
Di perjalanan Kamila masih terus saja mengingat peristiwa di restoran beberapa saat yang lalu, sampai sampai Pandu yang duduk di sampingnya dan mengajak nya berbicara pun tak di hiraukan nya, lebih tepatnya Ia tidak mendengar nya karena larut dalam pikiran nya sendiri.
..." Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus memberitahukan Kak Nayla soal masalah ini. Kalau aku tidak memberitahukannya bagaimana kalau dia merencanakan sesuatu lagi untuk menghancurkan rumah tangga Kak Nayla. Tapi apakah dia memang benar Mba Sis.... ! kalau bukan gimana, tapi sepertinya aku belum yakin sepenuhnya akan hal itu " Batin Kamila...
" Sayang ! "
" Eh iya sayang ada apa ? "
Kamila terkejut saat pundaknya di sentuh oleh suaminya sendiri.
" Kenapa sayang, masih kepikiran tentang tadi, apa masih ingin menemui Mas Mu itu, kalau memang benar Mas bisa antarkan kamu kesana sebelum kembali bekerja "
" Ah tidak Sayang, aku pulang saja. Aku capek ingin istrahat saja di rumah " Jawab Kamila dengan senyum manisnya.
Ada yang harus Ia ketahui lebih pasti kebenarannya sebelum Ia memberitahukan yang lain.
***
" Sudah Pak, kayanya ini sudah jam kerja, bagaimana kalau kita..... ! "
" Sudah tidak perlu khawatir, jangan pikirkan pekerjaan. Ini juga kamu lagi kerja, ya begitulah. Anggap saja kalau kamu lagi bekerja " Potong Andre
Alya hanya bisa mengangguk meski dalam hatinya Ia merasa bingung dan juga kesal.
..." Bagaimana aku tidak khawatir, pekerjaanku saja masih banyak. Masih butuh waktu lagi untuk menyelesaikan nya, memangnya dia mau bantu atau paling tidak pekerjaan nya di bebaskan di limpahkan untuk orang lain. Jangan mimpi kali kamu Al..... " Batin Alya....
" Sudah tidak perlu gelisah begitu, pekerjaan mu sudah di kerjakan Dira, jadi tidak ada alasan lagi buat kamu menghindar dariku "
..." What.....! Apa dia bisa baca pikiran orang ya. Ini lagi, menghindar.....? Siapa dia pede amat, lama lama kayanya nih cowok tidak tahu malu ya. Eh Al.... kamu tahu dari mana kalau dia masih cowok cowok, siapa tahu suami orang. Ganteng sih ganteng tapi kayanya sudah berumur, masa orang seperti dia belum punya pendamping " Alya berkutat dengan pikirannya sendiri....
__ADS_1
" Tidak perlu curi curi pandang begitu, aku tahu kalau aku memang tampan. Kalau mau lihat ya di lihat saja, biar tidak penasaran " Ucap Andre tiba tiba dengan pede nya.
" Apa..... ? Curi curi pandang, siapa.......? "
" Kamu, terus siapa lagi. Didalam mobil ini hanya ada kita berdua "
" Pede amat, Bapak kali curi curi pandang. Eh meskipun saya gadis kampung dan tidak punya apa apa tapi di kompleks perumahan saya itu cowok cowok banyak yang berusaha mendekati saya dan semua muda muda tidak seperti Bapak " Ucap Alya tidak mau kalah.
" Apa.....! Tidak seperti aku, maksudmu apa, kamu ingin bilang aku tua begitu " Tanya Andre terkejut sekaligus tidak terima di katakan tua.
" Eh bukan.... bukan begitu maksud saya. Maksudnya mereka..... ah sudahlah Pak tidak perlu bahas itu lagi "
..." Memang sudah tua, tidak nyadar ya kalau sudah tua. Ish ish sungguh terlalu." Batin Alya...
Keduanya larut dalam pikirannya masing masing hingga tiba di tempat tujuan mereka.
***
" Waktunya beraksi Dira, untuk meluluhkan hati Pria pujaan mu terlebih dulu kamu harus bisa meluluh kan hati orang tuanya terlebih lagi Ibunya, setidaknya itu yang aku tahu. Pokoknya hari ini aku tidak boleh gagal, aku harus selangkah lebih maju di banding cewek kampung itu " Gumam Dira
Ia duduk di sebuah sofa menunggu targetnya setelah di persilahkan oleh pelayan rumah yang membukakan pintu untuknya.
" Ya ampun Dira..... nih rumah apa istana, kalau kamu bisa jadi Nyonya di rumah ini pasti semua teman temanmu di kampung akan iri melihat mu " Batin Dira mengagumi semua yang ada di dalam rumah itu.
" Assalamu'alaikum.... Maaf lama menunggu "
Sebuah suara menyadarkan Dira dari kekaguman nya dan juga hayalan nya.
" Wa... Waalaikum salam Tante " Jawab Dira gugup sembari berdiri.
__ADS_1
" Oh maaf sudah buat mu terkejut, silahkan duduk " Pinta Bu Rossa.
Dira duduk sembari terus melebarkan senyumnya berharap bisa menarik simpati dari wanita di depannya.
" Oh iya Tante tidak apa apa, saya Dira yang bekerja di perusahaan anak Tante. Maaf, maksud saya Pak Andre " Dira mengulurkan tangannya bersalaman dengan Bu Rossa dan di sambut beliau dengan ukuran tangan juga serta senyum yang tak kalah manis.
" Oh tapi Andre sedang pergi, baru beberapa menit yang lalu. Tadi katanya ingin bertemu seseorang, kalau kamu kemari untuk bertemu dengannya, mohon maaf karena sepertinya kamu terlambat "
..." Pergi bertemu seseorang, apa itu bertemu Alya " Batin Dira berusaha tersenyum....
" Ah tidak Tante, saya hanya kebetulan lewat sini jadi mampir sebentar " Jawab Dira sembari tersenyum.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan tiba tiba matanya menatap sesuatu yang tidak asing baginya.
" Alya......! " Serunya kaget sembari memandang sebuah figura yang bergantung di dinding rumah itu.
" Alya.... Alya siapa ? " Tanya Bu Rossa bingung.
Beliau ikut mengamati dimana arah pandangan tamunya itu.
" Oh itu Siska bukan Alya, kenapa apa kamu mengenalnya. " Tanya Bu Rossa kemudian.
" Ah Siska, memang siapa dia Tante. Maaf kalau saya banyak bertanya, soalnya wajahnya sangat mirip dengan teman saya " Dira mencari alasan.
Bu Rossa tersenyum.
" Dia adalah bagian dari keluarga ini, tapi.... sudah meninggal setahun yang lalu. " Jawab Bu Rossa lagi.
Dira semakin di buat terkejut dengan berita yang baru saja di ketahui nya itu, dan menimbulkan banyak tanda tanya di benaknya
__ADS_1