
SELAMAT MEMBACA
***
Di dalam mobil Nayla hanya diam saja mengingat penolakan Putra nya, namun sebagai seorang Ibu dia bisa memaklumi keadaan bahwa Putra nya tidak salah. Anak kecil akan selalu bereaksi seperti itu dan mempercayai apa yang mereka lihat. Pak Burhan dan juga Rudi saling pandang sama sama bingung.
" Nak.... ada apa ? " Tanya Pak Burhan
Nayla memandang Ayah nya dan kemudian tersenyum menandakan kalau dia baik- baik saja.
" Aku tidak apa- apa Buba, sebenar nya aku hanya bingung "
" Bingung apa Nak " Tanya Pak Burhan lagi, kening nya berkerut menandakan kebingungan nya.
" Soal Bu Dian, apa Buba mengenal nya "
Pak Burhan menerawang ke masa lalu dimana tiga sahabat masih bersama- sama.
" Iya Nak, Buba sangat mengenal nya. Bu Dian adalah sahabat Buba dan juga Bu Lastri Ibu mu Nak " Jawab Pak Burhan.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan normal
" Nak, Buba boleh mengatakan sesuatu padamu tidak "
" Apa itu Buba, katakan saja "
Pak Burhan menarik nafas dan menghembuskan nya lagi.
" Begini Nak, bagaimana kalau kamu melanjutkan study mu lagi di LN agar kamu nanti bisa meneruskan salah satu perusahaan Buba " Ucap Pak Burhan hati- hati.
" Maaf Buba, tapi seperti nya aku di Resto saja. Perusahaan kan sudah ada Mas Ilham dan Mas Andre, mereka lebih ahli di bidang nya " Jawab Nayla.
" Mas mu itu sudah memegang perusahan nya masing- masing, kamu kan tahu ada beberapa perusahaan kita yang berada di beberapa kota yang juga butuh penanganan serius. Setelah semua yang sudah di lalui, Buba ingin menghabiskan masa tua Buba bersama Bu Rossa tanpa harus memikirkan perusahaan atau yang lain nya "
__ADS_1
Nayla kembali diam memikirkan semua nya hingga mobil terparkir rumah nya.
" Pikirkan lagi Nak, Buba juga sudah membicarakan nya dengan adik mu dan dia sudah setuju "
Nayla turun dari mobil milik nya.
" Beri aku waktu untuk memikirkan nya Buba "
Pak Burhan pun tersenyum.
" Tentu saja sayang, kamu pikirkan lah baik- baik. Namun Buba sangat berharap kamu menyetujui nya "
*
*
*
Asrul memilih untuk tidur di kamar bawah, pikiran nya terganggu ketika mengingat ucapan Pak Burhan. Namun satu yang pasti Ia mulai merasa tidak nyaman sekamar berdua dengan Istri nya, wanita yang dulu sangat di sanjung nya melebihi dari apa pun.
Siska berulang kali memintanya untuk tidur di kamar atas namun Asrul tetap memilih tidur di kamar bawah.
" Ada apa dengan mu, kenapa kamu lebih memilih tidur di sini yang pengap di banding di atas tidur bersama ku " Tanya Siska meminta jawaban.
" Sudahlah Siska, aku sedang tidak ingin berdebat sekarang. Lebih baik kamu naik ke atas sebelum kamu menghirup penyakit karena lama - lama berada di tempat ini "
" Ish sial..... ternyata apa pun yang aku lakukan tidak lagi berpengaruh pada nya., mungkin sekarang yang ada di otak nya adalah wanita pembawa sial itu. Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku hamil dan bisa punya anak juga agar dia peduli lagi padaku. " Batin Siska.
Ia meninggalkan tempat itu dengan hati yang dongkol.
" Kenapa sih wanita itu selalu menjdi penghalang kebahagiaan ku, bahkan tanpa dia berada disini pun nampak nya Mas Asrul juga memikirkan nya. "
MALAM HARI DI KEDIAMAN NAYLA
__ADS_1
Nayla melamun memikirkan tawaran Ayah nya, sungguh tidak pernah sekali pun di benak nya berpikir kalau dia akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Selama ini Ia hanya menuruti bakat nya yaitu menjadi chef sesuai hoby nya, tapi apa yang di katakan Ayah nya ada benar nya. Sudah cukup demi menghadirkan Nayla dan Kamila, mereka menjadi penghalang kebahagiaan kedua orang tua nya.
" Ada apa Kak " Tanya Kamila.
" Eh..... belum tidur dek " Tanya Nayla balik.
" Belum Kak, ada apa. Seperti nya Kaka punya beban pikiran "
Nayla tersenyum menanggapi pertanyaan adik nya.
" Kakak lagi memikirkan soal tawaran Buba, sebenar nya Kakak lebih suka bekerja di Resto tapi Kakak juga tidak tega pada Buba karena Buba menginginkan kita juga ikut andil dalam menjalankan Perusahaan yang Buba pegang sekarang " Jawab Nayla.
Kamila tersenyum dan menggenggam tangan Kakak nya itu memberi dukungan penuh.
" Sudahlah Kakak jangan terlalu di pikirkan lagi, Mila selalu dukung apa yang menjadi keputusan Kakak, kalau memang Kakak tidak mau Kakak tinggal ngomong saja sama Buba, Mila yakin Buba tidak akan memaksa. Lagi pula Resto juga perlu ada yang menangani nya dan Kakak yang paling tepat untuk itu. Sekarang sudah malam Kak, lebih baik Kakak istrahat, besok atau kapan- kapan kita akan membicarakan ini lagi dengan Buba. "
*
*
*
Di ruang kerja Pak Burhan pun melakukan hal yang sama, melamun tentang masalah yang sedang di rencanakan nya.
" Maafkan Buba Nak, hanya ini jalan satu- satu nya untuk kalian berdua. Buba melakukan ini demi kebaikan kalian " Gumam Pa Burhan.
" Mas.... apa sich yang di pikirkan sampai segitu nya. Sudah larut malam, yuk waktu nya kita istrahat, pikirkan besok lagi. " Bujuk Bu Ross sembari tersenyum manis, tangan nya seperti biasa memberikan pijatan lembut di pundak Pak Burhan.
Seperti biasa Pak Burhan akan merem melek menikmati pijatan lembut tangan sang Istri.
" Apa mau tidur disini sayangku " Goda Bu Rossa.
" Hmm.... sudah mulai nakal ya sekarang, jangan salahkan aku ya kalau makan ini kamu harus punya pekerjaan baru dan seperti nya kamu harus lembur sayang " Goda Pak Burhan balik.
__ADS_1
Bu Rossa berlari kecil menuju kamar utama mereka.
"Ayo Mas.......! siapa takut, siapkan dirimu "