
Nayla ✧══════•❁❀❁•══════✧ Aisyah
💖 LEPASKAN AKU 60 💖
💖💖💖
SELAMAT MEMBACA, JANGAN LUPA UNTUK TETAP MENINGGALKAN JEJAKNYA YA.
Di sebuah gudang tempat yang sering menjadi saksi bisu nampak Siska berjalan terburu buru, menemui orang kepercayaannya.
" Akhirnya, kamu mau menemuiku lagi. Ada apa sayang, apa suamimu itu tidak lagi mampu untuk memuaskanMu. " Ucapnya di selingi seringai jahatnya.
" Kalau itu memang benar, kamu datang di tempat yang benar. Aku satu satunya orang yang akan melakukan apa pun untukMu. Bahkan untuk urusan itu. "
" Tidak perlu basa basi, kamu juga tahu kalau aku datang padamu pasti ada pekerjaan penting untukmu. " Ucap Siska.
Ia tidak bisa mempercayai sembarang orang, dari itulah meskipun Pria di hadapannya itu selalu memerasnya bahkan meminta lebih Ia tetap meminta bantuan padanya.
" Kamu ingat Mas Andre ?." Tanya Siska kemudian.
" Andre..... Andre sepupuMu itu ? memang kenapa dengannya. Apa dia ada hubungannya kamu mencariku kali ini ?."
" I ya, kemarin Mas Asrul mengatakan Ia menjumpai anak kecil yang menurutnya sangat menggemaskan dan katanya lagi anak itu anak Mas Andre. Padahal selama ini baik aku maupun keluarga besar tidak ada yang tahu kalau Mas Andre sudah menikah, tiba tiba saja dia punya anak.
" Aku ingin kamu menyelidikinya, di mana asal usul anak itu. Begitu pun dengan wanita yang menjadi Istri dari Mas Andre. Beritahukan padaku sekecil apa pun informasi yang kamu dapatkan, aku ingin informasinya secepatnya. "
Siska mengeluarkan amplop berisi uang puluhan juta dan menyerahkannya pada pria itu.
" Ini DP nya, sisanya akan aku berikan kalau pekerjaanMu beres dan memuaskan. "
Siska berlalu pergi setelah menyerahkan amplop berisi uang tersebut.
" Kamu tidak akan pernah bisa jauh dariku sayang, cepat atau lambat aku akan bisa memiliki dirimu seutuhnya. " Gumamnya.
✴✴️✴️
Ponsel berdering di meja kerja, Asrul dengan segera meraihnya.
" Dokter Ridwan, untuk apa dia menelponku? Tapi kalau aku tidak angkat dia pasti akan membuly aku habis habisan. "
__ADS_1
Di gesernya ke Ikon berwarnah hijau untuk menyambungkan panggilan tersebut.
" I ya hallo, Assalamu alaikum Dokter Ridwan. " Suara Asrul memulai percakapan.
[ •• •• •• ]
" Apa harus sekarang, kenapa tidak nanti saja bersama Siska ?."
[ •• •• •• ]
" Oke baiklah, sekitar 10 menit aku akan tiba di sana. "
Asrul segera berlari keluar menuju di mana mobilnya terparkir. Ia ingin segera tiba di tempat seseorang yang baru saja menelponnya.
" Sebegitu pentingkah masalahnya hingga Ridwan menyuruhku harus kesana. Ah sudahlah, semoga saja ada kabar baik. " Gumam Asrul.
Hanya butuh beberapa menit saja, mobil yang di kendarai Asrul sudah terparkir sempurna di parkiran rumah sakit KASIH BUNDA.
Sudah ada Ridwan yang menantinya di sana.
" Ada apa Dokter Ridwan, kenapa tidak di sampaikan lewat telpon saja. Kenapa harus aku yang kemari ?. " Tanya Asrul.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Ridwan. Ruangan dengan nuansa serba putih, nampak tertata rapi.
" Katakan Ri, aku tidak punya banyak waktu. semoga yang kamu sampaikan memang baik untukku. "
Sebuah amplop di letakkan Dokter Ridwan di depan Asrul. Namun Asrul hanya memandangannya saja.
" Kenapa kalian tidak juga kemari untuk melanjutkan tes untuk Siska, dalam masa subur kami bisa memikirkan tindakan apa yang harus kami ambil untuk kalian berdua. " Ucap Dokter Ridwan.
" Aku tahu kamu sibuk Tuan Asrul, tapi apa kamu itu tidak memikirkan Ibumu yang menginginkan seorang cucu. Atau kamu juga tidak menginginkan keturunan lagi. "
Plak !
Sebuah tumpukan kertas yang berada di atas meja berhasil mendarat tepat di kepala Dokter Ridwan.
" Sahabat macam apa kamu, bisa bisanya kamu berpikiran seperti itu. Kamu tahu aku, betapa inginnya aku mendapatkan keturunan itu. Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk Ibu. " Ucap Asrul sengit.
Ridwan hanya mengelus ngelus kepalanya yang baru saja terkena sasaran kemarahan sahabatnya. Bukan kali ini saja, Ridwan sudah tahu watak sahabatnya itu kalau sedang marah. Apa pun yang ada di sekitarnya akan melayang.
" Kenapa rasanya kali ini aku tidak percaya kalau kamu itu benar benar ingin mendapatkan keturunan. "
__ADS_1
Ucapan Dokter Ridwan sontak mendapatkan tatapan mematikan dari Asrul.
" Apa kamu ingin Rumah Sakit ini tutup untuk selamanya, dan kamu akan menjadi gembel. Semua gelar yang kamu sandang selama ini hanya tinggal nama. Apa itu yang kamu inginkan. " Ucap Asrul sengit.
Ridwan sebenarnya tahu kalau ucapan Asrul bisa saja menjadi kenyataan, tapi dia tidak punya cara untuk membantu sahabatnya itu agar melakukan pemeriksaan yang di rasa tim medis sangat baik.
" Bukan begitu Rul, kalau kamu memang ingin punya keturunan dan tidak ingin ribet dengan serangkaian tes, lalu kenapa kamu tidak menikah lagi. Dengan begitu kamu bisa langsung mendapatkan keturunan. "
Plak !
Kali ini bukan hanya tumpukan kertas, namun sebuah bogem mentah berhasil mendarat di perut sang Dokter.
" Awww......!. "
" Apa kamu ingin membunuhku Rul, kalau memang itu benar jangan sekarang. Aku juga belum merasakan indahnya bulan madu sepertimu. "
" Aku ingin sekali membunuhmu karena semua penghinaanmu padaku. Kali ini kamu sudah benar benar keterlaluan Ridwan. "
Ucapan Asrul sontak membuat Ridwan bingung, perasaan dia mengatakan yang menurutnya benar tidak menyinggung siapa pun.
" Menghina ?, menghina bagaimana maksudmu. Aku menyarankan kamu untuk memiliki Istri baru agar kamu tidak perlu melakukan serangkaian tes yang akan menganggu pekerjaanmu. Apa ada yang salah dengan saranku ini Asrul......? Tanya Ridwan kemudian.
" Tentu saja salah, percuma aku menikah lagi. Siska saja wanita yang aku cintai tidak bisa aku buat hamil, bagimana dengan wanita lain pun pasti akan begitu. "
Kali ini nada ucapan Asrul penuh dengan kekecewaan. Ia merasa tidak berguna, semua harta kekayaan yang dia miliki rasanya tidak ada gunanya. Hanya untuk memiliki satu anak saja sebagai penerus Ia tidak mampu.
" Asrul sebenarnya bukan ka........!. "
" Sudahlah kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi aku ingin kembali. Sebentar lagi ada rapat penting dan aku tidak bisa tidak menghadirinya. " Ucap Asrul sembari berdiri dari tempat duduknya.
" Tapi As.....!. "
Ridwan tidak dapat meneruskan ucapannya karena Asrul melambaikan tangannya di udara pertanda melarangnya untuk bicara.
" Oke aku tidak akan bicara lagi, bawalah ini. Baca kalau kamu punya waktu. "
Ridwan menyerahkan sebuah amplop kepada Asrul.
" Pikirkan saranku Asrul, aku mengatakan ini bukan sebagai Dokter namun sebagai sahabat. " Ridwan menepuk pundak Asrul sembari tersenyum ramah.
" Baiklah aku akan membacanya nanti, terima kasih untuk semuanya. "
__ADS_1