
Ayah Burhan dan juga Asrul garuk garuk kepala bingung, bagaimana mungkin tanpa sebab mereka yang baru datang langsung terkena amarah.
" Andre ikut Ayah " Ayah Burhan masuk ke ruang kerjanya di ikuti Andre, Asrul yang juga bingung pun ikutan masuk.
" Ada apa Ndre, kenapa Ibu sama adikmu sampai semarah itu, apa yang sudah kamu lakukan " Tanya Ayah Burhan.
Andre mulai menceritakan semuanya pada Ayah Burhan dan juga Asrul yang menyimak pembicaraan keduanya.
" Aku hanya ingin bersenang senang Ayah dan aku sudah memberikan nya uang yang banyak, tapi wanita itu saja yang pura pura sok suci dan mengembalikan uang yang aku berikan. Apesnya lagi Ia mengembalikan nya melalui Nayla makanya dia marah besar. " Jelas Andre tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ayah Burhan mendengar dengan seksama begitu juga dengan Asrul, Ia percaya pada Istrinya, tidak mungkin bidadari hatinya itu marah tanpa sebab dan kesalahan yang di lakukan tidak fatal.
" Memang kamu bersenang-senang dengan siapa Ndre " Tanya Ayah Burhan lagi
Andre cengengesan tertawa kecil
" Bukan siapa siapa Ayah, sebenarnya bukan bersenang-senang tapi ingin ikut merasakan sisa orang banyak. " Jawab Andre lagi.
" Maksud kamu, kamu bersenang-senang dengan ' ayam ras ' begitu " Pak Burhan mulai terbawa arus.
" Bisa di bilang begitu Ayah "
Brakh ! " Mau bersenang senang kenapa dengan ' ayam ras, kenapa bukan ayam kampung sekalian kan enak dapat ting ting "
(Dasar Ayah Burhan casanova, bukan ngajarin yang baik eh malah nyaranin cari yang ting ting wahaha)
" Memang ada ya Ayah ' ayam ras yang masih ting ting " Tanya Andre, eh ternyata mereka malah diskusi.
Asrul yang mendengar itu geleng geleng kepala, Ayah dan anak sama saja sialnya dirinya juga terkena imbasnya. Ia bingung bagaimana caranya membujuk Istrinya.
" Ayah, Mas Andre cukup, hentikan membahas ayam ras dan ayam kampung. Ini bagaimana nasib kita, aku ngk mau tidur di luar, aku tidak mau tidur jauh dari Istriku. Haish mimpi apa aku semalam jadi dapat masalah seperti ini " Asrul menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ayah Burhan kembali teringat masalahnya, Ia juga bingung bagaimana harus membujuk Istrinya sendiri.
" Hah kamu ini Ndre, kalau mau bersenang-senang bersenang-senang saja jangan bawa orang lain dalam masalah. Bagaimana ini Rul " Ayah Burhan mondar mandir di dalam ruangannya.
Mudah untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di kantor bahkan memenangkan tender yang sulit, tapi memenangkan hati Istri yang sedang marah para pria selalu angkat tangan.
" Ya mau bagaimana lagi satu satunya cara ya kita bujuk saja siapa tahu kita beruntung " Saran Asrul.
__ADS_1
Meskipun dia sangat sangsi apa sarannya itu akan berhasil. Tapi mengingat sifat Nayla dan juga Bu Rosa yang tidak pendendam mereka jadi punya kesempatan mencobanya.
Asrul dan Ayah Burhan mengetuk ketuk pintu kamar masing masing mengeluarkan jurus rayuan maut mereka berharap pintu kamar terbuka namun sayang pintu kamar terkunci rapat rapat.
Keduanya kembali terduduk di sofa dengan raut wajah putus asah. Andre datang dan duduk disana, Ia tertawa dalam hati melihat keputus-asaan Ayah Burhan dan Asrul.
" Kenapa bingung bingung Ayah, ancam saja akan makan di luar atau cari Istri yang baru pasti mereka akan keluar "
Ayah Burhan dan juga Asrul menuruti ucapan Andre, keduanya kembali mengetuk pintu.
" Sayang buka dong aku mau masuk..... " Lama Ayah Burhan dan Asrul menunggu jawaban namun tak ada jawaban juga.
" Baiklah kalau tidak mau buka, aku akan makan di luar dan tidur di klub malam buat cari ayam ras yang bisa ngurusin "
Ayah Burhan dan juga Asrul mengedipkan mata, mereka yakin ide mereka akan berhasil dan benar saja tidak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Keduanya nampak senang.
" Akhirnya kamu mau membukanya sayang kalau tidak aku akan benar benar makan dan bersenang-senang di luar "
" SILAHKAN, BODOH AMAT " Keduanya kompak mengucapkan kata yang sama dan langsung masuk kembali.
Kedua Pria itu hanya melongo dan mengelus dada, mereka tidak mungkin melakukan apa yang mereka katakan karena itu hanya ancaman saja agar di bukakan pintu.
Keduanya kembali duduk di sofa dengan putus asah.
Siang itu baik Ayah Burhan dan Asrul tidak konsentrasi pada pekerjaan bahkan ponsel mereka yang berdering sejak tadi tidak di hiraukan oleh keduanya.
***
Dengan motor gedenya Erik terus mencari keberadaan Alya, Ia sangat khawatir. Sedikit banyak Ia sudah mengetahui latar belakang Alya begitu juga masalah yang di hadapinya belakangan ini, semua Ia dapatkan dari orang orang suruhannya.
Bak gayung bersambut Alhamdulillah pencariannya membuahkan hasil, Ia melihat Alya berlari kecil keluar dari area taman, Ia segera menghampirinya dengan motor besarnya.
" Naik Al " Pinta Erik langsung
" Tidak Mas terimakasih, aku jalan sendiri saja " Jawab Alya yang masih terkejut dengan kehadiran Erik.
" Aku tidak sedang meminta ijin darimu tapi ingin menyelamatkan mu, apa kamu ingin Pria itu melihatmu disini dan kembali menyakiti mu "
Alya memandang sekeliling dan dengan cepat naik diatas motor gede milik Pria itu. Erik benar juga, bagaimana kalau Andre tiba tiba menculiknya lagi saat Ia jalan sendirian. Erik merasa lega akhirnya ancamannya berhasil, Ia harus memikirkan cara bagaimana melindungi gadis itu.
__ADS_1
Alya diam saja, di biarkan nya Pria itu membawanya kemana saja. Hingga tiba di sebuah rumah yang nampak asri, Erik menghentikan motornya.
" Turun Alya, kita sudah sampai "
Alya memindai sekeliling Ia terlalu takut untuk turun.
" Turunlah Alya, disini aman "
Alya pelan pelan turun dari sana, tidak lama berselang muncul seorang wanita. Dari senyumnya nampak bukan orang jahat, setidaknya itu menurut penilaian Alya.
" Eh Mas Erik, tumben mampir kemari " Sambut wanita itu ramah.
..." Bibi bawa Alya kedalam ya ( Usahakan dia tidak merasa takut, dia punya trauma) Bisik Erik dan Bibi pun mengangguk sambil tersenyum....
Wanita yang di panggil Bibi pun mengajak Alya masuk kedalam rumah.
" Ayo Nak, disini aman tidak usah takut. Ayo kita kedalam "
Alya ikut melangkah masuk, Ia lagi lagi memindai tempat itu. Hingga Ia merasa yakin kalau sepertinya tidak ada yang menakutkan
" Hm kita makan ya Nak, kebetulan Bibi belum makan dari pagi karena malas tidak punya teman " Sengaja Bibi mencari alasan.
Alya melihat jam di tangannya, sudah jam dua siang namun wanita di hadapannya itu belum makan sama sekali. Ia berpikir itu akan menggangu kesehatan nya.
" Baik Bi ayo Alya temani "
..." Anak yang baik, tapi kasihan sekali ya nasibnya " Batin Bibi....
Bibi menyajikan makan siang di atas meja dan duduk disana namun tidak langsung makan.
" Kenapa tidak makan Bi, ini sudah jam dua loh nanti Bibi bisa sakit "
Bibi mendorong piringnya pelan menjauh dari hadapannya.
" Bibi malas makan sendiri, nggak ada selera "
Alya memandang hidangan yang tersaji, sebenarnya tak ada nafsu makan sama sekali. Namun mengingat Bibi yang baru di kenalnya itu belum makan Ia jadi khawatir.
" Ini Bi, ayo kita makan, Alya temani ya. Bibi makan yang banyak "
__ADS_1
Erik memperhatikan dari jauh dan tersenyum, Bibi ternyata mudah menangani semuanya dan membuat Alya tenang serta mudah akrab dengannya.
Mereka menikmati hidangan di atas meja, masakan yang sederhana namun terasa enak di lidah membuat Alya menikmati makan siangnya dengan lahap tanpa Ia sadari.