
Renata buru buru memakai sepatunya, Ia meraih ponsel, tas dan juga kunci motor nya. Berlari kecil ke luar rumah berharap tidak ada satu orang yang melihat nya.
Ia mendorong motor kesayangan nya keluar agar tidak terdengar bunyinya ketika akan di hidupkan.
Menikmati jalan jalan sore, hari ini Ia ingin menenangkan diri. Menghabiskan waktu empat puluh menit akhirnya Renata tiba di tempat tujuan, Ia memarkirkan motornya di tempat yang aman.
Bergegas Ia menuju tempat yang selalu menjadi favorit nya ketika Ia masih belum menemukan jati dirinya.
Ia duduk dan melamun disana, memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
Terlalu banyak yang sudah Ia lalui selama ini, hidup yang berat sampai Ia menemukan keluarga nya yang sebenarnya.
" Mau sampai kapan kamu akan disini "
Sebuah suara mengejutkan nya, Ia sontak membuka mata dan melihat siapa yang sudah duduk di sampingnya.
" Boleh aku duduk disini "
Meskipun terkejut namun Renata tidak bisa melarang orang lain untuk menikmati fasilitas umum yang di sediakan pemerintah itu.
" Kamu diam berarti boleh ya "
" Hhm kamu masih suka kemari ya " Tanya seorang yang tak lain adalah Andre.
Ia yang memang selalu ke tempat itu di sore hari tiba-tiba melihat keberadaan wanita yang sangat di kenali nya, awalnya Ia ragu sampai Ia memberanikan diri mendekat untuk memastikan kebenaran nya
" Tidak juga Mas, baru kali ini " Jawab Rena.
Memang Ia mulai jarang ke tempat itu.
" Aku setiap sore kemari hanya untuk mencari wanita yang sosoknya sangat berarti untukku "
Renata menatap jauh ke tengah laut, deburan ombak semakin membuat tempat itu menjadi sangat indah.
" Alya, maafkan aku ~
" Apa Mas harus melibatkan mereka, Maaf Mas ! meskipun Mas melibatkan mereka aku tidak bisa melanjutkan semua seperti dulu. "
__ADS_1
Bagai ribuan jarum menusuk kerongkongan Andre, terasa sakit mendengar langsung penolakan wanita yang sangat Ia cintai.
" Apa tidak ada kesempatan untuk ku Al, aku bisa membuktikan nya kalau aku layak untuk Putri dari keluarga terpandang di kota ini "
Makin kesini Andre semakin pesimis untuk bisa merebut kembali wanita yang berada di sampingnya itu.
" Jangan bawa bawa itu Mas, aku adalah aku yang dulu. Tidak ada yang berubah, hanya keadaan yang sudah membuatku memahami banyak hal, kalau di antara kita memang sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas kelanjutan nya "
Renata berdiri, Ia ingin meninggalkan tempat itu namun Andre dengan sigap menarik lengan nya dan membawanya kedalam pelukan nya.
Rena berusaha berontak karena merasa tidak nyaman kalau di lihat banyak orang, bagaimana pun juga itu tempat umum.
" Alya, kumohon biarkan aku memeluk mu. "
Renata akhirnya mulai tenang, Ia memberi waktu untuk Andre. Lama mereka terdiam dalam kondisi seperti itu, Andre menikmati momen itu. Ia menghirup aroma wangi rambut Alya, aroma yang sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.
" Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau menerima ku kembali Al " Suara nya nyaris tak terdengar.
Renata memilih diam, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Memang tidak pernah terlintas lagi di benaknya untuk bersama dengan Pria itu di masa depan.
...----------------...
Tiba-tiba ada tangan yang memisahkan keduanya, sontak mereka menoleh.
" Kau ~ Kau kan Pria yang menolak tua di mall waktu itu kan. Ngapain kamu peluk peluk Mbak Rena ku "
Andre menghela nafas berat ketika melihat siapa yang sudah mengganggu kesenangan nya.
" Eh dengar Pria menolak tua, jangan ganggu Mbak Rena, dia sudah di lamar orang dan sebentar lagi dia akan menikah "
Andre menatap wajah Renata ingin mencari kebenaran ucapan wanita aneh di depannya itu, namun reaksi Rena biasa biasa saja.
" Asal kau tahu Pria menolak tua, calon suami Mbak Rena itu orangnya tampan baik muda dan pasti kaya raya sedangkan Anda ~~
Renata memindai penampilan Andre dari atas sampai bawah, dari kaki sampai kepala
..." Ganteng sih tapi ah tidak cocok dengan Mbak Rena, lihat saja sudah tua begitu " Batin Donita. ...
__ADS_1
" Sudah tua begitu " Andre menyambung ucapan Donita dengan menatap tajam mata gadis itu.
Donita mengangguk kecil membenarkan.
" Ah sudahlah Om, dari pada berdebat tidak penting lebih baik kami pulang. Ayo Mbak ~ "
Donita menggandeng tangan Renata menuju parkiran, Renata menoleh sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
" Mbak kenapa ketemu lagi sama orang itu, bukankah kata Bi Marni Mbak Rena sudah di lamar sama Pria baik. Bagaimana kalau calon suami Mbak melihat Mbak di peluk Pria lain, dia pasti kecewa. "
Renata hanya diam saja tidak menanggapi ocehan adiknya, baginya percuma juga menjelaskan. Kalau dia tahu malah masalahnya akan bertambah runyam.
" Sudah Mbak, sini kunci motornya, biar Nita yang bawa "
Renata memindai sekeliling mencari sesuatu namun tidak ada.
" Kamu tidak pakai motor, terus kesini pakai apa Dek " Akhirnya Renata mengeluarkan suara juga.
" Jalan kaki Mbak, tadi Nita ngejar Mbak kan. "
Renata terkejut mendengar jawaban Adiknya.
" Kenapa Mbak, percaya ~~ Habis, punya dua kakak tapi sering di tinggalin kemana mana. Jadi berasa tidak ada yang sayang padaku "
Mulai deh drama meweknya.
" Sudah ih mulai deh dramanya, kamu itu satu satunya adik yang kami punya, limited edition. Tentu saja kami sangat menyayangimu, tapi kadang memang ada hal yang harus kami selesaikan sebagai orang yang sudah dewasa, nanti kalau kamu sudah dewasa kamu juga akan faham. Lagipula kamu kan juga sudah punya mobil sendiri, motor sendiri, ngapain naik taksi apalagi jalan kaki "
Donita tersenyum, Ia bahagia melihat akhirnya Kakaknya bisa membalas ucapannya, itu pertanda Ia baik baik saja.
" Makasih kakak ku sayang, dah ah yuk berangkat "
🌟🌟
Up lagi say
Yuhu gimana menurut kalian bab ini, seru nggak ya. Bagaimana kalau si kepo Donita tahu kalau Si Pria menolak tua itu adalah calon kakak Iparnya.
__ADS_1
Malu nggak tuh 🤣🤣