik untuk merawat Bapak selama beberapa hari ini " Jelas Dokter yang seolah menyadari apa yang Hendrik pikirkan.


Alya kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya.


" Alya, nama saya Alya, saya senang Bapak akhirnya sudah siuman, Mas Erik pasti akan sangat bahagia dengan kabar ini, hm... bentar ya Pak, saya kabari dulu "


Alya melepas tangannya dan mulai mengambil ponsel guna menghubungi Erik sementara Dokter kembali memeriksa kondisi Hendrik secara menyeluruh.


Baru saja Ia akan menelpon Erik guna memberitahukan kabar baik dari Ayahnya ternyata Erik sudah tiba terlebih dulu di ruangan Ayahnya.


Matanya berbinar ketika melihat sang Ayah sudah siuman dan menatapnya haru, Erik memang jarang menemui sang Ayah ketika Ayahnya memilih menikah lagi dengan wanita yang lebih muda darinya, wanita yang lebih cocok bersanding dengan Erik di banding dengan sang Ayah.


Awalnya Erik menyetujui nya karena sang Ayah yang meminta, namun seiring berjalan nya waktu Ibu tirinya itu mulai berubah. Entahlah apa Ibu tirinya itu berubah atau mungkin itu sifat aslinya yang sengaja Ia tutupi selama ini hanya agar bisa hidup bersama sang Ayah.

__ADS_1


" Dok, bagaimana kondisi Papa " Tanya Erik


Dokter tersenyum " Alhamdulillah Pak Erik, kalau dari pemeriksaan saat ini beliau baik baik saja namun kita harus pastikan dengan tes yang lebih akurat, siapa tahu ada luka dalam yang serius. Kalau setelah itu hasilnya bagus Pak Hendrik sudah bisa pulang "


Erik dan Alya mendengarkan penjelasan Dokter dengan seksama.


" Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu mau keliling untuk memeriksa pasien yang lain "


Erik dan juga Alya mempersilahkan dan tidak lupa untuk berterimakasih pada Dokter itu.


" Pa..... ! " Erik mencium punggung tangan Ayahnya.


" Maafkan Erik karena...... "


" Tidak apa apa Nak, Papa ngerti. Oh ya itu siapa Nak " Potong Hendrik dan langsung menanyakan keberadaan Alya langsung pada Anaknya.


..." Apa aku katakan saja siapa Alya sebenarnya, ah sepertinya nanti saja. Papa baru saja siuman, aku tidak mau kondisi Papa menurun lagi gara gara kabar ini "...


Alya pun melangkah mendengar dan tersenyum ramah.


" Pa, ini Alya. Dia..... dia " Erik bingung harus mengatakan apa


" Perawat yang kamu pilihkan untuk Papa, benarkan, Makasih ya Nak "


Erik menarik nafas lega karena Ayahnya langsung berpikir tentang perawat yang Ia pilih, jadi Ia tidak harus berbohong serta mencari alasan tentang status Alya.


Setelah melewati beberapa tes akhirnya Pak Hendrik di ijinkan kembali ke rumah, Ia sangat bersyukur untuk itu. Erik mengurus kepulangan sang Ayah.


Kembali ke kediaman Hendrik, mobil yang di kemudikan Erik memasuki parkiran. Erik membimbing sang Ayah memasuki kediaman nya yang sudah beberapa hari ini di tinggalkan.


" Sayang.....! Mas Hendrik sudah pulang, ah syukurlah aku senang banget "


Anggun berlari kecil dan memeluk suaminya dengan sedikit mendorong Erik agar Ia bisa bergelayut manja di lengan Pria itu.

__ADS_1


" Maaf sayang karena aku tidak menunggumu di RS waktu kamu sakit, semua itu karena anakmu tuh yang tidak mengizinkan aku untuk dekat denganmu dan juga merawat mu, entah kenapa dia seperti itu padahal aku ingin sekali selalu berada di dekatmu " Adu Anggun.


Hendrik membalasnya dengan senyuman.


" Sudahlah tidak apa apa, yang penting sekarang aku sudah kembali ke rumah dan sudah sehat kembali jadi tidak perlu di permasalahkan. "


Anggun merasa tidak suka dengan ucapan suaminya, sepertinya ada yang tidak beres pikirnya. Namun semua itu Ia coba tepis dan melanjutkan rencananya.


" Ya sudah sayang, tapi aku minta maaf ya. "


" Hm " Jawab Hendrik singkat.


Anggun membawa suaminya ke kamar untuk istrahat dan Hendrik pun mengikutinya. Setelah mastikan suaminya aman alias tertidur Ia pun turun untuk menemui Erik, alangkah terkejutnya Ia ketika melihat ke hadiran Alya disana yang sedang membantu para pekerja. Ia memandang sekeliling tidak terlihat keberadaan Erik.


Bergegas Ia melangkah turun dan menarik lengan Alya hingga gadis itu meringis karena kesakitan.


" Sini kamu "


" Aw, sakit Tante, lepasin dong " Ringis Alya


Anggun melepaskan cengkraman tangannya dan menatap Alya dengan tatapan penuh kebencian.


" Siapa yang memintamu datang kemari hah..... ! Urusanmu sudah selesai, dan suamiku sudah segar kembali jadi kehadiranmu tidak di butuhkan lagi disini. Pergi kamu dari sini " Usir Anggun dengan mendorong tubuh Alya hingga Ia jatuh terhuyung.


Beruntung tubuhnya tidak sampai menyentuh lantai rumah itu karena di tahan seseorang.


" Apa apaan ini Tante, kenapa Tante berlaku kasar padanya " Erik mulai terbakar emosi.


Anggun mendengus kesal karena lagi lagi anak tirinya mencampuri urusannya.


" Kamu lagi, kenapa sampah seperti kalian masih ada disini. Segeralah angkat kaki dari sini, sebelum mengotori rumah ini "


Erik hanya menggeleng geleng kan kepalanya, Ia tidak habis pikir dengan ucapan Anggun

__ADS_1


__ADS_2