Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Keceplosan


__ADS_3

Erik berdiri mematung di depan kamar Ayahnya tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya. Ia enggan untuk mengganggunya, hingga sebuah suara merusak semuanya.


......" Pak Erik "......


Alya dan juga Pak Hendrik menoleh ke asal suara, keduanya tersenyum melihat kehadiran Erik sementara Erik terkejut ketika namanya di sebut.


" Mas, Mas sudah disini, ayo masuk. Duduklah hm... bentar aku buatkan minum dulu untuk Mas ya " Alya beranjak pergi ketika melihat Erik mengangguk.


Ia masih menyempatkan menoleh melihat kedua Ayah dan anak itu.


..." Biarkan mereka bicara dari hati ke hati, semoga saja hubungan mereka segera membaik dan juga Mas Erik kembali ke rumah ini lagi " Batin Alya. ...


" Hai Nak, Apa kabar Pa " Mereka menyapa bersamaan dan sama sama tersenyum canggung.


" Papa baik baik saja Nak, bagaimana denganmu, dan.... terimakasih karena sudah mengurus Papa juga mengirim Alya untuk merawat Papa disini "


......" Bagaimana bisa aku tidak mengurus mu Pa, Papa adalah Papa ku, orang yang paling ku sayangi. Tapi maaf Pa, aku masih belum bisa tinggal disini dan merawat Papa sepenuhnya, tapi sebagai gantinya ada dia yang pastinya lebih tepat merawat Papa. Setelah urusan ku selesai aku akan kembali ke rumah ini, aku janji Pa. Tapi sebelum itu aku hanya berharap Papa selalu baik baik disini sementara aku menyelesaikan tugasku " Batin Erik. ......


" Kopi panas dan manis seperti yang buat " Canda Alya dengan sebuah nampan di tangannya.


Erik dan Ayahnya hanya tertawa dalam hati, mereka merasa tingkah Alya sangatlah lucu, apalagi Erik yang sudah tahu siapa Alya sebenarnya.


" Maaf Mas, Maaf Pak, Alya hanya bercanda, habis ruangan ini serem banget "

__ADS_1


Kedua Pria itu menoleh ke kiri dan kanan, atas dan bawah memastikan apa yang di katakan Alya.


..." Seram apanya Alya, kamu ada ada saja " Kali ini Erik yang bersuara....


" Tapi kamu memang manis Alya, bahkan bukan hanya manis tapi cantik, imut dan juga baik, karena kamu kan adikku. Siapa dulu dong kakaknya, Erik gito loh " Erik membanggakan diri seraya menepuk dadanya sendiri.


Kedua orang di hadapannya terkejut mendengar ucapan Erik sedangkan Erik yang baru menyadari kekeliruan nya cepat cepat mencari alasan.


......"Adik ? Apa maksudmu Nak " Tanya Pak Hendrik, keningnya sampai berkerut. ......


..." Ah kenapa aku keceplosan, ah nih mulut kok jadi ember " ...


" Ah itu Pa, Adik....! Ah, begini Pa, Erik menganggap Alya sebagai Adik, karena selama ini Erik kan tidak punya Adik jadi melihat Alya rasanya Erik ingin menjadikan nya sebagai Adik " Jawab Erik memberi alasan.


..." Maafkan Papa Nak, Papa tahu kamu merindukan nya, Papa janji setelah Papa sembuh Papa akan mencarinya untukmu " Batin Pak Hendrik....


***


Sore ini Alya jalan jalan bersama Erik, ya setelah sebulan berlalu kondisi Pak Hendrik mulai membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Hanya ada satu pekerjaan rumah buat Alya yang belum Ia temukan jawabannya.


" Mas, apa tidak apa apa kita jalan jalan seperti ini, bagaimana dengan Pak Hendrik. Apa..... "


" Tidak apa apa Alya, Papa kan sudah jauh lebih baik. Lagipula kan Papa sendiri yang meminta aku mengajakmu jalan jalan dari pada kamu suntuk di rumah "

__ADS_1


Alya menarik nafas berat sebenarnya dia tidak suntuk di rumah, banyak yang bisa Ia kerjakan untuk mengusir bosan. Apalagi mengingat gajinya yang begitu besar dalam merawat majikannya, tidak enak baginya untuk hanya bermalas malasan.


" Aku tidak merasa suntuk kok Mas, kan banyak yang bisa aku lakukan disana. Lagipula aku tidak mau dibilang makan gaji buta tanpa harus bekerja, atau bekerja tapi malas malasan. Lima juta loh Mas sebulan masa aku hanya bekerja sebentar terus jalan jalan kan nggak bagus "


Erik tertawa kecil Ia mengacak acak rambut Alya, Ia gemes melihat wajah Alya ketika sedang berbicara, Ia mengerucut kan bibirnya.


" Nggak apa apa kali Alya, kamu berhak untuk itu. Bahkan seharusnya kamu bisa dapatkan lebih dari itu perbulannya "


" Apa ! lebih dari itu Mas, itu saja sudah sangat banyak apalagi lebih lagi. Maaf Mas, aku hanya merasa tidak nyaman dengan teman teman yang bekerja disana, bahkan mereka sudah bekerja sangat lama tapi gajinya tidak sebesar yang aku dapatkan. Aku tidak mau menimbulkan masalah karena mereka berpikir Mas Erik dan juga Pak Hendrik pilih kasih pada PRT nya "


Erik bingung harus berbicara apa, yang di katakan Alya ada benarnya juga. Tapi apa salah jika Ia memberi lebih pada Alya karena memang sebenarnya itu adalah miliknya sendiri, tanpa bekerja pun Ia seharusnya bisa dapatkan itu semua.


..." Ah sudahlah Alya, ayo kita kesana " Erik menggandeng tangan Alya menunjuk tempat yang pasti membuat Alya senang. ...


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata sedang mengamati mereka, Ia bahkan mengikuti kemanapun keduanya pergi.


" Ah kita duduk disini saja dari sini pemandangannya sangat indah, ah tunggu sebentar ya, kamu duduk disini jangan kemana mana, oke. Mas kesana sebentar, hanya sebentar saja "


Erik berlari kecil meninggalkan Alya yang memandangi kepergian nya hingga hilang dari jangkauan matanya. Ia kembali mengalihkan pandangannya kedepan, disana hamparan pemandangan yang sangat indah.


..." Ma, Pa, apa kalian bahagia disana " Sungguh Ia sangat merindukan kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu meninggalkan nya. ...


Erik terkejut ketika tangannya tiba-tiba di tarik seseorang dengan keras.

__ADS_1


" Hei siapa ka..... U, Kau........ ! " Erik makin terkejut melihat siapa dalangnya.


__ADS_2