Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Pengagum rahasia dan kemarahan Renata


__ADS_3

Suara ramai ramai membuka pintu kamar Andre membuat kedua Ibu dan anak itu sontak menoleh.


" Hallo paman "


Andre mendengus kesal melihat ponakannya yang kini dengan cepat tumbuh besar.


" Kenapa Mas, gitu amat sama ponakan sendiri " Protes Nayla.


" Biasa ada yang kalah saingan " Sambung Rossa.


Lengkap sudah sekeluarga meledeknya.


" Ish aku bukannya kalah saingan, tapi anakmu itu Dek, kenapa kecepatan gede. Umur baru juga empat belas tahun tapi sudah kaya orang umur delapan belas tahun " Andre tidak mau kalah, sementara Alwi hanya diam dengan memasukkan kedua tangan nya di kantong celananya.


Nayla yang melihat itu hanya bisa tersenyum.


" Coba lihat saja Mas, ada gurunya sih. Lihat saja gayanya seperti siapa, bukankah Mas tidak merasa dia mirip dengan mu " Nayla sangat suka melihat Kakak laki lakinya itu merajuk.


" Bu, tolong bantu aku, aku di bully nih "


Rossa tertawa pelan, Ia begitu bahagia melihat canda dan tawa anak dan cucunya.


" Bu, apa perlu kita bawa ke rumah sakit, takutnya lambungnya bermasalah lagi "


" Eh tidak tidak, aku baik baik saja. Lihatlah, aku tidak apa apa "


Andre langsung melompat ketika mendengar Nayla menyebutkan rumah sakit. Tadinya Ia ingin bermanja-manja pada sang Ibu tapi ternyata Nayla tidak ingin Kakaknya itu bermanja-manja lebih lama.


" Nayla, sudah jangan di godain tuh Mas nya kasihan, tubuhnya masih lemah. Biarkan dia bermanja-manja dulu "


Rossa sudah tahu karakter setiap anak anaknya jadi tidak susah untuknya untuk mengambil hati mereka.


Andre menjulurkan lidahnya penuh kemenangan, karena sang Ibu membelanya.


" Bu, coba lihat Mas Andre tuh, dia ledekin aku "


Rossa hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya berebut masuk kedalam pelukannya.


...----------------...


Renata kembali bekerja, semua yang melihatnya menyapanya sambil tersenyum. Renata merasa heran dengan tingkah para karyawan pagi ini.


" Ada apa dengan mereka " Rena menggeleng pelan.


Belum habis rasa bingungnya kini Ia di buat terkejut dengan adanya sebuah buket bunga di atas meja kerjanya.


" Apa ini, siapa yang mengirimkan nya "


Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.


" Masuk "


Seorang karyawan masuk dengan membawa bunga yang lebih besar lagi, lagi lagi Rena di buat melongo.


" Ada kiriman bunga untuk Bu Rena "


Rena hanya menatap bunga itu


" Bu, bunganya mau di taruh dimana " Tanya pegawai itu yang mulai kesusahan.

__ADS_1


" Ah~ letakan di sofa sana saja " Perintah Rena.


Pegawai pun meletakkan dan pamit undur diri.


" Siapa sih, iseng banget "


Renata kembali duduk di kursi kerjanya, Ia tidak mempedulikan ruangannya yang sudah seperti toko bunga itu.


...****************...


Jam makan siang perutnya keroncongan minta di isi, lagi lagi Ia di kejutkan dengan ketukan pintu ketika akan berdiri.


" Masuk "


Seorang wanita masuk membawa bingkisan untuk Renata.


" Ini Bu, ada yang mengirimkan makan siang. Permisi Bu "


Rena semakin bingung


" Ada apa dengan hari ini, kenapa banyak yang aneh "


Rena membuka bingkisan dan semakin bingung.


" Ini masakan rumahan, tapi siapa yang masak "


Renata memperhatikan tempat bekalnya, bukan dari rumahnya. Lalu siapa yang iseng hari ini.


Karena lapar Ia langsung menyantap makan siangnya, Ia bahkan tidak takut kalau makan siangnya itu beracun.


" Hm enak " Gumam Rena tersenyum.


" Kenapa Mbak, apa Mbak masih mendapatkan kejutan dari pengagum rahasiamu itu " Tanya Donita.


Rena mengangguk mengiyakan.


" Apa tidak ada petunjuk sama sekali Mbak, atau dia menulis satu atau dua kata di antara bunga yang dia kirimkan itu "


Rena menggeleng kembali, Ia sudah mengecek semua barang yang masuk untuknya namun tidak ada petunjuk sama sekali.


" Rumit juga kalau gitu Mbak, aku nggak bisa bantu mikir "


Rena menoel hidung sang Adik


" Yang suruh kamu mikir siapa, biarkan saja, nanti juga dia bosan "


Donita yang hendak turun ke lantai bawah tanpa sengaja mendengar desas desus para karyawan, terdengar sangat ramai.


" Kasihan ya Pak Andre, dia sampai melakukan hal seperti ini agar mendapatkan simpati dari Bu Renata "


" Wajar dong kalau Bu Rena menolak, sejarah kan kita tahu apa sebabnya Bu Rena melakukan itu " Sambung yang lain.


" Tapi bagaimana pun juga kan, Pak Andre sudah berubah dan sepertinya dia serius "


"Sudah sudah, bubar~ jangan bergosip di jam kerja, yang kalian bicarakan adalah anak pemilik tempat ini, apa kalian tidak sayang dengan pekerjaan kalian " Yang lain menasihati.


Kumpulan tukang gosip pun bubar kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


Donita menutup mulutnya mendengar itu, Ia berlari sekencang mungkin. Masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dengan nafas ngos ngosan.

__ADS_1


Rena yang terkejut hanya mampu geleng-geleng kepala.


" Nita ~ kebiasaan, ketuk pintu doang sebelum masuk, ini juga kenapa sudah seperti orang lomba lari, di kejar anjing lo "


Donita geleng-geleng kepala sambil mengatur nafasnya sebelum mengatakan kabar apa yang baru saja Ia dengar.


" Aku punya kabar baik Mbak "


Renata melepas pekerjaan nya dan fokus pada apa yang di ucapkan Donita.


" Kabar baik apa " Tanya Renata


" Pengagum rahasia nya Mbak itu namanya A ~ Andre, iya Mbak Andre "


Darrr !


" Andre, kamu jangan asal bicara Nita "


Renata merasa Adiknya sangat lucu, bisa bisanya Ia menyebut nama Pria itu.


" Benar Mbak, sumpah ! Aku nggak bohong, aku dengar sendiri para karyawan bergosip di bawah. Kalau Mbak nggak percaya, ayo turun dan tanyakan lagi pada mereka "


Renata tersenyum pada adiknya


" Kamu itu ngapain capek capek turun ke bawah, sudahlah jangan ikut bergosip juga, cepat kembali ke ruangan mu "


Donita kecewa karena kakaknya sama sekali tidak percaya pada ucapannya.


Selepas kepergian Donita, Renata meraih ponselnya dan jari lentinya mulai berselancar, matanya membulat sempurna.


" Astagfirullah jadi benar dia, kurang kerjaan "


Mulai saat itu semua barang yang masuk selalu di tolak Renata.


" Pagi Bu, bunga untuk anda " Sapa seorang karyawan.


" Apa kamu tidak ada kerjaan, selain memberikan bunga itu untukku. Buang saja bunganya atau kau ambil sendiri "


Renata langsung masuk lift meninggalkan karyawan itu yang sedang bengong.


Dia makin sensi ketika melihat ada bunga lagi di ruangannya.


" Apa apaan ini, sudah seperti pemakaman "


Dengan segera Ia memanggil karyawan lain untuk membersihkan ke kacauan di ruangannya.


" Bersihkan ini segera, buang semuanya. Mulai sekarang jangan ada yang terima bunga lagi atau kalian akan menyesal nantinya "


Si Pria hanya mengangguk dan memilih pergi dari sana melihat kemarahan Renata.


Nggak sampai disitu makan siang Renata masih di buat marah.


" Masuk " Sahut Rena ketika mendengar pintu di ketuk.


Rena melihat apa yang di bawa oleh karyawan.


" Bawa keluar, kalian makan saja, aku bisa cari makan sendiri "


Belum lagi karyawan berucap Renata sudah lebih dulu meminta nya pergi.

__ADS_1


Sel


__ADS_2