
Erik bingung melihat rumah yang di katakan oleh orang-orang suruhannya, dari luar nampak tenang tenang saja tidak ada apapun yang mencurigakan.
..."Apa benar Pa ini rumahnya, tapi... "...
" Sudahlah Nak, kita coba saja dulu. Kita tidak akan tahu ada apa di dalam kalau kita tidak masuk, bagaimana kalau adikmu ada didalam sana dan sedang membutuhkan kita "
Erik mengangguk dan keduanya melangkah masuk, Erik membuka kenop pintu dan lagi lagi pintu pun tidak terkunci.
..." Tidak di kunci Pa " Ucap Erik mandang Pria di sampingnya....
" Masuk saja "
Erik membuka pintu itu dan melangkah masuk begitu juga Hendrik yang mengikutinya dari arah belakang.
..." Akhirnya kalian datang juga " Sebuah suara mengejutkan keduanya....
Erik dan Hendrik sontak menoleh mencari dimana asal suara itu
" Hendra, kamu..... ngapain kamu ada disini " Tanya Pak Hendrik dengan mata melotot.
Ia terkejut melihat keberadaan sang Adik yang selama ini menghilang. Suara tertawa yang begitu membahana di dalam ruangan itu, ya itu adalah ciri khas yang masih di ingat Pak Hendrik.
..." Kamu pikir untuk apa aku ada disini kamu bukan ini rumahku Mas Hendrik ! Ups kamu bahkan tidak layak di panggil Mas oleh siapa pun " Seringai Hendra begitu mengerikan....
Dari wajahnya terdapat banyak bekas luka itu semakin membuat penampilannya semakin horor.
Kedua saudara yang sudah lama tidak pernah bertemu itu masih saja saling berdebat membuat Erik naik pitam.
" Cukup Pa, hentikan ini. Kita kemari untuk mencari Rena bukan mendebatkan hal yang tidak penting. "
__ADS_1
" Hm.... kamu ! Oh apa katamu tadi, Mas....! kamu saudaranya Papa ya, tapi sayang sekali saat ini aku sangat meragukan akan hal itu. Bagaimana bisa Ayahku seorang yang baik hati mempunyai saudara seperti anda, sungguh memalukan sekali " Cibir Erik, Ia tersenyum sinis ke arah Pria itu.
Hendra yang mendapat hinaan dari Pria yang lebih muda darinya itu merasa tidak terima. Harga dirinya benar-benar di injak injak oleh Pria yang menurutnya masih anak ingusan.
" Heh brengsek, beraninya kau. Apa hak mu menilai aku seperti itu, kalau kau tidak tahu apa apa lebih baik kau diam, itu akan lebih baik untukmu. Menyebalkan sekali, Ayah sama anak sama saja " Balas Hendra dengan emosi yang kian memuncak.
Hendrik yang menjadi penonton itu hanya bisa mengelus ruang di kedua alisnya, untuk mengurai pikirannya yang kusut.
" Hendra, aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, kamu kemana saja selama ini " Hendrik akhirnya mulai bicara setelah shock beberapa saat.
" Alah munafik, tidak perlu pura pura baik. Aku tahu bagaimana pikiran mu, bukankah kau merasa senang kalau aku menghilang bahkan kau ingin agar aku menghilang dari muka bumi ini jadi tidak akan ada yang menjadi penghalang untuk mu mendapatkan warisan mereka kan " Hendra tertawa sumbang.
Miris memang, selama ini dia harus berusaha mengalah bahkan selalu di salahkan dalam segala hal. Orang tua mereka selalu membanding bandingkan keduanya, semua yang di lakukan Hendra selalu salah di mata orang tua mereka, itu yang di yakini Hendra selama ini.
" Apa maksudmu Ndra aku tidak mengerti " Pak Hendrik menautkan kedua alisnya.
Erik sejak tadi mengendarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari kemungkinan adanya Alya disana.
..." Hendra, sebenarnya kami kesini ingin bertemu Alya, ada yang mengatakan kalau mereka melihat seseorang membawanya kemari "...
Wajah Hendra mendadak berubah mendengar ucapan Pak Hendrik. Ia mencoba mengusir agar Ayah dan anak itu segera pergi meninggalkan kediamannya.
Baru saja Hendrik dan Erik berbalik mereka mendengar suara keributan di lantai atas, suara yang sangat mereka kenal.
Tanpa menunggu persetujuan Erik segera berbalik arah dan berlari menuju lantai atas, Hendra yang ingin menghadang keduanya tidak berhasil, akhirnya Ia pun ikut berlari ke atas.
Erik langsung berlari memeluk tubuh Alya ketika di lihatnya gadis itu berada disana.
" Alya......! Kamu.... kamu ternyata beneran ada disini, apa... apa ada yang sakit, apa Pria itu menyakiti mu " Banyak pertanyaan yang di lontarkan Erik pada Alya, Ia juga memeriksa bagian bagian tubuh gadis itu dan bernafas lega karena tidak mendapatkan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
Alya merasa senang namun juga bingung, Ia senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Erik namun Ia bingung darimana Erik mengetahui tempat itu.
..." Mas, aku baik baik saja tapi dia, lihatlah Mas, dia sakit "...
Tangan Alya menunjuk seseorang yang tergeletak tidak jauh dari sana. Erik segera menghampiri seseorang yang di tunjuk oleh Alya, Ia memeriksa denyut nadinya dan masih terasa disana.
..." Dia nampak lemah, apa dia sakit " Gumam Erik....
" Lepaskan dia, kau tidak berhak menyentuhnya setelah semua yang sudah kalian lakukan padanya selama ini "
Terdengar suara dari luar pintu, nampak dua orang memasuki ruangan itu.
..." Apa maksudmu Hendra " Tanya Hendrik bingung....
Oma Laurent yang baru saja tiba disana juga ikut mendekat.
..." Erik, bawa ke RS seperti nya dia butuh penanganan serius " Titah Oma Laurent....
Meskipun Ia tidak mengenalnya tapi sebagai sesama manusia hati nuraninya mengatakan gadis itu membutuhkan bantuan.
...Tanpa menunggu lama Erik segera mengangkat tubuh ringkih itu, Ia tidak mempedulikan suara dari Hendra yang terus melarang nya membawa gadis itu keluar dari rumahnya....
" Berhenti, kalian mau bawa dia kemana. Hei berhenti "
Terdengar langkah kaki bersahut sahutan menggema di dalam rumah itu juga suara Hendra yang tidak henti hentinya berteriak menyerukan agar mereka berhenti.
" Untuk apa kalian peduli dengannya ha, bukankah selama ini kalian tidak peduli apakah dia mau hidup atau mati " Kesabaran Hendra mungkin sudah pada puncaknya, tidak ada jalan lain selain mengatakan itu.
Erik, Oma bahkan Hendrik sontak menghentikan langkahnya. Mereka merasa terganggu dengan ucapan Hendra
__ADS_1