
Bi Marni yang baru tiba langsung terkejut mendengar anak yang di asuhnya sejak kecil itu menyebutkan sebuah nama, Ia sontak bertanya perihal nama itu, sedangkan Erik dan sang Ayah nampak tegang melihat Alya yang masih berdiri di depan pintu.
" Alya..... kamu disini " Seru Erik tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya.
Alya juga sangat senang melihat Erik yang ternyata baik baik saja.
" Sini Alya, apa kamu tidak menghawatirkan aku sehingga kamu terus berdiri disana "
Alya ragu untuk mendekat hingga terdengar suara Pak Hendrik yang mengijinkan nya untuk menemui Erik saat itu.
..." Siapa Renata, kenapa mereka menyebut nama itu. Sebenarnya aku penasaran ada apa, siapa yang mereka maksud. Ah sudahlah mungkin orang lain " Gumam batin Alya seraya menghampiri Erik. ...
" Mas, bagaimana keadaanmu sekarang. Maaf, Mas pasti merasa tidak nyaman. Maafkan aku ya, karena aku Mas Erik jadi seperti ini " Ucap Alya dengan wajah sedih karena rasa bersalah.
Erik merasa ikut bersedih melihat wajah bersalah adiknya, akhirnya Ia tertawa kecil untuk menghilangkan ke khawatiran Alya.
" Hei aku baik baik saja, lihat ini aku sudah sehat " Erik menampilkan otot otot tangannya namun tetap saja Alya masih bersedih.
" Sudah sudah, ini bukan salah kamu Alya. Ah tidak perlu lagi di risaukan karena sekarang aku sudah sembuh "
Erik tengah membujuk Alya yang masih menekuk wajahnya sementara Bi Marni menarik tangan Pak Hendrik keluar dari ruangan itu.
Hendrik akhirnya ikut keluar mengikuti langkah kaki Marni yang membawanya ke tempat yang agak jauh dari tempat itu.
..." Maaf Mas karena aku sudah lancang menarik mu keluar " Marni baru menyadari kekeliruan nya dan tampak malu. ...
Sementara Marni merasa malu Hendrik malah menggoda nya.
__ADS_1
" Ada apa Marni, kenapa menarik ku seperti ini. Apa akhirnya kamu setuju untuk.... " Pak Hendrik mengerlingkan matanya menggoda wanita yang berumur empat puluh tahunan itu namun masih perawan.
" Cukup Mas " Marni memotong ucapan Hendrik sebelum Ia benar benar merasa malu.
Pak Hendrik menanggapinya dengan godaan yang menjadi jadi.
" Cukup Mas, jangan berpikir macam macam. Aku masih ingin panjang umur, masih ingin menyaksikan anakku menikah dengan wanita yang mampu membahagiakan nya. Aku tidak mau melakukan hal bodoh yang akan menggali lubang kubur ku sendiri "
Pak Hendrik tahu kemana arah ucapan Marni tapi tetap saja dia ingin menggoda wanita itu.
" Anak ? bukannya kamu itu masih PERAWAN Marni, jadi bagaimana kamu bisa punya anak apalagi sampai menunggunya menikah, kamu saja belum menikah hm.....! Eh tunggu, bagaimana kalau kita menikah sekarang saja, aku bisa membuatmu mempunyai anak secepatnya, gini gini pun aku masih tampan, gagah dan yang pasti masih sanggup untuk membuat mu kewalahan di malam pertama. Jadi bagaimana Marni " Pak Hendrik menaik turunkan alisnya dengan senyum khasnya, namun bagi Marni itu adalah senyum yang menakutkan.
Marni mengibaskan tangannya, jengah dengan semua ucapan Hendrik.
" Sudah sudah, jangan sembarangan berkata, itu tidak baik. Lagipula aku tidak perlu harus menikah untuk punya anak, jadi jangan berusaha terus menggoda ku karena aku tidak akan tergoda seperti nyonya di rumah mu itu " Marni mulai lelah.
" Iya iya, sekarang katakan padaku ada apa "
Akhirnya Hendrik mulai berbicara serius, begitu juga dengan Marni, Ia menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di hatinya.
" Katakan padaku Mas, siapa RENATA. Kenapa tiba tiba kalian membahas nama itu lagi, apa dia adalah bayi mungil sembilan belas tahun yang lalu. Apa kalian sudah menemukan nya atau kalian mendapatkan petunjuk dimana keberadaan nya " Tanya Marni
Matanya melirik perubahan pada raut wajah Pria yang di depannya itu,
" Tidak Marni, aku belum menemukan nya tapi aku sedang mencurigai sesuatu. Tapi maaf Marni untuk saat ini aku belum bisa mengatakan apa apa karena aku juga masih menyelidikinya. "Jawab Pak Hendrik.
Raut wajah Marni langsung sumringah mendengar jawaban Hendrik.
__ADS_1
" Jadi benar Mas, ada kabar mengenai anakku itu " Mata Marni berbinar.
Andai saja itu benar dia akan menjadi salah satunya orang yang ikut berbahagia saat ini.
" Aku belum bisa memastikan nya Marni jadi jangan terlalu berharap dulu " Wajah Hendrik berubah murung.
Berbeda dengan Hendrik, Marni justru sangat antusias dengan kabar itu meskipun itu hanya perkiraan. Setidaknya mereka punya sedikit titik terang mengenai kabar yang mereka sama sama nantikan selama bertahun-tahun lamanya.
" Apa Mas Erik..... Apa dia yang mengetahuinya namun berusaha menutupinya dari kita " Tanya Marni selidik.
Ia semakin menatap mata Pria lawan bicaranya itu, dan Pak Hendrik pun mengangguk pelan. Marni menarik nafas berat, Ia tahu tidak mudah untuk menggali informasi kalau itu menyangkut dengan anak asuhnya itu, tapi Marni sudah bertekad tidak ingin menyerah. Ia akan mencari cara untuk mengetahui kebenaran itu secepatnya.
" Aku punya ide Mas untuk membuat Erik mengatakan dimana keberadaan Renata pada kita " Ucap Bi Marni yakin.
Iya sangat yakin untuk mengetahui semuanya meskipun itu mungkin tidak mudah.
" Kamu yakin Marni, maaf... bukannya aku tidak percaya padamu, tapi seminggu aku sudah mencoba semampuku tapi tidak ada hasilnya "
Marni tersenyum dan menepuk pundak Pak Hendrik untuk menenangkan nya.
" Sudahlah Mas, nanti kita lanjutkan itu. Sekarang kita harus kembali kedalam sebelum Erik berpikir macam macam pada Ayahnya yang genit ini "
Marni langsung melenggang pergi bahkan sedikit berlari menjauhi Hendrik karena takut Pria itu akan menghalangi langkahnya lagi.
Sementara Hendrik terkejut mendengar ucapan Marni, Ia ingin protes tapi Marni sudah pergi bahkan menghilang di balik pintu.
" Awas saja kau Marni, enak saja aku di sebut genit. Ah..... tapi benar juga sih, aku memang genit, apalagi melihat kamu Marni "
__ADS_1
Pak Hendrik mengibaskan tangan di wajahnya sendiri seraya melangkah menyusul Marni ke dalam kamar rawat Erik.