
Anggun di giring oleh petugas, usahanya untuk berontak tidak ada gunanya.
Dret ~ ! ponsel Erik berbunyi, Ia segera berlalu menjauh.
" Ya ada apa Bik "
Erik mendengarkan dengan seksama kemudian menatap wajah sang Ayah, apa dia bisa memberitahukan mengenai kabar yang baru Ia dapatkan.
" Ada apa Nak " Tanya Hendrik yang menyadari Putranya menatapnya setelah menerima telpon dari seseorang.
" Tante Anggun "
Hendrik tersenyum suram, Ia sudah mengetahui semuanya sebelumnya, bagaimana penghianatan sang Istri padanya.
" Tidak apa apa, Papa sudah tahu semuanya " Jawab Pak Hendrik masih berusaha tersenyum.
Erik semakin mengagumi sosok sang Ayah, sosoknya patut untuk jadi teladan di masa depan.
" Tante Anggun di bawa ke kantor polisi, tadi Bibi yang menelpon dan mengatakan mereka membawanya meskipun dia sempat berontak "
Mendengar itu ada rasa sedih juga, jujur tidak ada niat apapun untuk Hendrik melaporkannya.
" Anggun di tangkap, tapi siapa yang melaporkannya " Gumam Hendrik.
Mereka saling diam hingga akhirnya Erik memutuskan untuk menemui Anggun di kantor polisi. Biar bagaimana pun juga Ia tidak ingin Ayahnya sedih karena melihat langsung wanita yang sudah menghianatinya.
" Biar Papa saja Nak yang kesana, kamu disini saja menunggu Om Hendra, kalau ada apa apa langsung kabari Papa " Hendrik melangkah pergi.
__ADS_1
Erik menyusul nya Ia tidak akan membiarkan sang Ayah sendirian menanggung semuanya.
" Erik ikut Pa, soal Om sudah Erik titip sama Dokter, kalau memang ada apa apa mereka pasti akan langsung menghubungi kita "
Hendrik tidak bisa berbuat apa apa, dirinya tidak mood untuk berdebat.
" Biar Erik yang bawa, Papa duduk saja "
Hendrik mengangguk setuju, sebenarnya Ia memang sudah lelah dengan keadaan ini, tapi Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya. Tak ingin membuat keluarganya ikutan sedih melihat kondisinya, jadi sebisa mungkin Ia terlihat kuat.
Erik mengemudi dengan santai, tidak ingin ugal ugalan, lagi pula menurutnya tidak ada yang terlalu penting.
Setelah memarkirkan mobil keduanya memasuki kantor polisi mencari dimana keberadaan Anggun. Polisi memintai keterangan keduanya sebelum akhirnya menunggu kedatangan Anggun yang di jemput polisi wanita.
Anggun terus meronta di giring oleh dua polisi wanita menemui Hendrik dan juga Erik.
" Hei, lepaskan aku. Aku tidak bersalah, aku juga tidak ada hubungannya dengan Pria itu " Teriak Anggun.
Anggun berhenti berteriak ketika melihat siapa yang sedang menunggunya.
" Mas Hendrik " Gumamnya.
" Awas, lihat itu suamiku, dia pasti kemari untuk membebaskanku " Seru Anggun congkak.
Sudah seperti ini masih sempat sempat nya Ia menyombongkan diri, andai Ia tahu masa depannya akan semakin suram mungkin dia tidak akan pernah berpikir sedikit pun untuk merasa senang.
" Sayang, akhirnya kamu datang untukku. Kamu pasti merindukan aku dan datang kemari untuk membebaskan aku kan. Ayo sayang, aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah, aku akan memasak makanan yang enak untukmu bahkan memberikan servis yang memuaskan, kamu mau kan " Anggun mengucapkan itu tanpa perasaan malu, Ia bahkan sempat menggoda suaminya.
__ADS_1
Erik yang melihat itu hendak muntah darah, melihat wanita yang tidak tahu malu di depannya. Bisa bisanya Ia mengatakan hal memalukan seperti itu di hadapan polisi.
Hendrik menepis tangan Anggun, cukup sudah semuanya. Mungkin ini jalannya, selama ini Ia ingin melaporkan perbuatan Istrinya namun hati kecilnya tak sanggup melakukannya. Sekaranglah saatnya, meskipun mereka bingung siapa yang sudah membuat laporan sehingga adik dan juga Istrinya itu bisa berurusan dengan pihak berwajib.
" Maaf, seperti nya aku tidak bisa membantu mu kali ini, perbuatan mu sudah sangat menyakiti keluarga besar. Andai yang kamu sakiti hanya aku, mungkin aku akan mudah untuk melupakan tapi ini menyangkut keselamatan keluargaku, jadi aku mohon maaf "
Anggun terkejut mendengar jawaban Hendrik, Ia tidak menyangka akan hal itu. Ia pikir Hendrik akan tunduk padanya seperti sebelumnya apalagi kalau di janjikan soal ranjang, Pria itu akan langsung klepek klepek.
" Apa maksud mu sayang, kamu jangan bercanda dong, ini nggak lucu. Ayo dong sayang, aku sudah tidak sabar ingin pulang "
Tak patah semangat Anggun membujuk sang suami namun nampaknya kali ini dia harus menurunkan predikat tukang rayu, karena rayuannya kali Tini tidak mempan lagi.
Duduk tak jauh dari sana Erik yang sejak tadi menahan senyum, Ia bangga pada sang Ayah karena mampu melepas pesona yang selama ini melekat pada Istrinya itu.
" Kamu, kenapa kamu senyum senyum sejak tadi, apa kamu senang sekarang ha... ! Kamu kan yang sudah membuat laporan palsu sehingga aku berada disini sebagai seorang tahanan padahal aku sama sekali tidak bersalah "
Anggun sudah mulai gelisah dan pikirannya sudah mulai tidak tenang, melihat anak tirinya ada disana dan nampak bahagia tentu saja membuatnya tidak tenang.
Menyadari itu Anggun mulai berteriak histeris, Ia tidak ingin berada di tempat dingin itu dalam waktu yang lama. Polisi yang melihat itu segera mengerjakan tugasnya, Anggun di bawa paksa lagi oleh petugas, tanpa mengindahkan teriakan serta umpatan yang wanita itu keluarkan.
" Nak, apa kamu yang membuat laporan tentang Om serta Tante mu " Tanya Hendrik hati hati.
Ia takut ucapannya salah dan menyakiti hati putranya itu, Erik yang mendapatkan pertanyaan itu lansung menggeleng karena memang bukan dirinya.
" Kalau bukan kamu lalu siapa Nak, Papa bahkan tidak berniat melaporkan mereka meskipun ingin "
Keduanya diam dengan pikiran masing masing.
__ADS_1
...----------------...
Hai semuanya yang sudah mampir di karya Author yang pertama. Sedikit pemberitahuan ya, Author punya karya baru. Kalau berkenan boleh mampir ya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya, oke 🙏🙏