
Ponsel Andre berdering ketika Ia sedang fokus memeriksa beberapa laporan penting, Ia meraih bendah pipih itu.
" Ibu " Gumamnya.
" Assalamu'alaikum, Iya Bu "
" ~ "
" Baik Bu, Andre akan kesana jam makan siang " Jawabnya kesana.
" Untuk apa Ibu memintaku kesana, ah sudahlah mungkin ada yang penting " Gumam Andre.
Ia kembali memeriksa berkas berkas penting yang ada di meja kerjanya.
Di tempat berbeda Erik tiba-tiba menemui Renata dan mengajaknya makan siang, awalnya Renata bingung namun karena bujukan Erik akhirnya Ia pun ikut.
" Yuk Dek, ikut Mas cari makan "
" Cari makan, itu di bawah ada. Mas tinggal turun atau minta tolong sekertaris Mas yang bawakan, gampang kan "
Erik memutar otaknya, bagaimana caranya agar Adiknya ikut, kalau tidak rencananya akan gagal total.
" Ayolah Dek, Masa sih kamu tega sama kembaran sendiri, kalau Mas mati kelaparan gimana. Nanti Mas yang traktir, lumayan loh uang jajan kamu tidak terganggu "
Dengan terpaksa Renata pun ikut.
" Ya sudah Mas, Ayo "
Renata jalan beriringan sampai masuk ke dalam mobil Erik, mobil melaju dengan pelan.
Sementara di parkiran Donita ngos ngosan mengejar kedua kakaknya yang meninggalkan nya.
" Mas, Mbak mau kemana mereka "
__ADS_1
Donita berlari menuruni anak tangga lalu kemudian berteriak memanggil keduanya namun mobil milik Erik sudah meninggalkan parkiran.
" Mas itu seperti nya Donita, kok Mas nggak berhenti, mungkin dia ingin ikut kita makan siang "
Renata melihat melalui kaca spion begitu juga dengan Erik, namun tak ada niat buat Erik untuk berhenti. Ia tahu adiknya itu pasti hanya akan membuat keributan nanti.
" Sudahlah Ren, dia bisa cari makan sendiri. Dia sudah besar kan, bisa makan di kantin "
Erik turun lebih dulu di susul Renata, Ia merogoh ponselnya dan kemudian mengetik sesuatu disana.
" Ayo Ren, kenapa bengong saja "
Tanpa berpikir apa pun Renata langsung mengiringi langkah kaki Erik. Matanya menangkap sesuatu disana.
" Papa, Papa juga disini "
Erik menyalami Ayahnya sementara Renata masih terkejut melihat siapa siapa yang sedang berada disana.
Erik menyentuh jemari Rena untuk menyadarkannya.
Meskipun bingung akhirnya Renata menyalami mereka semua kecuali satu orang yang nggak mungkin Ia cium tangan nya.
" Ada apa ini Pa " Tanya Renata bingung.
Yang hadir di meja itu menatap Renata dengan senyum ramah.
"***Pa, apa maksudnya*** "
" Lebih baik kita bahas nanti, sekarang kita pesan makan siang lebih dulu bagaimana " Usul Hendrik.
Hendrik kemudian memanggil pelayanan dan mereka pun memesan makanan kesukaan mereka.
Makan siang pun di mulai, tidak ada yang berbicara disana. Renata yang bingung memilih makan dengan menunduk hingga selesai.
__ADS_1
❣️
" Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya kalau niat kami ingin melanjutkan silaturahim yang dulu sempat tertunda. Mungkin ini terdengar mendadak, namun ini sudah lama kami pikirkan "
" Dulu anak anak kita sempat menjalin hubungan namun tidak sampai ke jenjang yang serius, dari itu saya sebagai orang tua dari anak kami Andre, ingin melamar Putri dari Pak Hendrik untuk di jadikan Putri di rumah kami, bagaimana jawaban kalian tentang niat kami ini "
Semuanya terdiam apalagi Renata yang nampak sangat bingung, tidak menyangka akan dapat kejutan seperti saat ini.
" Terimakasih Pak Burhan, saya selaku orang tua menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan Putriku. Biar bagaimana pun juga Rena yang menjalani semuanya, kalau dia setuju saya sebagai orang tuanya akan merestui nya. Tapi maaf kalau Rena tidak setuju, saya juga tidak bisa berbuat apa apa "
Semua menatap ke arah Renata yang hanya menunduk saja sedari tadi, Ia masih sangat shock dengan kondisi saat ini.
" Ren, maafkan sikap Andre dan juga keluarga kami dulu. Mungkin kamu perlu waktu untuk berpikir, kami akan menunggu itu. "
Renata akhirnya bisa bernafas lega karena wanita di sampingnya itu tidak memaksa nya. Jujur Ia butuh waktu untuk memikirkan ini
" Maaf Bu, Pak. " Jawab Renata masih menunduk.
Rossa tersenyum, Ia mengerti ini tidak mudah bagi Alya. Apalagi mengingat kejadian di masa lalu yang mungkin sulit untuk di lupakan.
Akhirnya masing masing membubarkan diri tersisa Erik Rena dan Andre yang masih disana.
" Mas, ayo pulang "
Erik mengiyakan dan meraih tangan Renata untuk di gandeng keluar.
" Erik, tunggu ! aku ingin bicara dengan mu "
Erik menghentikan langkahnya.
" Yg ingin kamu tanyakan aku sudah tahu, sekarang panggil aku Mas atau Abang. Biarpun kau sudah nampak tua tapi aku akan jadi kakak ipar mu. Mengenai masa depan mu serahkan pada ku "
Erik kembali menggandeng tangan Adiknya untuk meninggalkan tempat itu, meninggalkan Andre yang masih mematung mencerna ucapan Erik barusan.
__ADS_1