
Suara ramai ramai membuka pintu kamar Andre membuat kedua Ibu dan anak itu sontak menoleh.
" Hallo paman "
Andre mendengus kesal melihat ponakannya yang kini dengan cepat tumbuh besar.
" Kenapa Mas, gitu amat sama ponakan sendiri " Protes Nayla.
" Biasa ada yang kalah saingan " Sambung Rossa.
Lengkap sudah sekeluarga meledeknya.
" Ish aku bukannya kalah saingan, tapi anakmu itu Dek, kenapa kecepatan gede. Umur baru juga empat belas tahun tapi sudah kaya orang umur delapan belas tahun " Andre tidak mau kalah, sementara Alwi hanya diam dengan memasukkan kedua tangan nya di kantong celananya.
Nayla yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
" Coba lihat saja Mas, ada gurunya sih. Lihat saja gayanya seperti siapa, bukankah Mas tidak merasa dia mirip dengan mu " Nayla sangat suka melihat Kakak laki lakinya itu merajuk.
" Bu, tolong bantu aku, aku di bully nih "
Rossa tertawa pelan, Ia begitu bahagia melihat canda dan tawa anak dan cucunya.
" Bu, apa perlu kita bawa ke rumah sakit, takutnya lambungnya bermasalah lagi "
" Eh tidak tidak, aku baik baik saja. Lihatlah, aku tidak apa apa "
Andre langsung melompat ketika mendengar Nayla menyebutkan rumah sakit. Tadinya Ia ingin bermanja-manja pada sang Ibu tapi ternyata Nayla tidak ingin Kakaknya itu bermanja-manja lebih lama.
" Nayla, sudah jangan di godain tuh Mas nya kasihan, tubuhnya masih lemah. Biarkan dia bermanja-manja dulu "
Rossa sudah tahu karakter setiap anak anaknya jadi tidak susah untuknya untuk mengambil hati mereka.
Andre menjulurkan lidahnya penuh kemenangan, karena sang Ibu membelanya.
" Bu, coba lihat Mas Andre tuh, dia ledekin aku "
Rossa hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya berebut masuk kedalam pelukannya.
...----------------...
Renata kembali bekerja, semua yang melihatnya menyapanya sambil tersenyum. Renata merasa heran dengan tingkah para karyawan pagi ini.
" Ada apa dengan mereka " Rena menggeleng pelan.
Belum habis rasa bingungnya kini Ia di buat terkejut dengan adanya sebuah buket bunga di atas meja kerjanya.
" Apa ini, siapa yang mengirimkan nya "
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
" Masuk "
Seorang karyawan masuk dengan membawa bunga yang lebih besar lagi, lagi lagi Rena di buat melongo.
" Ada kiriman bunga untuk Bu Rena "
Rena hanya menatap bunga itu
" Bu, bunganya mau di taruh dimana " Tanya pegawai itu yang mulai kesusahan.
__ADS_1
" Ah~ letakan di sofa sana saja " Perintah Rena.
Pegawai pun meletakkan dan pamit undur diri.
" Siapa sih, iseng banget "
Renata kembali duduk di kursi kerjanya, Ia tidak mempedulikan ruangannya yang sudah seperti toko bunga itu.
...****************...
Jam makan siang perutnya keroncongan minta di isi, lagi lagi Ia di kejutkan dengan ketukan pintu ketika akan berdiri.
" Masuk "
Seorang wanita masuk membawa bingkisan untuk Renata.
" Ini Bu, ada yang mengirimkan makan siang. Permisi Bu "
Rena semakin bingung
" Ada apa dengan hari ini, kenapa banyak yang aneh "
Rena membuka bingkisan dan semakin bingung.
" Ini masakan rumahan, tapi siapa yang masak "
Renata memperhatikan tempat bekalnya, bukan dari rumahnya. Lalu siapa yang iseng hari ini.
Karena lapar Ia langsung menyantap makan siangnya, Ia bahkan tidak takut kalau makan siangnya itu beracun.
" Hm enak " Gumam Rena tersenyum.
" Kenapa Mbak, apa Mbak masih mendapatkan kejutan dari pengagum rahasiamu itu " Tanya Donita.
Rena mengangguk mengiyakan.
" Apa tidak ada petunjuk sama sekali Mbak, atau dia menulis satu atau dua kata di antara bunga yang dia kirimkan itu "
Rena menggeleng kembali, Ia sudah mengecek semua barang yang masuk untuknya namun tidak ada petunjuk sama sekali.
" Rumit juga kalau gitu Mbak, aku nggak bisa bantu mikir "
Rena menoel hidung sang Adik
" Yang suruh kamu mikir siapa, biarkan saja, nanti juga dia bosan "
Donita yang hendak turun ke lantai bawah tanpa sengaja mendengar desas desus para karyawan, terdengar sangat ramai.
" Kasihan ya Pak Andre, dia sampai melakukan hal seperti ini agar mendapatkan simpati dari Bu Renata "
" Wajar dong kalau Bu Rena menolak, sejarah kan kita tahu apa sebabnya Bu Rena melakukan itu " Sambung yang lain.
" Tapi bagaimana pun juga kan, Pak Andre sudah berubah dan sepertinya dia serius "
"Sudah sudah, bubar~ jangan bergosip di jam kerja, yang kalian bicarakan adalah anak pemilik tempat ini, apa kalian tidak sayang dengan pekerjaan kalian " Yang lain menasihati.
Kumpulan tukang gosip pun bubar kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Donita menutup mulutnya mendengar itu, Ia berlari sekencang mungkin. Masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dengan nafas ngos ngosan.
__ADS_1
Rena yang terkejut hanya mampu geleng-geleng kepala.
" Nita ~ kebiasaan, ketuk pintu doang sebelum masuk, ini juga kenapa sudah seperti orang lomba lari, di kejar anjing lo "
Donita geleng-geleng kepala sambil mengatur nafasnya sebelum mengatakan kabar apa yang baru saja Ia dengar.
" Aku punya kabar baik Mbak "
Renata melepas pekerjaan nya dan fokus pada apa yang di ucapkan Donita.
" Kabar baik apa " Tanya Renata
" Pengagum rahasia nya Mbak itu namanya A ~ Andre, iya Mbak Andre "
Darrr !
" Andre, kamu jangan asal bicara Nita "
Renata merasa Adiknya sangat lucu, bisa bisanya Ia menyebut nama Pria itu.
" Benar Mbak, sumpah ! Aku nggak bohong, aku dengar sendiri para karyawan bergosip di bawah. Kalau Mbak nggak percaya, ayo turun dan tanyakan lagi pada mereka "
Renata tersenyum pada adiknya
" Kamu itu ngapain capek capek turun ke bawah, sudahlah jangan ikut bergosip juga, cepat kembali ke ruangan mu "
Donita kecewa karena kakaknya sama sekali tidak percaya pada ucapannya.
Selepas kepergian Donita, Renata meraih ponselnya dan jari lentinya mulai berselancar, matanya membulat sempurna.
" Astagfirullah jadi benar dia, kurang kerjaan "
Mulai saat itu semua barang yang masuk selalu di tolak Renata.
" Pagi Bu, bunga untuk anda " Sapa seorang karyawan.
" Apa kamu tidak ada kerjaan, selain memberikan bunga itu untukku. Buang saja bunganya atau kau ambil sendiri "
Renata langsung masuk lift meninggalkan karyawan itu yang sedang bengong.
Dia makin sensi ketika melihat ada bunga lagi di ruangannya.
" Apa apaan ini, sudah seperti pemakaman "
Dengan segera Ia memanggil karyawan lain untuk membersihkan ke kacauan di ruangannya.
" Bersihkan ini segera, buang semuanya. Mulai sekarang jangan ada yang terima bunga lagi atau kalian akan menyesal nantinya "
Si Pria hanya mengangguk dan memilih pergi dari sana melihat kemarahan Renata.
Nggak sampai disitu makan siang Renata masih di buat marah.
" Masuk " Sahut Rena ketika mendengar pintu di ketuk.
Rena melihat apa yang di bawa oleh karyawan.
" Bawa keluar, kalian makan saja, aku bisa cari makan sendiri "
Belum lagi karyawan berucap Renata sudah lebih dulu meminta nya pergi.
__ADS_1
Sel